Israel Ketar-Ketir Rencana Damai AS-Iran Disebut Bisa Jadi Angin Segar bagi Teheran: Makin Kuat
Suara Pecari | Israel ketar-ketir rencana damai AS-Iran disebut bisa jadi angin segar bagi Teheran: makin kuat. Kesepakatan gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran yang diumumkan pada Minggu (14/6/2026) memicu reaksi beragam di kawasan Timur Tengah. Di satu sisi, perjanjian ini membuka harapan baru untuk stabilitas regional, namun di sisi lain, Israel merasa terpojok karena tuntutan keamanannya tidak terakomodasi.
Israel ketar-ketir rencana damai AS-Iran disebut bisa jadi angin segar bagi Teheran: makin kuat, karena kesepakatan tersebut tidak mencakup pembatasan program rudal balistik Iran maupun penghentian dukungan terhadap kelompok proksi seperti Hizbullah dan Houthi. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengakui bahwa ia belum mengetahui detail isi perjanjian, yang memicu kemarahan publik di Israel. Banyak warga menilai perang selama berbulan-bulan gagal melemahkan rezim Teheran.
Kesepakatan damai ini mencakup pembukaan kembali Selat Hormuz dan pelonggaran blokade laut AS terhadap pelabuhan selatan Iran. Sebagai imbalannya, Iran setuju menghentikan eskalasi militer. Namun, isu-isu krusial seperti program nuklir Iran, pencabutan sanksi ekonomi, dan pengembalian aset beku masih belum disepakati. Ketidakjelasan ini membuat warga Teheran, seperti mahasiswa Parisa, meragukan manfaat nyata perjanjian tersebut. “Ini mungkin bekerja sementara, tetapi kedua pihak bisa mengabaikannya lagi,” ujarnya.
Di Israel, kritik keras datang dari Menteri Keuangan Bezalel Smotrich yang menyebut kesepakatan itu “buruk bagi Israel dan dunia bebas.” Netanyahu, dalam konferensi pers, tetap bersikukuh bahwa operasi militer gabungan AS-Israel berhasil mencegah Iran memiliki senjata nuklir. “Iran tidak akan memiliki senjata nuklir — tidak hari ini dan tidak besok,” tegasnya.
Israel ketar-ketir rencana damai AS-Iran disebut bisa jadi angin segar bagi Teheran: makin kuat, karena pelonggaran sanksi berpotensi meningkatkan kapasitas fiskal Iran untuk mendukung jaringan regionalnya. Sementara itu, PBB menyambut baik kesepakatan ini sebagai langkah de-eskalasi, namun ketegangan masih tinggi setelah Israel melancarkan serangan ke pinggiran Beirut yang menargetkan Hizbullah.
Kesimpulannya, meskipun kesepakatan damai AS-Iran membuka peluang baru, implementasinya masih penuh ketidakpastian. Israel berada dalam posisi defensif, sementara Iran berpotensi memperkuat posisinya di kawasan. Dunia kini menanti apakah perjanjian ini benar-benar mengakhiri konflik atau hanya jeda sementara.
Artikel ini dipublikasikan oleh Suara Pecari.
Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.












