Nekat Ganti BBM dari Pertamina Dex ke Biosolar? Ini Risiko untuk Mobil Diesel
Suarapecari.com – Melonjaknya harga minyak dunia akibat tekanan ekonomi global ikut berdampak pada harga bahan bakar kendaraan, termasuk solar untuk mobil diesel.
Harga bahan bakar diesel nonsubsidi seperti Pertamina Dex dan Dexlite yang terus naik membuat sebagian pengguna kendaraan diesel mulai mempertimbangkan beralih ke bahan bakar subsidi seperti Biosolar demi menekan pengeluaran.
Namun, keputusan menurunkan kualitas bahan bakar dari solar dengan cetane tinggi ke Biosolar disebut memiliki risiko terhadap performa dan kesehatan mesin, terutama pada mobil diesel modern berteknologi common rail.
Pemilik bengkel Jakarta Diesel Squad, Erick Budiman, mengatakan penggunaan Biosolar pada mobil yang sebelumnya rutin memakai Pertamina Dex berpotensi memicu berbagai masalah teknis.
“Menurunkan penggunaan bahan bakar pada mobil diesel jelas akan berdampak dan berpotensi meningkatkan masalah teknis,” ujar Erick, dikutip dari GridOto. (12/5/2026)
Menurutnya, komponen yang paling rentan terdampak adalah injektor, khususnya pada mesin diesel common rail yang membutuhkan bahan bakar berkualitas lebih baik.
Sulfur Tinggi Bisa Memicu Kerusakan Injektor
Biosolar diketahui memiliki kadar sulfur lebih tinggi dibanding solar nonsubsidi. Kandungan sulfur yang mencapai sekitar 2.500 ppm dinilai dapat mempercepat munculnya kerak dan kotoran pada sistem bahan bakar.
Dalam jangka panjang, lubang injektor dapat tersumbat akibat endapan tersebut. Kondisi ini tidak hanya mempengaruhi performa mesin, tetapi juga membuat konsumsi bahan bakar menjadi kurang efisien.
Selain itu, tenaga mesin juga bisa mengalami penurunan. Hal itu dipengaruhi oleh angka cetane Biosolar yang berada di kisaran 48, lebih rendah dibanding Pertamina Dex yang memiliki cetane sekitar 51.
Semakin tinggi angka cetane, proses pembakaran pada mesin diesel umumnya menjadi lebih sempurna dan respons mesin terasa lebih halus.
Risiko Endapan pada Tangki dan Filter Solar
Penggunaan Biosolar juga disebut lebih berisiko menimbulkan endapan di dalam tangki bahan bakar, terutama jika kendaraan jarang digunakan.
Endapan tersebut dapat mempercepat kotornya filter solar dan membuat sistem bahan bakar bekerja lebih berat dibanding penggunaan solar berkualitas tinggi.
Akibatnya, pemilik kendaraan kemungkinan harus lebih sering melakukan penggantian filter maupun perawatan sistem injeksi agar performa mesin tetap optimal.
Meski demikian, penggunaan Biosolar sebenarnya tetap aman selama sesuai dengan spesifikasi kendaraan dan dibarengi perawatan berkala. Namun, untuk mobil diesel modern dengan teknologi injeksi presisi tinggi, penggunaan bahan bakar berkualitas lebih baik tetap disarankan demi menjaga usia komponen mesin.
Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.







