Mueller Dorong Kai Havertz Jadi Ujung Tombak Utama Jerman di Piala Dunia 2026

Mueller Dorong Kai Havertz Jadi Ujung Tombak Utama Jerman di Piala Dunia 2026

Suara Pecari | Legenda sepak bola Jerman Thomas Mueller baru-baru ini menyuarakan dukungannya agar Kai Havertz menjadi pilihan utama di lini depan Timnas Jerman pada Piala Dunia 2026. Pernyataan ini muncul di tengah persiapan Jerman yang akan bertarung di Grup E bersama Curacao, Pantai Gading, dan Ekuador. Mueller, yang dikenal sebagai salah satu ikon Die Mannschaft, menilai Havertz memiliki kualitas yang dibutuhkan untuk menjadi tulang punggung tim. Dalam wawancara dengan arsenalinsider pada Minggu, 14 Juni 2026, Mueller menegaskan, “Bagi saya, Kai Havertz adalah pemain kunci bagi tim ini. Dia adalah pilihan utama di lini depan sebagai pemain nomor sembilan, dan jika memungkinkan, dia seharusnya bermain setiap menitnya.”

Perjalanan Kai Havertz: Dari Bayer Leverkusen ke Arsenal

Kai Havertz memulai karier profesionalnya di Bayer Leverkusen, di mana ia menunjukkan bakat luar biasa sebagai gelandang serang. Pada 2020, ia bergabung dengan Chelsea dengan biaya transfer yang memecahkan rekor klub. Di Chelsea, Havertz mencetak gol kemenangan di final Liga Champions 2021, mengukuhkan namanya sebagai pemain besar. Namun, performanya tidak selalu konsisten, dan pada 2023 ia pindah ke Arsenal. Bersama The Gunners, Havertz berkembang menjadi penyerang serba bisa yang mampu bermain di berbagai posisi depan. Musim 2025/2026 menjadi musim terbaiknya dengan torehan 18 gol dan 12 assist di semua kompetisi, menjadikannya salah satu pemain paling berbahaya di Premier League.

Mengapa Mueller Memilih Havertz?

Thomas Mueller, yang pensiun dari tim nasional setelah Piala Dunia 2022, tetap menjadi pengamat tajam sepak bola Jerman. Dalam pernyataannya, ia mengakui bahwa Jerman memiliki banyak pemain berbakat, tetapi kurang memiliki “tulang punggung tim yang jelas”. Menurut Mueller, Havertz adalah sosok yang bisa mengisi kekosongan tersebut. “Kami memiliki banyak sekali pemain berbakat, tetapi mungkin kami tidak memiliki tulang punggung tim yang jelas. Itulah mengapa sangat penting bagi saya bahwa Kai Havertz berada di lapangan dengan kualitasnya,” ujarnya.

Mueller juga menyoroti kemampuan Havertz dalam memberikan ancaman nyata bagi pertahanan lawan. Dengan tinggi 193 cm, Havertz unggul dalam duel udara, tetapi ia juga memiliki kecepatan dan teknik yang memadai untuk bermain di ruang sempit. Fleksibilitasnya memungkinkan pelatih Julian Nagelsmann untuk mengubah formasi tanpa harus mengganti pemain.

Persaingan di Lini Depan Jerman

Meskipun Mueller menempatkan Havertz sebagai pilihan utama, Jerman memiliki opsi lain yang tak kalah menarik. Niclas Fullkrug, penyerang Borussia Dortmund, dikenal sebagai target man klasik dengan naluri gol tajam. Deniz Undav, yang bermain di Stuttgart, memiliki gaya bermain yang lebih mobile dan kreatif. Berikut perbandingan ketiganya:

PemainUsiaKlubGol (Musim 2025/26)Assist (Musim 2025/26)
Kai Havertz27Arsenal1812
Niclas Fullkrug33Borussia Dortmund155
Deniz Undav29Stuttgart128

Dari tabel di atas, Havertz unggul dalam hal produktivitas gol dan assist. Namun, Fullkrug dan Undav juga memiliki kelebihan masing-masing. Fullkrug lebih kuat secara fisik dan ahli dalam memenangkan duel, sementara Undav lebih lincah dan bisa bermain di sayap. Mueller mengakui bahwa jika Havertz tidak bisa tampil penuh, kedua pemain tersebut siap menggantikan.

