Netanyahu dan Ribuan Pemukim Israel Serbu Tembok Barat Masjid Aqsa

Netanyahu dan Ribuan Pemukim Israel Serbu Tembok Barat Masjid Aqsa

Suara Pecari, Yerusalem – Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu bersama ribuan pemukim Israel melakukan serbuan ke pelataran Tembok Barat atau Tembok Ratapan di Kota Tua Yerusalem. Kegiatan ini dilakukan dalam pengamanan ketat menjelang hari raya Yahudi Yom Kippur pada 19-21 September 2026, termasuk kunjungan Netanyahu ke terowongan di bawah kompleks Masjid Al-Aqsa yang sangat sensitif bagi masyarakat Palestina.

Dalam rekaman yang beredar luas, Netanyahu terlihat memasuki salah satu terowongan di bawah Masjid Al-Aqsa dan menyebut lokasi tersebut sebagai “tempat maha suci” (holy of holies). Ia juga mengunggah video saat mengikuti doa Selichot, ritual doa Yahudi, di Tembok Al-Buraq (nama lain Tembok Barat menurut umat Muslim) yang memicu kecaman luas dari berbagai pihak, termasuk Kementerian Luar Negeri Arab Saudi.

Fakta Utama Serbuan dan Kunjungan Netanyahu

  • Ribuan pemukim Israel memasuki pelataran Tembok Barat melalui Jalan Wadi di Kota Tua Yerusalem, melaksanakan doa dan ritual keagamaan menjelang Yom Kippur.
  • Netanyahu dan istrinya, Sara, mengunjungi terowongan di bawah Masjid Al-Aqsa, mengunggah video dan foto yang menunjukkan mereka berada di lokasi tersebut saat doa berlangsung.
  • Polisi Israel mengubah Kota Tua Yerusalem menjadi zona militer untuk mengamankan akses pemukim ke pelataran Tembok Barat.
  • Kementerian Luar Negeri Arab Saudi mengecam keras tindakan ini sebagai pelanggaran dan provokasi terhadap umat Islam di seluruh dunia.
  • Hamas juga mengutuk kunjungan Netanyahu dan aktivitas penggalian di sekitar Masjid Al-Aqsa.

Konteks dan Sensitivitas Lokasi

Masjid Al-Aqsa merupakan situs suci bagi umat Islam, sedangkan Tembok Barat dianggap sebagai tempat suci dalam tradisi Yahudi. Terowongan di bawah kawasan ini menjadi wilayah yang sangat sensitif karena melintasi area suci dan permukiman di Yerusalem Timur yang diduduki. Sejak 2003, polisi Israel mengizinkan warga Israel memasuki kompleks Masjid Al-Aqsa secara sepihak, menimbulkan ketegangan yang berkelanjutan.

Kegiatan yang dilakukan Netanyahu dan para pemukim menjelang Yom Kippur, hari raya paling suci dalam kalender Yahudi, serta menjelang pemilu Israel, dipandang sebagai tindakan provokatif yang dapat meningkatkan ketegangan di wilayah tersebut.

Dampak dan Respons Internasional

Tindakan serbuan dan kunjungan Netanyahu memicu kemarahan luas di kalangan warga Palestina dan masyarakat internasional, terutama negara-negara Arab. Arab Saudi melalui Kementerian Luar Negeri secara resmi mengecam keras penerobosan ke pelataran suci Masjid Al-Aqsa yang dilakukan oleh pejabat Israel dan pemukim ekstremis dengan perlindungan militer.

Selain itu, berbagai rekaman di media sosial memperlihatkan ribuan pemukim Israel melakukan doa dan ritual di kompleks tersebut, yang memperkuat ketegangan dan kecaman global terhadap langkah Israel di Yerusalem Timur.

Netanyahu dalam pernyataannya menyebutkan bahwa dirinya dan bangsa Yahudi akan selalu berada di lokasi tersebut, menegaskan klaim keagamaan dan politik yang menjadi sumber konflik berkepanjangan di kawasan.

Kunjungan ini juga merupakan kunjungan kedua Netanyahu ke terowongan bawah Masjid Al-Aqsa dalam dua tahun terakhir, menunjukkan keberlanjutan strategi politik dan keagamaan terkait klaim atas Yerusalem.

Situasi di Kota Tua Yerusalem dan kompleks Masjid Al-Aqsa tetap menjadi titik rawan yang membutuhkan perhatian dan solusi yang menghormati hak-hak semua pihak serta menjaga stabilitas regional.

Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial Suara Pecari.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *