Danone Hadapi Kontroversi Label Produk, Lingkungan, dan Penarikan di Berbagai Pasar

Mustakim
Danone Hadapi Kontroversi Label Produk, Lingkungan, dan Penarikan di Berbagai Pasar

Suara Pecari – 18 April 2026 | Danone Indonesia mengklarifikasi penggunaan gambar balita pada kemasan bundling Aqua, menegaskan gambar itu merupakan label sekunder, bukan label utama produk.

Penjelasan ini muncul setelah sorotan media sosial yang menafsirkan gambar tersebut sebagai promosi khusus untuk balita.

Arif Mujahidin, Direktur Corporate Communications Danone Indonesia, menyatakan bahwa label sekunder berfungsi untuk distribusi bundling enam botol Aqua 1,5 liter dan menampilkan ilustrasi keluarga secara keseluruhan.

Ia menambahkan tidak ada klaim bahwa produk tersebut ditujukan bagi bayi atau balita.

Menurut Arif, semua informasi pada label utama botol telah memenuhi regulasi BPOM, sedangkan label sekunder hanya tambahan untuk identifikasi produk dalam penjualan paket.

Aqua juga melakukan peninjauan internal untuk memastikan kepatuhan dan membuka diri pada masukan publik.

Di Indonesia, pengamat komunikasi menilai kasus ini menekankan pentingnya melihat konteks visual secara utuh, mengingat potongan gambar dapat menimbulkan persepsi keliru.

Mereka mengingatkan praktik komunikasi yang bertanggung jawab harus menghindari interpretasi parsial.

Sementara itu, di Eropa, Danone menghadapi kritik terkait rencana ekspansi pabrik air minum Harrogate Spring Water di North Yorkshire, Inggris.

Rencana tersebut melibatkan pembangunan fasilitas di atas hutan komunitas seluas 500 pohon, memicu penolakan dari warga dan dewan lokal.

Dewan kota North Yorkshire menolak proposal tersebut setelah mendengar keberatan warga yang menilai proyek akan merusak ekosistem dan mengurangi ruang hijau.

Kritik juga menyebutkan bahwa kebijakan hutan Danone dianggap tidak konsisten dengan komitmen keberlanjutan perusahaan.

Penolakan tersebut memperparah citra Danone di mata publik internasional, terutama setelah perusahaan sebelumnya menghadapi tekanan serupa terkait kebijakan hutan di negara lain.

Observators mencatat bahwa perusahaan harus menyeimbangkan pertumbuhan produksi dengan pelestarian lingkungan.

Di Austria, produsen makanan bayi HiPP menarik kembali seluruh lini selai bayi setelah diduga adanya zat berbahaya yang dapat ditambahkan melalui tampering.

Meskipun kasus ini melibatkan HiPP, otoritas Austria mengaitkan kembali ke insiden serupa yang menimpa Danone pada Februari lalu.

Pada Februari, Danone menarik lebih dari 120 batch susu formula infant di Austria dan Jerman setelah Badan Pengawas Obat dan Makanan setempat menemukan potensi kontaminasi.

Penarikan tersebut menimbulkan kekhawatiran tentang keamanan produk bayi di pasar Eropa.

Otoritas Austria menegaskan bahwa tidak ada detail lebih lanjut mengenai zat berbahaya yang dimaksud, namun mengimbau konsumen untuk tidak mengonsumsi produk yang teridentifikasi dan mengembalikannya ke penjual.

Kasus ini menambah tekanan regulasi terhadap produsen makanan bayi internasional.

Kombinasi isu label di Indonesia, penolakan lingkungan di Inggris, dan penarikan produk di Eropa menggambarkan tantangan reputasi global yang dihadapi Danone.

Perusahaan harus mengelola komunikasi krisis secara simultan di beberapa pasar.

Danone berjanji akan memperkuat prosedur kontrol kualitas dan meninjau kebijakan pemasaran untuk memastikan tidak terjadi penyalahgunaan visual atau pelanggaran lingkungan.

Pernyataan resmi menekankan komitmen perusahaan terhadap transparansi dan tanggung jawab sosial.

Pengamat industri menilai bahwa langkah-langkah perbaikan harus disertai audit independen agar publik dapat memulihkan kepercayaan terhadap merek.

Mereka menambahkan bahwa regulasi yang lebih ketat mungkin diperlukan untuk mencegah insiden serupa di masa depan.

Hingga kini, Danone terus berupaya menanggapi kritik sambil mempertahankan pertumbuhan bisnisnya, namun tekanan dari konsumen, regulator, dan aktivis lingkungan menuntut perubahan kebijakan yang lebih berkelanjutan.

Situasi ini menandai fase penting dalam upaya perusahaan mempertahankan kredibilitas global.

Tinggalkan Balasan