Quiet Quitting: Bekerja Secukupnya atau Bentuk Menjaga Kesehatan Mental?

Quiet Quitting: Bekerja Secukupnya atau Bentuk Menjaga Kesehatan Mental?

Suara Pecari | Belakangan ini, istilah quiet quitting semakin sering dibicarakan di dunia kerja. Meski terdengar seperti mengundurkan diri, quiet quitting sebenarnya bukan berarti berhenti bekerja. Istilah ini merujuk pada sikap karyawan yang menyelesaikan pekerjaan sesuai dengan tugas dan tanggung jawabnya, tanpa memberikan usaha ekstra di luar kewajiban. Fenomena ini memunculkan berbagai pandangan. Sebagian orang menganggap quiet quitting sebagai tanda menurunnya komitmen karyawan. Namun, ada pula yang melihatnya sebagai cara menetapkan batasan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi agar kesehatan mental tetap terjaga. Lalu, apakah quiet quitting benar-benar merupakan bentuk menjaga kesehatan mental?

Apa Itu Quiet Quitting?

Quiet quitting bukanlah pengunduran diri secara resmi, melainkan sebuah pendekatan di mana karyawan memilih untuk tidak lagi melakukan pekerjaan di luar jam kerja atau mengambil tanggung jawab tambahan yang tidak tercantum dalam deskripsi pekerjaan. Fenomena ini mulai populer di media sosial, terutama TikTok, pada tahun 2022, dan kini menjadi topik hangat di Indonesia. Banyak pekerja yang merasa lelah dengan budaya kerja yang menuntut dedikasi penuh tanpa batas, sehingga mereka memilih untuk ‘bekerja sesuai gaji’.

Menurut survei Gallup pada tahun 2023, hanya sekitar 23% karyawan di seluruh dunia yang merasa engaged dengan pekerjaannya. Sisanya, termasuk para quiet quitter, cenderung melakukan pekerjaan minimal yang diperlukan untuk mempertahankan posisi mereka. Di Indonesia, data dari Kementerian Ketenagakerjaan menunjukkan bahwa kasus burnout dan stres terkait pekerjaan meningkat 15% dalam dua tahun terakhir, mendorong banyak karyawan untuk menerapkan strategi quiet quitting sebagai mekanisme pertahanan.

Penyebab Quiet Quitting

1. Burnout dan Kelelahan Kerja

Salah satu penyebab utama quiet quitting adalah burnout, yaitu kondisi kelelahan fisik dan emosional akibat tekanan pekerjaan yang berlangsung terus-menerus. Ketika karyawan merasa beban kerja terlalu berat, kurang dihargai, atau tidak memiliki kesempatan berkembang, motivasi kerja dapat menurun. Akibatnya, mereka memilih bekerja sesuai dengan deskripsi pekerjaan tanpa mengambil tanggung jawab tambahan. Sebuah studi dari Harvard Business Review menemukan bahwa 50% karyawan yang mengalami burnout cenderung melakukan quiet quitting sebagai bentuk perlindungan diri.

2. Kurangnya Apresiasi dan Dukungan Organisasi

Di sisi lain, quiet quitting juga dapat menjadi sinyal bahwa organisasi perlu mengevaluasi lingkungan kerjanya. Kurangnya apresiasi, komunikasi yang tidak efektif, atau kepemimpinan yang kurang mendukung dapat membuat karyawan kehilangan keterikatan terhadap pekerjaannya. Dalam kondisi seperti ini, bekerja “sekadar memenuhi kewajiban” menjadi bentuk respons terhadap lingkungan kerja yang dirasa kurang sehat. Data dari Employee Engagement Survey di Indonesia menunjukkan bahwa 60% karyawan merasa tidak dihargai oleh atasan, sehingga mereka kehilangan motivasi untuk memberikan yang terbaik.

