Emak-emak Turun ke Jalanan Jakarta, Nekat Demo Lawan Tuntutan Mahasiswa, Tak Setuju MBG Dihentikan
Suara Pecari | Jakarta, 18 Juni 2026 – Suasana ibu kota kembali memanas dengan aksi unjuk rasa yang melibatkan ribuan emak-emak. Dalam sebuah demonstrasi yang digelar di kawasan Patung Kuda, Jakarta Pusat, para ibu rumah tangga ini menyuarakan dukungan mereka terhadap program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digagas Presiden Prabowo Subianto. Aksi ini menjadi kontras dengan tuntutan mahasiswa yang sebelumnya mendesak penghentian program tersebut. Emak-emak turun ke jalanan Jakarta, nekat demo lawan tuntutan mahasiswa, tak setuju MBG dihentikan. Mereka menilai program ini sangat bermanfaat bagi masyarakat kecil, terutama dalam membuka lapangan kerja.
Koordinator aksi, Edi Marzuki, menyatakan bahwa massa yang hadir mencapai 10.000 orang. Mereka berasal dari Aliansi Masyarakat Jakarta Timur dan bergerak menuju Patung Kuda untuk menyampaikan aspirasi. “Kami mendukung penuh program MBG karena telah memberikan manfaat nyata, seperti menyerap tenaga kerja di dapur, pencuci ompreng, hingga sopir distribusi makanan. Jangan dihentikan, tapi evaluasi dan sempurnakan,” ujar Edi di tengah kerumunan. Aksi ini juga diwarnai orasi dan spanduk dukungan, serta pertemuan dengan Wakil Menteri Sekretaris Negara Juri Ardiantoro yang berjanji akan menyampaikan aspirasi kepada Presiden.
Salah satu peserta, Grace Srikandi, menekankan pentingnya MBG sebagai investasi jangka panjang. “MBG ini produk lokal yang sangat the best untuk anak cucu kita ke depan. Pak Prabowo ingin anak Indonesia cerdas dan berdiri di negara sendiri,” katanya. Massa menolak tuntutan penghentian MBG yang disuarakan mahasiswa, dan justru mendorong perbaikan pelaksanaan. Emak-emak turun ke jalanan Jakarta, nekat demo lawan tuntutan mahasiswa, tak setuju MBG dihentikan—sebuah pesan yang terus digaungkan sepanjang aksi.
Sementara itu, di hari yang sama, gelombang aksi lain juga terjadi. Aliansi Perempuan Indonesia menggelar long march dari Dukuh Atas menuju Istana Negara, Kamis (18/6). Mengenakan pakaian serba pink dan daster, mereka memukul panci dan ompreng sebagai simbol protes. Tiga tuntutan utama mereka: penurunan harga kebutuhan pokok, penciptaan lapangan kerja, dan penghentian program MBG. Orator Afifah (26) menyatakan bahwa kebijakan ekonomi saat ini menyengsarakan perempuan. “Turunkan harga karena harga BBM naik, sangat menyusahkan rakyat, terutama perempuan. Janji 19 juta lapangan kerja tidak terealisasi, yang ada PHK meningkat,” tegasnya.
Namun, aksi Aliansi Perempuan Indonesia terhenti di Thamrin Nine akibat barikade polisi. Mereka diarahkan untuk berbelok ke Jalan Kebon Sirih, namun massa menolak karena merasa rute lurus lebih dekat ke Patung Kuda. Polisi tetap bertahan, dan massa akhirnya mengikuti arahan. Insiden ini menambah dinamika demonstrasi yang terjadi di Jakarta. Di sisi lain, emak-emak yang mendukung MBG justru mendapatkan sambutan hangat dari aparat dan masyarakat sekitar.
Perbedaan pandangan antara kelompok pro dan kontra MBG mencerminkan polarisasi yang tajam di masyarakat. Mahasiswa dari BEM Bersatu sebelumnya mengkritik program ini karena dianggap membebani anggaran negara dan tidak efektif. Namun, emak-emak yang turun ke jalan membantah anggapan tersebut. Mereka menyebut MBG telah membuka lapangan pekerjaan baru, terutama bagi perempuan di sektor informal. “Kami tidak setuju MBG dihentikan. Program ini sudah membantu banyak ibu-ibu mendapatkan penghasilan tambahan,” ujar salah satu peserta aksi.
Pemerintah pun merespons dengan menjanjikan evaluasi menyeluruh. Wakil Menteri Sekretaris Negara Juri Ardiantoro yang menemui massa pro-MBG menyatakan bahwa Presiden Prabowo akan mendengarkan semua aspirasi. “Program MBG akan terus berjalan dengan perbaikan, bukan dihentikan. Kami akan mengusut dugaan korupsi yang mencuat,” katanya. Sementara itu, polisi terus menjaga keamanan di sejumlah titik rawan macet, termasuk Jalan MH Thamrin dan Bundaran HI.
Kesimpulannya, aksi emak-emak turun ke jalanan Jakarta, nekat demo lawan tuntutan mahasiswa, tak setuju MBG dihentikan, menunjukkan bahwa program ini memiliki basis dukungan yang kuat di akar rumput. Meski menuai kritik, manfaat nyata seperti penyerapan tenaga kerja dan peningkatan gizi anak menjadi alasan utama mereka bertahan. Pemerintah diharapkan dapat menyempurnakan program tanpa menghentikannya, sambil tetap mendengarkan suara kritis dari kelompok mahasiswa dan aliansi perempuan. Jakarta menjadi saksi pertarungan aspirasi yang berujung pada harapan akan kebijakan yang lebih adil.
Artikel ini dipublikasikan oleh Suara Pecari.
Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.












