Israel Kejar Bint Jbeil, Sekjen PBB Desak Negosiasi Langsung dengan Lebanon

Avatar
Israel Kejar Bint Jbeil, Sekjen PBB Desak Negosiasi Langsung dengan Lebanon

Suara Pecari – 16 April 2026 | Israel terus mengirimkan serangan udara ke selatan Lebanon meskipun perundingan sedang berlangsung di Washington. Kota Bint Jbeil, yang terletak di dekat perbatasan, kini dikepung pasukan darat Israel.

Menurut laporan Al Jazeera, pada Rabu 15 April 2026, pesawat tempur Israel menargetkan puluhan titik di wilayah Tirus dan Al‑Abbasiyya, menewaskan dua warga sipil. Serangan tersebut menambah tekanan pada pemerintah Lebanon yang tengah berusaha menstabilkan situasi.

Pasukan darat Israel menempatkan ribuan tentara di wilayah selatan Lebanon dan berupaya maju ke zona yang mereka sebut “garis anti‑tank”. Tujuannya adalah meminimalisir kemampuan roket Hizbullah menembak ke arah Israel.

Fokus operasi terbaru adalah pengepungan Bint Jbeil selama beberapa hari terakhir. Satelit memperlihatkan barisan tank Israel mengelilingi pusat kota, sementara laporan lokal menyebut adanya ledakan pada bangunan rumah.

Pihak militer Israel mengklaim bahwa pengepungan sudah selesai dan kota akan berada di bawah kontrol penuh dalam beberapa hari ke depan. Mereka juga melaporkan pemasangan bahan peledak pada rumah‑rumah untuk mencegah serangan balik.

Sementara itu, Sekjen Perserikatan Bangsa‑Bangsa Antonio Guterres menekankan perlunya dialog antara Beirut dan Tel Aviv. Guterres menyampaikan harapannya bahwa perundingan di Washington dapat menghentikan eskalasi militer.

Dalam konferensi pers di New York, Guterres menegaskan bahwa “kekerasan tidak dapat menjadi jalan keluar” dan menyerukan kedua belah pihak menurunkan senjata. Ia menambah, komunitas internasional siap memfasilitasi proses damai.

Duta Besar Amerika Serikat untuk Israel, Yechiel Leiter, dan Duta Besar Lebanon untuk AS, Nada Hamadeh Moawad, bertemu di Departemen Luar Negeri Washington pada Selasa 14 April. Kedua diplomat melaporkan diskusi produktif mengenai langkah selanjutnya.

Juru bicara Kedutaan Besar AS, Tommy Pigott, mengonfirmasi bahwa pertemuan menghasilkan kesepakatan untuk memulai negosiasi langsung dalam waktu dekat. Ia menegaskan bahwa dukungan logistik AS akan tetap tersedia bagi proses tersebut.

Konflik yang meletus pada awal Maret 2026 dipicu oleh serangan roket Hizbullah yang didukung Iran terhadap wilayah Israel. Sejak itu, Israel melancarkan operasi balasan yang menewaskan lebih dari dua ribu orang di Lebanon.

Pengungsian massal terjadi, dengan lebih dari satu juta warga Lebanon mengungsi ke kamp‑pengungsian dan wilayah pedesaan yang lebih aman. Infrastruktur sipil, termasuk rumah, sekolah, dan rumah sakit, mengalami kerusakan parah.

Di sisi lain, Amerika Serikat menampilkan kekuatan militer dengan kapal induk nuklir USS Abraham Lincoln yang berlayar di Laut Mediterania. Kehadiran kapal induk dimaksudkan sebagai sinyal deterrence bagi pihak‑pihak yang terlibat.

Kapal induk tersebut dilengkapi dengan pesawat tempur F‑35 dan F‑18 yang dapat melakukan operasi udara lintas wilayah. Penempatan kapal ini memperkuat posisi AS dalam menegakkan stabilitas regional.

Analis militer menilai bahwa kehadiran USS Abraham Lincoln menambah tekanan diplomatik pada Israel untuk menahan agresi lebih lanjut. Namun, mereka juga mengingatkan bahwa kekuatan keras tidak menggantikan kebutuhan dialog.

Pemerintah Lebanon menolak setiap bentuk intervensi militer asing di wilayahnya dan menegaskan kedaulatan nasional. Menteri Luar Negeri Lebanon menambah bahwa mereka siap bernegosiasi asalkan Israel menghentikan serangan.

Hizbullah, yang memegang peran utama dalam konflik, mengklaim bahwa mereka akan terus membela wilayah selatan Lebanon. Pihaknya mengkritik upaya Israel menguasai Bint Jbeil sebagai pelanggaran hukum humaniter.

Sementara itu, organisasi kemanusiaan internasional melaporkan kesulitan mengirim bantuan ke daerah yang dikepung. Jalur pasokan utama terputus akibat tembakan dan penempatan ranjau.

Upaya mediasi oleh Uni Eropa dan Arab League juga sedang digalakkan, dengan harapan menemukan solusi yang dapat menghentikan pertempuran. Kedua entitas menyoroti pentingnya menurunkan intensitas tembak sebelum gencatan senjata.

Observasi satelit terbaru menunjukkan penurunan aktivitas artileri di sekitar Bint Jbeil pada malam terakhir, memberi sinyal potensi jeda sementara. Namun, situasi di perbatasan tetap rawan dengan kemungkinan serangan balik.

Kondisi di selatan Lebanon tetap tidak menentu, dengan warga sipil menanti hasil negosiasi yang dijanjikan. Semua pihak diharapkan mempercepat dialog untuk menghindari eskalasi lebih luas.

Tinggalkan Balasan