Super El Nino Resmi Tiba: Ancaman Terkuat dalam Sejarah Mengintai Dunia
Suara Pecari | Fenomena Super El Nino resmi datang, berpotensi jadi yang terkuat dalam sejarah. Badan Kelautan dan Atmosfer Nasional Amerika Serikat (NOAA) mengonfirmasi terbentuknya El Nino di Samudra Pasifik pada Kamis (11/6/2026). Fenomena pemanasan suhu permukaan laut ini diperkirakan menjadi salah satu yang terkuat sejak 1950, dengan peluang 63 persen berkembang menjadi sangat kuat pada akhir tahun. Para ilmuwan memperingatkan bahwa Super El Nino resmi datang, berpotensi jadi yang terkuat dalam sejarah dan dapat memperparah pemanasan global serta memicu cuaca ekstrem di berbagai belahan dunia.
NOAA menyebut El Nino kali ini dapat menyamai atau melampaui peristiwa 1997 yang memicu gelombang panas, banjir, kekeringan, tornado, dan kebakaran hutan dengan kerugian miliaran dolar. Ilmuwan iklim Clark University Abby Frazier menjelaskan, “El Nino membawa panas dalam jumlah besar ke permukaan laut sehingga mengubah pola cuaca dan meningkatkan risiko berbagai peristiwa cuaca ekstrem.” Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres menyebut El Nino sebagai “peringatan iklim yang mendesak” yang akan menambah bahan bakar pada pemanasan global.
Badan Meteorologi Jepang (JMA) juga telah menyatakan El Nino telah berkembang pada musim semi 2026, mendahului prediksi global lainnya. JMA memperingatkan lonjakan suhu di atas normal di seluruh Jepang, dengan kondisi atmosfer menyerupai tahun 2023. Sementara itu, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memutakhirkan prediksi iklim Indonesia dengan menyebut fenomena Super El Nino resmi datang, berpotensi jadi yang terkuat dalam sejarah dan diperkirakan bertahan hingga awal 2027. Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, mengingatkan masyarakat untuk bersiap menghadapi kemungkinan El Nino kategori kuat yang terjadi bersamaan dengan Indian Ocean Dipole (IOD) positif, yang dikenal sebagai El Nino Godzilla.
BMKG memproyeksikan 46,5 persen wilayah Indonesia memasuki musim kemarau lebih awal, 57,2 persen mengalami kemarau lebih panjang, dan 64,5 persen mengalami kemarau lebih kering dari normal. Pengamat pertanian dari Asosiasi Ekonomi dan Politik Indonesia (AEPI) Khudori menjelaskan bahwa kemarau yang lebih panjang dan kering akan berdampak langsung pada sektor pertanian, terutama tanaman pangan seperti padi, cabai, dan bawang merah. “Kalau ketersediaan air tidak cukup untuk menanam padi, jangan dipaksakan. Petani harus menyesuaikan pola tanam,” ujarnya. Informasi iklim dari BMKG harus cepat tersampaikan ke petani agar mitigasi dapat dilakukan.
Dampak El Nino tidak merata di seluruh dunia. Sebagian wilayah mungkin mendapatkan manfaat, namun sebagian besar menghadapi ancaman cuaca ekstrem. Fenomena El Nino sendiri adalah pemanasan suhu muka laut di Samudra Pasifik tengah hingga timur yang mengurangi curah hujan di Indonesia. Akibatnya, debit sungai, waduk, dan sumber air menurun, menyebabkan kekeringan dan gangguan pasokan air bersih. Sektor pertanian menjadi yang paling rentan, dengan risiko gagal panen yang tinggi.
Kesimpulannya, dengan Super El Nino resmi datang, berpotensi jadi yang terkuat dalam sejarah, dunia harus bersiap menghadapi dampak luas mulai dari cuaca ekstrem hingga krisis pangan. Kolaborasi global dan kesiapsiagaan lokal menjadi kunci untuk meminimalkan kerugian. Masyarakat diimbau memantau informasi cuaca dan mengikuti arahan otoritas terkait.
Artikel ini dipublikasikan oleh Suara Pecari.
Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.











