Warga Lebanon Berusaha Pulang di Bawah Gencatan Senjata, Jembatan Hancur Dibom Israel

Okto Harmoko
Warga Lebanon Berusaha Pulang di Bawah Gencatan Senjata, Jembatan Hancur Dibom Israel

Suara Pecari – 20 April 2026 | Israel menegakkan zona “garis kuning” di perbatasan selatan Lebanon setelah gencatan senjata sepuluh hari mulai berlaku pada 16 April 2026.

Langkah itu menandai pertama kalinya militer Israel menggunakan istilah tersebut di luar Gaza.

Zona tersebut dimaksudkan untuk memantau pergerakan militer dan menandai wilayah yang dianggap mengancam pasukan Israel.

Pihak Israel menyatakan akan menembak siapa pun yang melanggar batas dalam 24 jam terakhir.

Meskipun gencatan senjata berlaku, artileri Israel terus menargetkan kota-kota perbatasan seperti Beit Leif, Qantara, dan Touline.

Serangan itu menewaskan setidaknya 773 orang dan melukai lebih dari 2.000 warga sipil.

Rumah-rumah di daerah yang dikendalikan militer Israel juga diratakan, menambah beban korban.

Di sisi lain, warga Lebanon yang menunggu di wilayah perbatasan berusaha menyeberangi sungai untuk kembali ke rumah.

Satu jembatan utama yang menghubungkan desa-desa tepi sungai hancur setelah dibom oleh artileri Israel.

Ribuan warga terpaksa menempuh jalur alternatif yang lebih berbahaya demi menghindari tembakan.

Hizbullah menegaskan bahwa gencatan senjata tidak dapat dipertahankan jika hanya satu pihak yang mematuhinya.

Naim Qassem menambahkan bahwa Israel harus mundur sepenuhnya dari Lebanon untuk menjaga stabilitas.

Dia juga menuntut pembebasan tahanan dan bantuan internasional untuk rekonstruksi wilayah perbatasan.

Jurnalis Al Jazeera, Nour Odeh, memperkirakan Israel ingin memperluas pola “garis kuning” seperti di Gaza ke Lebanon selatan.

Odeh mencatat perintah penghancuran desa-desa perbatasan telah dikeluarkan oleh Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz.

Militer Israel menegaskan serangan dilakukan sebagai respons terhadap kelompok yang mendekati posisi mereka.

Mereka menolak bahwa tindakan tersebut melanggar gencatan senjata yang telah disepakati.

PBB mencatat lebih dari 10.000 pelanggaran gencatan senjata oleh Israel sejak November 2024.

Data tersebut mencakup ratusan korban di pihak Lebanon dan kerusakan infrastruktur kritis.

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengindikasikan pertemuan antara Benjamin Netanyahu dan Joseph Aoun di Washington dalam dua minggu ke depan.

Pertemuan itu diharapkan membahas mekanisme penghentian pertempuran dan penarikan pasukan Israel.

Hizbullah menyatakan siap bekerja sama dengan pemerintah Lebanon dalam upaya rekonstruksi nasional.

Mereka menuntut dukungan negara-negara Arab untuk mendanai proyek pembangunan kembali rumah dan fasilitas publik.

Militer Israel tetap mengawasi pergerakan di utara garis kuning, menilai adanya ancaman langsung terhadap pasukannya.

Pasukan Israel mengklaim telah mengidentifikasi pergerakan yang dianggap berbahaya dalam 24 jam terakhir.

Sejumlah rumah di wilayah yang berada di bawah kontrol militer Israel telah hancur, menambah jumlah pengungsi internal.

Kondisi ini memicu kekhawatiran internasional mengenai dampak kemanusiaan jangka panjang.

Organisasi hak asasi manusia menyoroti kurangnya akses bantuan kemanusiaan ke daerah yang terdampak.

Upaya pengungsi kembali ke rumah masih terhambat oleh kerusakan jembatan dan rintangan militer.

Beberapa warga melaporkan menggunakan perahu kecil untuk menyeberangi sungai meski risiko tembakan tinggi.

Situasi ini memperparah ketegangan di antara komunitas lokal yang telah lama hidup berdampingan.

Para analis politik menilai bahwa penerapan “garis kuning” di Lebanon merupakan strategi kontrol wilayah baru Israel.

Mereka mengingatkan bahwa kebijakan serupa di Gaza telah menimbulkan kritik luas dari komunitas internasional.

Meski demikian, Israel tetap bersikukuh bahwa langkah tersebut diperlukan untuk keamanan nasional.

Dengan gencatan senjata yang rapuh, prospek perdamaian jangka panjang di perbatasan Lebanon‑Israel masih belum pasti.

Kondisi ini menuntut dialog yang melibatkan semua pihak dan dukungan internasional untuk menghindari eskalasi lebih lanjut.

Tinggalkan Balasan