Desa Les Bali: Model Wisata Berbasis Masyarakat yang Menyeimbangkan Ekonomi, Lingkungan, dan Budaya
Suara Pecari | Desa Les, yang terletak di Kecamatan Tejakula, Kabupaten Buleleng, Bali Utara, telah menjelma menjadi contoh nyata pengembangan desa wisata berbasis masyarakat yang berkelanjutan. Melalui program Desa Sejahtera Astra (DSA) pada tahun 2024, desa ini berhasil memadukan pemberdayaan ekonomi warga dengan pelestarian lingkungan dan budaya lokal yang tetap terjaga. Program tersebut menjangkau lebih dari 800 warga dan mencakup berbagai sektor, mulai dari wisata alam, pertanian, hingga produksi garam tradisional.
Potensi Alam dan Budaya sebagai Fondasi Pengembangan
Desa Les memiliki bentang alam yang sangat beragam, mulai dari perbukitan hijau, lahan pertanian yang subur, hingga kawasan pesisir yang indah. Keanekaragaman ini menjadi sumber penghidupan utama masyarakat melalui sektor perikanan, pertanian, dan produksi garam tradisional yang telah diwariskan secara turun-temurun. Potensi tersebut kemudian dikembangkan menjadi berbagai aktivitas wisata, seperti wisata pantai, air terjun, trekking di perbukitan, hingga kegiatan berbasis komunitas yang melibatkan warga secara langsung. Wisatawan tidak hanya menikmati keindahan alam, tetapi juga belajar tentang budaya lokal dan kehidupan sehari-hari masyarakat Desa Les.
Program Desa Sejahtera Astra: Pendekatan Holistik
Chief of Corporate Affairs Astra, Boy Kelana Soebroto, menekankan pentingnya pembangunan desa yang seimbang antara pertumbuhan ekonomi, pelestarian lingkungan, dan keberlanjutan budaya. “Melalui Desa Sejahtera Astra, kami percaya pembangunan desa tidak hanya mendorong pertumbuhan ekonomi, tetapi juga menjaga keseimbangan antara kemajuan, kelestarian lingkungan, dan identitas budaya yang dimiliki masyarakat,” ujar Boy dalam keterangannya, Senin, 15 Juni 2026. Program DSA tidak hanya fokus pada sektor pariwisata, tetapi juga merambah ke bidang kesehatan, pendidikan, dan lingkungan.
Kesehatan dan Pendidikan: Investasi Sumber Daya Manusia
Di bidang kesehatan, masyarakat bersama kader kesehatan menjalankan sejumlah program untuk mendukung kesehatan ibu dan anak. Layanan Posyandu rutin diadakan, edukasi kehamilan diberikan, dan pemberian makanan tambahan bagi anak yang mengalami stunting dan gizi buruk menjadi prioritas. Upaya ini bertujuan untuk menekan angka stunting yang masih menjadi masalah di beberapa wilayah Bali. Sementara di sektor pendidikan, program difokuskan pada peningkatan kapasitas generasi muda melalui pelatihan bahasa Inggris dan pembekalan kepariwisataan. Hal ini diharapkan dapat melahirkan pemandu wisata lokal yang mampu melayani wisatawan mancanegara dengan baik, sehingga meningkatkan kualitas pelayanan dan daya tarik desa.
Pelestarian Lingkungan: Konservasi dan Pengelolaan Sampah
Pelestarian lingkungan menjadi bagian penting dalam pengembangan desa. Warga terlibat aktif dalam kegiatan konservasi dan transplantasi terumbu karang di pesisir pantai, yang tidak hanya menjaga ekosistem laut tetapi juga menjadi daya tarik wisata snorkeling. Selain itu, pengelolaan sampah berbasis masyarakat digalakkan. Masyarakat didorong melakukan pemilahan sampah sejak dari rumah. Sampah organik diolah menjadi kompos yang dimanfaatkan untuk kebun dan dipasarkan, sehingga menambah nilai ekonomi. Sampah anorganik dikelola melalui bank sampah. Program ini tidak hanya mengurangi volume sampah yang dibuang ke tempat pembuangan akhir, tetapi juga menciptakan lapangan kerja baru dan meningkatkan kesadaran lingkungan warga.
