Seminar Cheng Ho Perkuat Dialog Peradaban Indonesia-Tiongkok

Seminar Cheng Ho Perkuat Dialog Peradaban Indonesia-Tiongkok

Suara Pecari | Jakarta – Seminar Internasional Inisiatif Peradaban Global dan Semangat Cheng Ho menjadi momentum penting dalam memperkuat dialog antar peradaban Indonesia dan Tiongkok. Forum yang digelar di Jakarta pada Selasa, 30 Juni 2026 ini tidak hanya menjadi ajang diskusi akademik, tetapi juga mendorong kerja sama konkret di bidang pendidikan, budaya, penelitian, serta komunikasi internasional kedua negara. Lebih dari 60 akademisi, pakar, dosen, mahasiswa, dan praktisi dari Indonesia dan Tiongkok hadir untuk membahas nilai-nilai Inisiatif Peradaban Global serta relevansi semangat Cheng Ho di era kontemporer.

Latar Belakang dan Signifikansi Seminar

Seminar ini merupakan bagian dari rangkaian kegiatan budaya bertajuk “Pelayaran Cheng Ho Sang Duta Persahabatan Dunia” yang diselenggarakan oleh Kantor Informasi dan Kantor Urusan Luar Negeri Pemerintah Provinsi Yunnan. Pemilihan tema Cheng Ho bukan tanpa alasan. Laksamana Cheng Ho, yang pada abad ke-15 memimpin tujuh pelayaran besar dari Tiongkok ke berbagai wilayah Asia, Afrika, dan Timur Tengah, dikenal sebagai simbol perdamaian, pertukaran budaya, dan keterbukaan. Di Indonesia, Cheng Ho juga dihormati sebagai tokoh yang membawa pengaruh besar dalam akulturasi budaya, terutama di Semarang, Cirebon, dan berbagai daerah pesisir lainnya.

Seminar ini menjadi relevan di tengah meningkatnya kebutuhan akan dialog peradaban yang konstruktif di tengah tantangan global seperti polarisasi politik, kesenjangan ekonomi, dan krisis lingkungan. Inisiatif Peradaban Global yang digaungkan Tiongkok menekankan pentingnya saling menghormati, keadilan, dan kerja sama yang saling menguntungkan. Melalui forum ini, para peserta berharap dapat merumuskan langkah-langkah konkret untuk memperkuat hubungan antar masyarakat (people-to-people connectivity) kedua negara.

Poin-Poin Penting dari Seminar

  • Pembentukan Basis Pakar Komunikasi Internasional China Newsweek South Asia Edition-Bridge Era, yang menghimpun lebih dari 20 akademisi dan pakar komunikasi internasional dari Tiongkok, Indonesia, Sri Lanka, Nepal, dan negara-negara Asia Selatan dan Asia Tenggara lainnya. Basis ini bertujuan mendorong pertukaran peradaban dan kolaborasi komunikasi internasional di kawasan.
  • Pengumuman program kerja sama pendidikan antara Yunnan Normal University dan sekolah tiga bahasa Wenjiao di Bali, yang merupakan bagian dari Program Heart-to-Heart Connectivity-Yunnan. Program ini juga mendukung pengembangan pertanian hijau di Bali.
  • Diskusi panel yang menyoroti pentingnya narasi bersama lintas peradaban, di mana komunikasi internasional harus bergerak dari sekadar penyampaian informasi menuju pembentukan pemahaman bersama.
  • Usulan digitalisasi arsip sejarah Cheng Ho di Semarang, Cirebon, dan lokasi lainnya untuk dijadikan basis data multibahasa yang dapat diakses publik internasional.

Pandangan Para Ahli

Profesor Liu Liqiong, salah satu pembicara kunci, menekankan bahwa Inisiatif Peradaban Global mendukung pertukaran antarmasyarakat dan kerja sama lintas budaya. Ia mencontohkan kolaborasi Yunnan dan Indonesia melalui Program Heart-to-Heart Connectivity-Yunnan di Bali, yang tidak hanya fokus pada pertanian hijau tetapi juga kerja sama pendidikan antara Yunnan Normal University dan sekolah Wenjiao. Sekolah tiga bahasa yang berada di Bali ini menjadi model kolaborasi pendidikan yang diharapkan dapat direplikasi di daerah lain.