Kondisi Kebugaran dan Cedera

Salah satu kekhawatiran terbesar adalah kondisi kebugaran Havertz. Pemain kelahiran 11 Juni 1999 itu baru pulih dari cedera hamstring yang membuatnya absen selama sebulan di akhir musim bersama Arsenal. Meski demikian, ia berhasil kembali tepat waktu untuk bergabung dengan skuad Jerman. Mueller berharap Havertz dapat menjaga performanya hingga putaran final. “Jika dia tidak bisa melanjutkan, maka kami memiliki pilihan lain seperti Fullkrug dan Undav. Namun Kai adalah andalan saya,” tegas Mueller.

Dampak dan Implikasi bagi Timnas Jerman

Kepercayaan Mueller pada Havertz mencerminkan kebutuhan Jerman akan seorang pemimpin di lini depan. Sejak pensiunnya Miroslav Klose, Jerman kesulitan menemukan penyerang nomor sembilan yang konsisten. Timo Werner dan Mario Gomez sempat menjadi andalan, tetapi performa mereka tidak stabil. Havertz, dengan pengalamannya di klub-klub besar Eropa, diharapkan bisa mengakhiri pencarian panjang itu.

Jika Havertz benar-benar menjadi ujung tombak utama, strategi Jerman kemungkinan akan berfokus pada permainan cepat dan transisi. Nagelsmann, yang dikenal sebagai pelatih inovatif, bisa memanfaatkan kemampuan Havertz untuk drop deep dan menghubungkan permainan. Ini akan memberi ruang bagi pemain sayap seperti Leroy Sane dan Jamal Musiala untuk menusuk dari sisi sayap.

Di sisi lain, beban ekspektasi yang tinggi bisa menjadi tekanan tersendiri bagi Havertz. Kegagalan di turnamen besar seperti Piala Dunia 2018 dan Euro 2020 masih membekas di benak publik Jerman. Kehadiran Havertz sebagai pemimpin serangan akan menjadi ujian mental yang berat.

Persaingan di Grup E

Jerman tergabung di Grup E bersama Curacao, Pantai Gading, dan Ekuador. Secara peringkat FIFA, Jerman adalah favorit untuk lolos. Namun, lawan-lawan mereka tidak bisa dianggap remeh. Curacao, meskipun bukan raksasa sepak bola, memiliki pemain-pemain naturalisasi yang bermain di Eropa. Pantai Gading adalah juara Afrika 2023 dan memiliki pemain bintang seperti Sebastien Haller. Ekuador, dengan ketinggian stadion di Quito, selalu menjadi lawan tangguh di kandang.

Berikut jadwal pertandingan Jerman di fase grup:

TanggalPertandinganLokasi
15 Juni 2026Jerman vs CuracaoStadion Allianz, Muenchen
20 Juni 2026Jerman vs Pantai GadingStadion Olimpiade, Berlin
25 Juni 2026Ekuador vs JermanStadion Atahualpa, Quito

Pertandingan melawan Ekuador di ketinggian 2.850 meter akan menjadi ujian fisik berat bagi Jerman. Di sinilah peran Havertz sebagai pemimpin serangan sangat krusial. Kemampuannya untuk menjaga bola dan mengatur tempo bisa menjadi kunci untuk mengatasi kondisi ekstrem tersebut.

Penutup Naratif: Harapan di Pundak Havertz

Dukungan Thomas Mueller bukan sekadar pujian, melainkan sebuah amanah. Di usia 27 tahun, Havertz berada di puncak kariernya, dan Piala Dunia 2026 bisa menjadi panggung pembuktian bahwa ia layak menjadi penerus legenda-legenda Jerman. Dengan kualitas yang dimilikinya, Havertz memiliki semua alat untuk sukses. Namun, sepak bola adalah tentang momen. Apakah ia akan menjadi penentu bagi Jerman atau justru tenggelam dalam tekanan? Hanya waktu yang akan menjawab. Yang jelas, mata dunia akan tertuju padanya saat Jerman memulai perjuangan di Grup E.

Artikel ini dipublikasikan oleh Suara Pecari.

Tinggalkan Balasan