IRGC Sebut AS dan Israel Gagal Menangkan Perang, Tujuan Utama di Iran Tak Tercapai
Suara Pecari – Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) menyatakan Amerika Serikat dan Israel gagal mencapai tujuan utama dalam konflik yang berlangsung melawan Iran. IRGC menegaskan tekanan militer dan operasi perang informasi yang dilancarkan kedua negara tidak berhasil mematahkan ketahanan Iran maupun memisahkan masyarakat dari sistem politik negara tersebut.
Dalam pernyataannya, IRGC menilai konflik ini justru memperlihatkan keterbatasan kekuatan militer AS dan Israel serta memperburuk posisi keduanya di mata internasional. Upaya untuk memenangkan perang tidak hanya melalui serangan fisik, tetapi juga dengan perang informasi yang bertujuan melemahkan dukungan rakyat Iran terhadap pemerintahnya, yang menurut IRGC terbukti gagal.
Kondisi Perang dan Dampaknya
IRGC menyatakan bahwa hasil konflik menyebabkan perpecahan di antara sekutu Barat dan mempercepat kemerosotan posisi Amerika Serikat dan Israel di dunia. Media yang disebut oleh IRGC sebagai ‘revolutionary media’ berhasil menghadapi kampanye disinformasi selama perang, sehingga mencegah terjadinya isolasi rakyat Iran dari pemerintahannya.
Pernyataan tersebut merupakan bagian dari narasi Iran untuk menggambarkan kegagalan strategi militer dan politik Washington serta Tel Aviv, meskipun klaim-klaim tersebut belum dapat diverifikasi secara independen.
Konteks Perang dan Persepsi Publik
Perang yang berlangsung berbulan-bulan ini telah menurunkan kepercayaan publik di Amerika Serikat terhadap kebijakan pemerintahannya. Survei menunjukkan mayoritas warga AS menilai operasi militer melawan Iran belum mencapai tujuan strategis yang dijanjikan, dan biaya perang dianggap tidak sebanding dengan manfaatnya.
Hal ini menandakan bahwa legitimasi politik di dalam negeri menjadi faktor penting dalam kelangsungan konflik, selain keunggulan militer di medan perang. Ketidakpuasan publik berpotensi mempengaruhi arah dan kebijakan pemerintah dalam konflik ini.
Penutupan Selat Hormuz oleh Iran
Selain itu, Garda Revolusi Iran juga menegaskan tidak akan membuka kembali Selat Hormuz, jalur strategis perairan internasional, sampai Amerika Serikat memenuhi sejumlah syarat yang diajukan Teheran. Syarat tersebut termasuk kompensasi atas kerusakan akibat perang, penghentian agresi serta blokade, pencabutan sanksi, dan pencairan aset yang dibekukan.
Negosiasi terkait pengelolaan Selat Hormuz dengan Oman telah mencapai tahap akhir, namun pembukaan kembali selat ini sangat bergantung pada pemenuhan syarat-syarat yang diajukan Iran. Selat Hormuz kini dianggap sebagai medan perang strategis, bukan hanya jalur perairan biasa.
Peristiwa ini menambah kompleksitas situasi geopolitik di kawasan dan menegaskan posisi Iran yang tetap kokoh dalam menghadapi tekanan dari Amerika Serikat dan sekutunya.
Dengan berbagai dinamika tersebut, konflik antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel menunjukkan bahwa perang tidak hanya terjadi di medan tempur, melainkan juga dalam ranah politik dan informasi. Ketahanan Iran dalam menghadapi tekanan militer dan propaganda menjadi faktor utama yang menghambat keberhasilan strategi AS dan Israel.
Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial Suara Pecari.