Produk Unggulan: Garam Tradisional dan BUMDes
Di sektor usaha, masyarakat Desa Les tetap mempertahankan tradisi pembuatan garam secara turun-temurun. Produksi garam tradisional ini menjadi salah satu produk unggulan desa yang dipasarkan melalui BUMDes Giri Segara. Garam Les dikenal memiliki kualitas tinggi dan cita rasa khas karena diproses secara alami dengan sinar matahari. BUMDes juga mengelola pemasaran produk-produk lokal lainnya, seperti hasil pertanian dan kerajinan tangan. Dengan adanya BUMDes, rantai pemasaran menjadi lebih pendek, sehingga petani dan pengrajin mendapatkan harga yang lebih baik.
Dampak dan Implikasi: Peningkatan Ekonomi dan Pengakuan Nasional
Program DSA mencatat peningkatan pendapatan warga hingga 25 persen, membuka lapangan pekerjaan baru, serta memperluas pasar produk-produk lokal. Hal ini berdampak langsung pada kesejahteraan masyarakat. Selain itu, pengembangan desa wisata yang berkelanjutan juga memberikan implikasi positif bagi lingkungan dan budaya. Dengan adanya kegiatan konservasi dan pengelolaan sampah, lingkungan menjadi lebih bersih dan lestari. Budaya lokal tetap terjaga karena wisatawan diajak untuk menghormati tradisi setempat.
Atas berbagai upaya tersebut, Desa Les meraih penghargaan Juara Umum Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) 2024 yang diselenggarakan oleh Kementerian Pariwisata. Penghargaan ini menjadi indikator keberhasilan pengembangan desa wisata yang mengedepankan keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi, pelestarian lingkungan, dan pemberdayaan masyarakat. Prestasi ini juga memotivasi desa-desa lain di Indonesia untuk mengikuti jejak Desa Les dalam mengembangkan pariwisata berbasis masyarakat yang berkelanjutan.
| Sektor | Program | Dampak |
|---|---|---|
| Ekonomi | Pengembangan wisata, BUMDes, produksi garam | Peningkatan pendapatan 25%, lapangan kerja baru |
| Lingkungan | Konservasi terumbu karang, pengelolaan sampah, kompos | Lingkungan lestari, pengurangan sampah, nilai ekonomi dari kompos |
| Pendidikan | Pelatihan bahasa Inggris, kepariwisataan | SDM berkualitas, pemandu wisata lokal |
| Kesehatan | Posyandu, edukasi kehamilan, makanan tambahan | Penurunan stunting, kesehatan ibu dan anak meningkat |
Kronologi Pengembangan Desa Les
- 2023: Desa Les mulai menjajaki program Desa Sejahtera Astra dengan mengidentifikasi potensi desa.
- Awal 2024: Program DSA resmi diluncurkan, mencakup pelatihan, pembangunan infrastruktur, dan pendampingan.
- Pertengahan 2024: Berbagai program berjalan, termasuk pelatihan bahasa Inggris, konservasi terumbu karang, dan pengelolaan sampah.
- Akhir 2024: Desa Les meraih Juara Umum ADWI 2024, menandai keberhasilan program.
- 2025: Desa Les terus mengembangkan potensi, dengan peningkatan kunjungan wisatawan dan perluasan pasar produk lokal.
Desa Les telah membuktikan bahwa pariwisata berbasis masyarakat bukan sekadar konsep, melainkan sebuah kenyataan yang mampu meningkatkan kesejahteraan tanpa mengorbankan lingkungan dan budaya. Keberhasilan ini menjadi inspirasi bagi desa-desa lain di Indonesia untuk mengembangkan potensi lokal secara berkelanjutan. Dengan dukungan semua pihak, Desa Les siap melangkah lebih jauh, menjadi destinasi wisata unggulan yang tidak hanya memikat wisatawan, tetapi juga menjadi rumah yang nyaman bagi warganya.
Artikel ini dipublikasikan oleh Suara Pecari.
Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.