3. Keinginan untuk Work-Life Balance

Generasi milenial dan Gen Z semakin sadar akan pentingnya keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi. Mereka tidak ingin pekerjaan mengorbankan waktu bersama keluarga, hobi, atau kesehatan mental. Quiet quitting menjadi cara untuk menegaskan batasan bahwa pekerjaan bukanlah segalanya. Survei dari LinkedIn menunjukkan bahwa 70% pekerja di Indonesia menganggap work-life balance sebagai faktor utama dalam memilih pekerjaan.

Dampak Quiet Quitting bagi Karyawan dan Perusahaan

Fenomena quiet quitting memiliki dampak yang kompleks, baik bagi individu maupun organisasi. Berikut adalah tabel perbandingan dampaknya:

Aspek Dampak Positif Dampak Negatif
Karyawan Mengurangi stres dan risiko burnout; meningkatkan kesejahteraan mental; waktu lebih untuk keluarga dan hobi. Potensi stagnasi karir; kurangnya pengakuan; risiko dianggap tidak loyal oleh atasan.
Perusahaan Mendorong evaluasi budaya kerja; kesempatan memperbaiki sistem penghargaan; lebih efisien dalam alokasi tugas. Penurunan produktivitas; inovasi terhambat; peningkatan turnover karyawan; reputasi perusahaan bisa terpengaruh.

Quiet Quitting: Antara Kesehatan Mental dan Kemalasan

Meski demikian, tidak semua pelaku quiet quitting melakukannya demi menjaga kesehatan mental. Ada yang ingin menciptakan keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi, tetapi ada pula yang melakukannya karena kurang termotivasi atau tidak puas dengan pekerjaannya. Oleh karena itu, fenomena ini tidak dapat disimpulkan hanya sebagai bentuk kemalasan maupun strategi menjaga kesehatan mental. Para ahli psikologi industri menyarankan agar perusahaan tidak langsung menghakimi quiet quitter, melainkan mencari akar masalahnya.

Psikolog klinis dari Universitas Indonesia, Dr. Andini, menjelaskan, “Quiet quitting seringkali merupakan respons terhadap lingkungan kerja yang toksik. Alih-alih menyalahkan karyawan, perusahaan perlu introspeksi apakah sudah memberikan dukungan yang memadai. Jika karyawan merasa didengar dan dihargai, mereka akan lebih termotivasi untuk berkontribusi lebih.”

Langkah Mengatasi Quiet Quitting

Bagi perusahaan yang ingin mengurangi fenomena quiet quitting, berikut beberapa langkah yang dapat diambil:

  • Meningkatkan komunikasi dua arah: Adakan sesi dialog rutin antara manajemen dan karyawan untuk mendengarkan keluhan dan masukan.
  • Memberikan apresiasi yang adil: Berikan penghargaan tidak hanya berupa finansial, tetapi juga pengakuan publik, fleksibilitas jam kerja, atau kesempatan pengembangan diri.
  • Menciptakan budaya kerja yang sehat: Hindari budaya lembur berlebihan, berikan target yang realistis, dan fasilitasi kegiatan team building.
  • Menyediakan program kesehatan mental: Sediakan akses konseling, hari libur kesehatan mental, atau workshop manajemen stres.

Kesimpulan Akhir

Pada akhirnya, quiet quitting menunjukkan bahwa dunia kerja sedang mengalami perubahan. Karyawan kini semakin menyadari pentingnya keseimbangan hidup, sementara organisasi dituntut untuk menciptakan lingkungan kerja yang sehat, memberikan apresiasi yang adil, dan membangun komunikasi yang baik. Dengan begitu, quiet quitting dapat dipahami bukan sekadar tren, melainkan pengingat bahwa produktivitas dan kesejahteraan karyawan perlu berjalan beriringan. Jika dikelola dengan bijak, fenomena ini justru bisa menjadi momentum bagi perusahaan untuk bertransformasi menjadi tempat kerja yang lebih manusiawi dan berkelanjutan.

Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial Suara Pecari.

Tinggalkan Balasan