Safrizal ZA Inisiasi Program Pengabdian Masyarakat USK Pascabencana: Kesehatan dan Air Bersih Prioritas

Safrizal ZA Inisiasi Program Pengabdian Masyarakat USK Pascabencana: Kesehatan dan Air Bersih Prioritas

Suara Pecari | ACEH TAMIANG – Di tengah upaya pemulihan pascabencana banjir yang melanda Aceh Tamiang, Ketua Majelis Wali Amanat Universitas Syiah Kuala (USK) sekaligus Ketua Posko Wilayah PRR Aceh, Dr. Safrizal ZA, mengambil inisiatif strategis dengan menggelar program pengabdian masyarakat yang berfokus pada layanan kesehatan dan pemenuhan kebutuhan dasar. Program ini tidak hanya menjadi respons cepat terhadap kondisi darurat, tetapi juga menjadi model kolaborasi perguruan tinggi dalam penanganan bencana.

Latar Belakang dan Urgensi Program

Bencana banjir yang melanda Aceh Tamiang pada awal tahun 2026 meninggalkan dampak multidimensi. Selain kerusakan infrastruktur, akses layanan kesehatan menjadi salah satu sektor yang paling terpukul. Data dari Posko Satgas PRR per 8 Juni 2026 mencatat bahwa seluruh RSUD dan Puskesmas di tiga provinsi terdampak telah kembali beroperasi normal. Namun, di tingkat komunitas, terutama di hunian sementara (huntara), kebutuhan akan layanan kesehatan masih sangat mendesak. Safrizal ZA menegaskan bahwa dalam kondisi darurat, paradigma pelayanan harus berubah. “Dalam kondisi darurat bukan masyarakat yang datang, tapi dokter-dokter yang harus datang. Ini bagian dari bakti perguruan tinggi kepada masyarakat,” ujarnya saat meninjau huntara di Aceh Tamiang, Senin (15/6/2026).

Program Kesehatan: Layanan Spesialis di Huntara

Fakultas Kedokteran USK menurunkan tim spesialis yang terdiri dari ahli jantung anak, obstetri dan ginekologi, hingga psikolog. Langkah ini diambil untuk menjawab kebutuhan spesifik penyintas banjir, terutama kelompok rentan seperti ibu hamil, anak-anak, dan lansia. Psikolog juga disertakan untuk membantu pemulihan trauma pascabencana yang seringkali terabaikan. Tabel berikut merinci jenis layanan yang diberikan:

SpesialisasiFokus LayananTarget Pasien
Jantung AnakDeteksi dini dan penanganan gangguan jantung pada anak akibat stres atau kondisi lingkunganAnak-anak penyintas
Obstetri dan GinekologiPelayanan ibu hamil, persalinan, dan kesehatan reproduksiIbu hamil dan menyusui
PsikologiKonseling trauma, pemulihan stres pascabencanaSemua kelompok usia

Selain layanan langsung, tim juga mencatat temuan di lapangan sebagai bahan evaluasi untuk pemerintah. Safrizal meminta tim untuk mendokumentasikan kebutuhan yang belum terpenuhi. “Tim yang telah turun ke masyarakat, tolong catat apa yang bisa diberikan kepada saya baik sebagai Ketua MWA atau sebagai Kepala Posko Satgas Bencana. Sarankan kepada kami apa yang bisa kita lakukan,” pesannya.

Pemulihan Sarana Kesehatan Makro

Di tingkat makro, pemulihan sarana prasarana kesehatan menunjukkan progres positif. Berdasarkan data Kementerian Kesehatan dan Posko Satgas PRR per 8 Juni 2026, seluruh RSUD dan Puskesmas di tiga provinsi terdampak yang sempat berhenti beroperasi kini telah kembali berjalan normal. Dari 2.952 Puskesmas Pembantu, 99,76% sudah pulih, menyisakan enam unit yang masih menggunakan gedung pengganti. Capaian ini menunjukkan koordinasi yang baik antara pemerintah pusat, daerah, dan institusi seperti USK.

Air Bersih: Kebutuhan Dasar yang Tak Boleh Terabaikan

Selain kesehatan, Safrizal ZA juga menyoroti krisis air bersih yang dialami penyintas. Ia meninjau langsung sumur bor yang telah dikerjakan oleh Satgas PRR di Gampong Johar. Sumur bor tersebut kini menjadi sumber air utama bagi 300 KK di wilayah tersebut. Dari jumlah itu, 20 KK sudah mendapatkan Dana Tunggu Hunian (DTH), sementara 280 KK lainnya masih menunggu verifikasi untuk bantuan kerusakan rumah kategori ringan dan sedang.

Kunjungan diakhiri dengan meninjau PDAM Mon Krueng Baro yang mengalami kerusakan pada mesin intake dan ribuan meteran pelanggan. Untuk mengatasi kendala ini, Satgas PRR akan segera menyalurkan bantuan 25 ton PAC (polyaluminium chloride) dengan standar food grade untuk proses penjernihan air massal. Bantuan ini diharapkan dapat memulihkan pasokan air bersih bagi masyarakat luas.

Dampak dan Implikasi Program

Inisiatif yang digagas Safrizal ZA ini memiliki dampak jangka pendek dan panjang. Dalam jangka pendek, program ini memberikan akses kesehatan dan air bersih yang sangat dibutuhkan masyarakat. Dalam jangka panjang, program ini menjadi model kolaborasi antara perguruan tinggi dan pemerintah dalam penanganan bencana. Safrizal membuka peluang kerja sama dengan perguruan tinggi lain, termasuk di Sumatera Utara, untuk memperluas dampak program. Ia juga berharap inisiatif ini tidak berhenti di Aceh Tamiang, melainkan bisa diterapkan di daerah lain yang terdampak.

Bagi masyarakat, program ini memberikan harapan dan semangat untuk bangkit kembali. Bagi pemerintah, temuan dari lapangan menjadi masukan berharga untuk perbaikan kebijakan. Bagi perguruan tinggi, kegiatan ini menjadi wujud nyata tridharma, khususnya pengabdian kepada masyarakat. Seperti yang disampaikan Safrizal, “Ilmu tidak hanya sekadar ilmu, tetapi ilmu pengetahuan menemukan maknanya ketika ia mampu memberikan manfaat bagi manusia.”

Program pengabdian masyarakat yang diinisiasi Safrizal ZA ini tidak hanya menyentuh aspek medis dan logistik, tetapi juga membangun kembali rasa percaya diri dan solidaritas di tengah keterpurukan. Dengan sinergi antara akademisi, pemerintah, dan masyarakat, pemulihan pascabencana bukan lagi sekadar mimpi, melainkan sebuah kenyataan yang mulai terwujud.

Artikel ini dipublikasikan oleh Suara Pecari.

Tinggalkan Balasan