AI Jadi Andalan Baru Cari Nasihat Keuangan, tapi Masih Kurang Dipercaya
Suara Pecari – Kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) mulai menjadi pilihan masyarakat Amerika Serikat dalam mencari nasihat keuangan. Namun, teknologi ini masih belum sepenuhnya dipercaya sebagai sumber utama panduan finansial.
Pemanfaatan AI dalam Nasihat Keuangan
Survei Gallup yang bekerjasama dengan perusahaan jasa keuangan Edward Jones menemukan bahwa sekitar satu dari lima warga AS yang mencari nasihat keuangan dalam satu tahun terakhir memanfaatkan AI. Meski demikian, kepercayaan terhadap kemampuan AI mengelola keuangan masih tergolong rendah. Hanya sekitar 30 persen orang dewasa AS menyatakan memiliki kepercayaan sebagian atau besar terhadap keahlian AI, sementara yang memiliki kepercayaan penuh hanya 3 persen.
Perbedaan Kepercayaan dan Penggunaan Sumber Nasihat
Survei yang dilakukan pada musim semi 2026 ini juga mengungkapkan perbedaan signifikan antara sumber nasihat yang dipercaya dan yang digunakan. Delapan dari sepuluh orang dewasa AS memiliki sebagian kepercayaan terhadap penasihat keuangan profesional, tetapi hanya sekitar sepertiga yang benar-benar menggunakan jasa tersebut. Sebaliknya, 73 persen responden lebih mengandalkan riset mandiri melalui internet.
AI sebagai Alat Pembelajaran, Bukan Pengganti Penasihat Profesional
Associate Professor MIT Sloan School of Management, Taha Choukhmane, menilai AI harus digunakan sebagai alat bantu dalam memahami konsep keuangan, bukan sebagai pengganti penasihat profesional. Ia menyarankan agar informasi dari AI dibandingkan dengan sumber terpercaya lain dan meminta referensi yang valid dari AI untuk memverifikasi kebenaran data.
Choukhmane mencontohkan penggunaan AI untuk menjelaskan konsep seperti pasar saham, reksa dana, dan dana indeks yang dapat membantu masyarakat memahami istilah keuangan yang kompleks.
Preferensi Generasi Muda terhadap AI
Data survei juga menunjukkan bahwa generasi muda, seperti Gen Z dan milenial, cenderung lebih memilih menggunakan AI untuk mencari nasihat keuangan dibandingkan generasi yang lebih tua. Sekitar 25 persen Gen Z dan milenial menggunakan AI, sementara angka ini hanya 16 persen pada Gen X dan 7 persen pada baby boomer.
Namun, penggunaan jasa penasihat keuangan profesional lebih banyak dilakukan oleh generasi yang lebih tua. Hanya 14 persen Gen Z dan 21 persen milenial yang menggunakan jasa profesional, sementara angka ini naik menjadi 34 persen pada Gen X dan 55 persen pada baby boomer.
Tanggung Jawab dan Risiko Penggunaan AI
Meski AI dapat membantu proses riset keuangan, sejumlah pakar keuangan mempertanyakan aspek tanggung jawab hukum dalam penggunaan AI sebagai sumber nasihat. Penasihat keuangan bersertifikat memiliki kewajiban fidusia untuk memberikan rekomendasi yang sesuai dengan kondisi klien, sedangkan AI tidak memiliki kewajiban tersebut.
Bobbi Rebell, perencana keuangan bersertifikat dan pendiri Financial Wellness Strategies, menegaskan bahwa keputusan akhir tetap berada di tangan pengguna karena AI tidak mengetahui kondisi pribadi secara menyeluruh.
Metodologi Survei
Survei Gallup melibatkan 5.075 orang dewasa AS berusia minimal 21 tahun, dilakukan antara 20 Maret hingga 6 April 2026. Pengumpulan data menggunakan sampel berbasis probabilitas yang mewakili populasi AS secara keseluruhan dengan margin kesalahan plus minus 1,8 poin persentase.
Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial Suara Pecari.










