Riwayat Sade Kampung Adat Berusia 500 Tahun di NTB yang Habis Terbakar

Riwayat Sade Kampung Adat Berusia 500 Tahun di NTB yang Habis Terbakar

Suara Pecari, Lombok TengahKebakaran besar yang melanda Kampung Adat Sade pada malam 22 Agustus 2026 menghanguskan rumah-rumah tradisional dan berbagai warisan budaya masyarakat Sasak di Desa Rembitan, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat. Kampung yang telah berdiri selama sekitar 500 tahun ini selama puluhan tahun dikenal sebagai destinasi wisata budaya dan pusat pelestarian adat istiadat Sasak.

Sejarah dan Keunikan Kampung Adat Sade

Desa Adat Sade merupakan permukiman tradisional suku Sasak yang telah dihuni sejak abad ke-16. Masyarakat Sade mempertahankan rumah-rumah tradisional yang dibangun dari bahan alami seperti bambu, kayu, dan alang-alang sebagai atap. Selain itu, mereka juga menjaga tradisi menenun, adat perkawinan merariq, dan berbagai aturan adat yang diwariskan secara turun-temurun. Sejak 1989, kawasan ini dikembangkan sebagai desa wisata budaya yang menarik pengunjung dari dalam dan luar negeri.

Kebakaran dan Dampaknya

Pada Sabtu malam, 22 Agustus 2026, kebakaran terjadi sekitar pukul 22.00 Wita, bermula dari salah satu rumah warga. Api dengan cepat menjalar ke bangunan lain dan menghanguskan sekitar 500 rumah serta fasilitas penting seperti masjid, berugak adat, lumbung, art shop, dan kamar mandi wisatawan. Warga yang sebagian sedang tertidur dan lainnya menghadiri acara pernikahan di luar kampung berusaha memadamkan api dengan peralatan sederhana namun terkendala oleh listrik padam dan posisi rumah yang sulit dijangkau.

Akibat kebakaran, tidak hanya tempat tinggal yang hilang, tetapi juga berbagai perlengkapan menenun dan karya kerajinan yang menjadi sumber penghasilan masyarakat ikut terbakar. Kerugian ini berdampak pada kehidupan sosial, ekonomi, dan budaya warga Sade.

Upaya Pemulihan dan Dukungan

Pemerintah Kabupaten Lombok Tengah segera memprioritaskan penanganan warga dengan fokus pada pemulihan kesehatan dan psikologis. Bupati Lalu Fathul Bahri menyatakan bahwa pembangunan kembali akan dibahas setelah kebutuhan dasar warga terpenuhi.

Dukungan juga datang dari sejumlah publik figur yang mengunjungi lokasi untuk memberikan bantuan dan menyaksikan kondisi warga pasca kebakaran. Bagi masyarakat Sade, pemulihan bukan hanya membangun fisik kembali, tetapi juga menjaga kelangsungan tradisi, adat, dan kehidupan budaya yang telah berlangsung berabad-abad.

Pentingnya Pelestarian Budaya Sade

Kampung Adat Sade merupakan simbol identitas budaya Sasak yang menggabungkan kehidupan sehari-hari dengan tradisi dan kerajinan menenun. Dengan musibah ini, pemerintah dan masyarakat kini sedang mendata kerusakan termasuk benda budaya seperti manuskrip kuno, peralatan acara adat, dan rumah adat sebagai situs sejarah. Pendataan ini menjadi langkah awal dalam upaya tanggap darurat sekaligus pemulihan jangka panjang.

Peristiwa kebakaran ini menandai tantangan besar dalam pelestarian warisan budaya yang telah bertahan selama lima abad. Kehadiran dan dukungan berbagai pihak sangat penting untuk membantu masyarakat Sade bangkit kembali sambil menjaga keaslian budaya mereka.

Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial Suara Pecari.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *