Nilai Tukar Ringgit Terus Merangkak, Biaya Liburan ke Malaysia Membengkak

Nilai Tukar Ringgit Terus Merangkak, Biaya Liburan ke Malaysia Membengkak

Suara Pecari | Nilai tukar Ringgit Malaysia terhadap Rupiah terus mencatatkan penguatan signifikan dalam beberapa pekan terakhir. Berdasarkan data Bank Indonesia, pada 19 Mei 2026, satu Ringgit Malaysia setara dengan Rp4.479, naik dari posisi Rp4.408 pada 30 April lalu. Kenaikan ini membuat daya beli wisatawan Indonesia di Malaysia semakin tergerus.

Penguatan Ringgit terjadi bersamaan dengan lonjakan harga tiket pesawat rute Indonesia ke Malaysia. Tiket penerbangan Medan-Kuala Lumpur disebut naik dua kali lipat hingga Rp800.000 per tiket, sementara rute Medan-Penang naik Rp200.000 menjadi Rp600.000. Kombinasi kurs tinggi dan tiket mahal membuat biaya liburan ke Malaysia membengkak.

Warga Medan, Suci, yang baru pulang liburan dari Penang mengaku pengeluarannya jauh lebih besar dibanding tahun lalu. Ia biasanya cukup membawa Rp4 juta untuk empat hari, tetapi kini harus mengeluarkan Rp5 juta lebih. Kiki, warga Medan lainnya, memilih menunda perjalanan ke Kuala Lumpur karena harga tiket pesawat pulang-pergi mencapai Rp1,6 juta.

Baca juga:

Pelemahan Rupiah terhadap Ringgit tidak berdiri sendiri, melainkan bagian dari tekanan global yang lebih luas. Nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS pada hari yang sama ditutup melemah 0,22% ke level Rp17.700. Analis Lukman Leong dari Doo Financial Futures menyebut sentimen risk-off global dan kenaikan harga minyak mentah menjadi pemicu utama.

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo dalam rapat dengan Komisi XI DPR menyatakan bahwa level Rupiah saat ini masih di bawah nilai fundamentalnya. Menurut Perry, nilai fundamental Rupiah berdasarkan asumsi makro APBN berada di kisaran Rp16.500, sehingga tekanan saat ini bersifat musiman. Ia optimistis Rupiah akan kembali menguat pada Juli-Agustus mendatang.

Baca juga:

Di sisi domestik, pasar ekuitas masih tertekan akibat aksi jual investor, yang turut membebani pergerakan Rupiah. Pelaku pasar kini menantikan hasil Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia, yang diperkirakan akan menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin untuk menjaga stabilitas. Kenaikan suku bunga diharapkan mampu mengembalikan kepercayaan investor terhadap prospek ekonomi Indonesia.

Sementara itu, ketegangan geopolitik global seperti konflik AS-Iran dan ketidakpastian hasil pertemuan pemimpin China-AS semakin memperburuk sentimen pasar. Kenaikan harga minyak dunia akibat eskalasi konflik menjaga tekanan inflasi global tetap tinggi, sehingga investor cenderung beralih ke aset safe haven seperti Dolar AS. Akibatnya, mata uang emerging market termasuk Rupiah terus tertekan.

Baca juga:

Bagi wisatawan yang tetap berencana liburan ke Malaysia, disarankan memantau pergerakan kurs secara berkala dan memilih money changer dengan rate terbaik sebelum berangkat. Daya beli Rupiah di Malaysia saat ini lebih lemah dibanding periode sebelumnya, sehingga biaya makan, belanja, dan tiket wisata akan terasa lebih mahal. Kombinasi penguatan Ringgit dan kenaikan harga tiket membuat Malaysia tidak lagi menjadi destinasi luar negeri yang murah meriah bagi pelancong Indonesia.

Pelemahan Rupiah terhadap Ringgit dan Dolar AS mencerminkan tekanan eksternal dan domestik yang masih kuat. Meskipun Bank Indonesia optimistis nilai tukar akan kembali ke fundamentalnya, dalam jangka pendek wisatawan dan pelaku usaha harus bersiap menghadapi biaya yang lebih tinggi.

Baca juga:

Artikel ini dipublikasikan oleh Suara Pecari.

Baca juga:

Tinggalkan Balasan