Israel Lanjutkan Serangan di Lebanon Selatan Usai Negosiasi Bersejarah di Washington
Suara Pecari – 16 April 2026 | Israel melanjutkan serangan udara ke Lebanon selatan pada Rabu, satu hari setelah pertemuan diplomatik bersejarah antara pejabat Lebanon dan Israel di Washington.
Pasir menebar asap tebal di atas kota Tyre, menandakan bahwa upaya diplomatik belum dapat menghentikan aksi militer.
Serangan tersebut menargetkan posisi Hezbollah, meski Israel belum mengumumkan jumlah korban jiwa secara resmi.
Di Tyre, penduduk yang sebelumnya menjadikan kota itu sebagai tempat pengungsian kini menghadapi perintah evakuasi baru, sementara banyak rumah masih hancur.
Pagi itu, 19‑tahun‑Ghadir Baalbaki tewas dalam serangan drone Israel di luar pusat kota; ia ditemukan tergeletak di tanah berdebu.
Saudara perempuannya, Mariam Hamoud, mengaku memeluk korban dengan harapan ia hanya pingsan, lalu berusaha menghidupkannya kembali tanpa hasil.
Ayah Ghadir, Mohammed Baalbaki, berduka di pemakaman sementara, menuturkan bahwa keluarga tidak dapat kembali ke desa asal karena garis depan yang terus bergeser.
Menurut militer Israel, lebih dari 200 sasaran Hezbollah telah dihancurkan dalam 24 jam terakhir, sementara kelompok bersenjata menanggapi dengan menembakkan roket ke wilayah utara Israel dan ke kota Khiam dekat perbatasan.
Hezbollah menuduh pemerintah Lebanon menampakkan citra memalukan dengan bernegosiasi langsung dengan Israel di tengah penembakan yang menewaskan warga sipil.
Anggota parlemen Hezbollah, Hassan Fadlallah, menuntut referendum publik mengenai keberadaan persenjataan kelompok, mengklaim mayoritas rakyat mendukung perlawanan bersenjata.
Di Beirut, pendapat warga terbagi; sebagian menilai perundingan tidak mewakili aspirasi rakyat, sementara yang lain berharap dialog dapat mempercepat penghentian konflik.
Salah satu pengungsi dari selatan, Mustafa Alaa Al‑Din, menyatakan rasa frustrasinya, berkata bahwa perundingan seakan tidak pernah terjadi bagi mereka yang kehilangan rumah.
Sebaliknya, Mohamed Saad, seorang warga Beirut, menilai bahwa setiap inisiatif yang dapat mengakhiri kehancuran lebih penting daripada kepentingan militer Israel.
Negosiasi Washington, yang dimediasi oleh Amerika Serikat, merupakan pertemuan tingkat tinggi pertama sejak 1993, menyoroti isu penarikan senjata Hezbollah dan pembagian zona keamanan di selatan Lebanon.
Pihak Israel mengusulkan tiga zona keamanan: zona pertama hingga delapan kilometer dari perbatasan dikuasai militer Israel, zona kedua hingga Sungai Litani dikelola bersama, dan zona ketiga di utara Sungai Litani berada di bawah kontrol militer Lebanon.
Rencana tersebut juga mencakup pembangunan kembali zona penyangga di wilayah selatan sebagai langkah jangka panjang untuk mengurangi ketegangan lintas batas.
Sementara itu, laporan dari sumber lokal mengabarkan tiga paramedis tewas dalam serangan beruntun di wilayah yang sama, menambah beban kemanusiaan bagi tim penyelamat.
Pejabat Israel menyatakan bahwa operasi militer akan terus berlanjut hingga tujuan penurunan kemampuan Hezbollah tercapai, meski Presiden Netanyahu mengindikasikan kemungkinan gencatan senjata jika Lebanon bersedia mengakhiri aktivitas bersenjata.
Pemerintah Lebanon tetap menekankan pentingnya kedaulatan penuh atas wilayah selatan dan menolak setiap bentuk pendudukan atau kontrol militer asing.
Situasi di perbatasan tetap tegang, dengan warga terus dipaksa mengungsi, infrastruktur kritis rusak, dan layanan kesehatan terganggu akibat serangan berulang.
Para analis menilai bahwa meskipun pertemuan Washington membuka peluang diplomatik, ketidakpercayaan mendalam antara kedua belah pihak dapat memperpanjang konflik jika tidak ada jaminan keamanan yang jelas.
Dengan ribuan orang mengungsi dan lebih dari ratusan bangunan hancur, tekanan internasional untuk mencapai gencatan senjata semakin kuat.
Namun, hingga kini belum ada kesepakatan akhir; baik Israel maupun Hezbollah terus menyiapkan operasi militer sambil melanjutkan dialog terbuka di belakang layar.
Kondisi ini menegaskan bahwa masa depan Lebanon masih tergantung pada kemampuan para pemimpin untuk menyatukan kepentingan keamanan nasional dengan harapan rakyat akan perdamaian.
Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.