Sementara itu, Profesor Shan Xiaohong dalam sesi diskusi panel menyatakan bahwa komunikasi internasional kini berkembang menuju pembentukan narasi bersama lintas peradaban. Menurutnya, tantangan terbesar adalah bagaimana membangun kepercayaan dan saling pengertian di tengah perbedaan budaya dan kepentingan nasional. Ia mengapresiasi semangat Cheng Ho yang mengajarkan tentang keterbukaan dan perdamaian, yang dapat menjadi inspirasi bagi komunikasi internasional modern.

Peneliti BRIN Dr. Thung Julan menyebut pelayaran Cheng Ho meninggalkan warisan persahabatan bagi masyarakat Nusantara. Ia menekankan bahwa hubungan antar masyarakat merupakan pondasi utama keberlanjutan hubungan bilateral Indonesia dan Tiongkok. “Tanpa pemahaman yang kuat di tingkat akar rumput, hubungan diplomatik hanya akan menjadi formalitas belaka,” ujarnya. Ia juga menyoroti pentingnya penelitian sejarah yang lebih mendalam untuk mengungkap jejak-jejak Cheng Ho di Nusantara.

Co-Founder Gentala Institute Christine Susanna Tjhin mengusulkan pembentukan kelompok kerja bersama Indonesia dan Tiongkok yang melibatkan perguruan tinggi, lembaga riset, serta media dari kedua negara. Salah satu usulan konkretnya adalah digitalisasi arsip sejarah Cheng Ho di Semarang, Cirebon, dan lokasi lainnya. Arsip tersebut diharapkan menjadi basis data multibahasa yang dapat diakses masyarakat internasional, sehingga memudahkan penelitian dan publikasi sejarah bersama.

Dampak dan Implikasi

Seminar ini memiliki dampak yang luas, tidak hanya bagi hubungan bilateral Indonesia-Tiongkok, tetapi juga bagi kawasan Asia Tenggara dan Asia Selatan. Berikut adalah beberapa dampak dan implikasinya:

Bidang Dampak Langsung Implikasi Jangka Panjang
Pendidikan Kerja sama Yunnan Normal University dan sekolah Wenjiao di Bali Model pendidikan tiga bahasa dapat direplikasi di daerah lain, meningkatkan kompetensi multibahasa siswa.
Penelitian Pembentukan Basis Pakar Komunikasi Internasional Mendorong penelitian bersama tentang sejarah dan budaya Cheng Ho, serta komunikasi internasional di Asia.
Budaya Digitalisasi arsip sejarah Cheng Ho Menyediakan akses global terhadap warisan budaya bersama, memperkuat identitas budaya dan pariwisata.
Ekonomi Program pertanian hijau di Bali Meningkatkan praktik pertanian berkelanjutan dan membuka peluang investasi hijau.
Komunikasi Internasional Narasi bersama lintas peradaban Mengurangi kesalahpahaman antarnegara, meningkatkan citra positif Indonesia dan Tiongkok di kancah global.

Kronologi Peristiwa

Berikut adalah kronologi singkat terkait seminar dan rangkaian kegiatannya:

  • 2025: Pemerintah Provinsi Yunnan merencanakan rangkaian kegiatan budaya “Pelayaran Cheng Ho Sang Duta Persahabatan Dunia” sebagai bagian dari program Heart-to-Heart Connectivity.
  • Awal 2026: Tim persiapan seminar dibentuk, melibatkan akademisi dari Indonesia dan Tiongkok. Fokus utama adalah Inisiatif Peradaban Global dan semangat Cheng Ho.
  • 30 Juni 2026: Seminar Internasional digelar di Jakarta, dihadiri lebih dari 60 peserta. Diskusi panel dan pengumuman pembentukan Basis Pakar Komunikasi Internasional dilakukan.
  • Pasca Seminar: Rencana tindak lanjut termasuk digitalisasi arsip Cheng Ho dan pengembangan program pendidikan di Bali. Kelompok kerja bersama akan dibentuk dalam waktu dekat.

Seminar ini menjadi langkah awal yang signifikan dalam memperkuat dialog peradaban antara Indonesia dan Tiongkok. Dengan adanya Basis Pakar Komunikasi Internasional dan program kerja sama konkret, diharapkan hubungan kedua negara tidak hanya berhenti pada tingkat diplomatik, tetapi juga merasuk ke dalam kesadaran masyarakat luas. Semangat Cheng Ho yang mengedepankan perdamaian dan keterbukaan menjadi fondasi yang kokoh untuk membangun masa depan bersama yang lebih harmonis.

Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial Suara Pecari.

Tinggalkan Balasan