AS Siapkan Penjualan 40 Ribu Bom Kelas Berat ke Israel
Suara Pecari – Pemerintah Amerika Serikat (AS) tengah memproses penjualan paket amunisi kelas berat senilai 2,8 miliar dolar AS kepada Israel. Paket tersebut berisi sekitar 40 ribu bom udara berdaya ledak tinggi, terdiri dari 20 ribu bom MK-84, 20 ribu bom BLU-117, serta 20 ribu hulu ledak penetrator I-2000 yang dirancang khusus untuk menghancurkan bunker dan struktur beton tebal.
Penjualan ini telah disampaikan secara informal kepada Kongres AS pada pertengahan September 2026 dan didanai melalui skema Foreign Military Financing (FMF), yang memungkinkan Israel menggunakan dana bantuan militer AS untuk membeli persenjataan buatan Amerika. Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio juga memiliki kewenangan darurat untuk mengeksekusi transaksi ini tanpa persetujuan formal dari Kongres.
Spesifikasi dan Dampak Bom Kelas Berat
Bom MK-84 dan BLU-117 memiliki bobot sekitar 907 kilogram (2.000 pon) dan dikenal karena daya hancurnya yang sangat besar. MK-84 mampu menciptakan ledakan dengan radius hingga 300 meter dan meninggalkan kawah sedalam belasan meter. Varian BLU-117 merupakan versi MK-84 yang dilengkapi lapisan termal khusus untuk keamanan penyimpanan di kapal perang. Hulu ledak penetrator I-2000 dirancang untuk menembus lapisan pelindung keras seperti beton dan batuan sebelum meledak dengan jeda waktu, sehingga efektif menghancurkan bunker dan struktur bawah tanah.
Militer Israel telah berulang kali menggunakan bom jenis ini dalam operasi di kawasan padat penduduk seperti Jalur Gaza dan Lebanon. Penggunaan bom kelas berat di area permukiman menimbulkan kekhawatiran besar terkait keselamatan warga sipil dan mendapatkan kritik dari berbagai organisasi hak asasi manusia serta pakar militer.
Konteks Politik dan Respons Kongres AS
Rencana penjualan ini menandai perubahan kebijakan dibandingkan masa pemerintahan sebelumnya. Pada 2024, pemerintahan Joe Biden sempat menunda pengiriman bom MK-84 ke Israel karena kekhawatiran atas korban sipil. Namun, kebijakan tersebut dicabut setelah Donald Trump kembali menjabat sebagai Presiden AS pada awal 2025. Sejak itu, pemerintahan Trump berulang kali menyetujui pengiriman senjata besar kepada militer Israel, termasuk paket amunisi senilai miliaran dolar.
Meskipun demikian, dukungan publik AS terhadap Israel saat ini menurun, dan sebagian anggota Kongres mulai menentang bantuan militer besar-besaran tersebut. Beberapa legislator menilai penjualan bom kelas berat ini berisiko meningkatkan korban sipil di kawasan konflik yang padat penduduk. Senator Chris Van Hollen misalnya, berkomitmen untuk menggalang oposisi terhadap paket penjualan ini.
Implikasi dan Tantangan
Penjualan bom kelas berat ini memperlihatkan dinamika kompleks hubungan AS-Israel, di mana dukungan militer besar tetap diberikan meskipun terdapat ketegangan politik dan kritik yang meningkat. Paket amunisi tersebut bisa dilihat sebagai sinyal kepercayaan Washington kepada Israel, meskipun diiringi oleh tekanan politik domestik dan kekhawatiran kemanusiaan.
Dampak jangka panjang dari penggunaan bom dengan daya ledak besar di wilayah padat penduduk dapat menimbulkan korban sipil signifikan dan memperburuk situasi kemanusiaan di kawasan konflik. Oleh karena itu, keputusan ini menjadi perhatian serius berbagai pihak, baik di dalam maupun luar AS.
Paket penjualan 40 ribu bom kelas berat senilai 2,8 miliar dolar AS ini menjadi salah satu transaksi senjata terbesar dan paling kontroversial dalam beberapa tahun terakhir, yang akan diuji lebih lanjut di Kongres AS sebelum disahkan secara resmi.
Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial Suara Pecari.










