Damkar Evakuasi Sapi Limosin Tercebur Sumur 25 Meter di Kediri
Suara Pecari | Kejadian tak terduga menimpa seekor sapi jenis limosin milik Katimin, warga Dusun Jomblang, Desa Asmorobangun, Kecamatan Puncu, Kabupaten Kediri. Sapi berumur 4,5 bulan dengan berat sekitar 160 kg itu terperosok ke dalam sumur tua sedalam 25 meter pada Selasa, 30 Juni 2026, sekitar pukul 09.30 WIB. Peristiwa ini menggemparkan warga setempat dan menjadi perhatian luas, mengingat proses evakuasi yang menegangkan serta hasil akhir yang memilukan.
Kronologi Peristiwa
Menurut keterangan Katimin, pagi itu ia sedang berada di dalam rumah ketika tiba-tiba mendengar suara keras seperti ledakan dari arah belakang. Ia segera berlari menuju sumber suara dan mendapati sapi kesayangannya sudah berada di dasar sumur tua yang selama ini tidak terpakai. Sumur tersebut memiliki diameter sekitar 80 sentimeter dan kedalaman 25 meter, dengan kondisi air yang cukup dalam. Panik, Katimin berteriak meminta tolong, dan warga sekitar segera berkumpul. Mereka mencoba berbagai cara manual, namun tidak berhasil. Kepala Dusun kemudian menghubungi Pos Pemadam Kebakaran (Damkar) Pare untuk meminta bantuan profesional.
Tim Damkar Pos Pare tiba di lokasi pukul 09.35 WIB, hanya lima menit setelah laporan diterima. Mereka membawa peralatan lengkap, termasuk tali karmantel, tali webbing, body harness, dan alat bantu lainnya. Kondisi sumur yang sempit dan dalam menjadi tantangan utama. Petugas harus bekerja dengan hati-hati untuk menghindari cedera pada sapi maupun diri sendiri. Proses evakuasi berlangsung sekitar satu jam, hingga pukul 10.30 WIB. Sayangnya, saat berhasil diangkat ke permukaan, sapi tersebut sudah dalam keadaan tidak bernyawa. Diduga hewan itu tenggelam dan kekurangan oksigen di ruang sumur yang terbatas.
Proses Evakuasi yang Penuh Tantangan
Plt Kasatpol PP Kaleb Untung Satrio Wicaksono mengungkapkan bahwa proses evakuasi cukup sulit karena kedalaman sumur dan ruang gerak yang terbatas. “Kami sudah berusaha secepat mungkin, tetapi kondisi di lapangan memang tidak memungkinkan untuk evakuasi yang lebih cepat,” ujarnya. Tim Damkar menggunakan teknik penyelamatan vertikal dengan memasang sistem katrol di mulut sumur. Seorang petugas diturunkan dengan body harness untuk mengikat tubuh sapi menggunakan tali webbing. Namun, karena posisi sapi yang sudah lemas dan licin, pengikatan memakan waktu lebih lama dari perkiraan.
Berikut adalah rincian proses evakuasi:
| Tahap | Waktu | Keterangan |
|---|---|---|
| Laporan diterima | 09.30 WIB | Warga menghubungi Kepala Dusun |
| Tim tiba di lokasi | 09.35 WIB | Damkar Pos Pare datang |
| Persiapan alat | 09.35-09.45 WIB | Memasang katrol dan tali |
| Penurunan petugas | 09.45-09.55 WIB | Petugas masuk ke sumur |
| Pengikatan sapi | 09.55-10.15 WIB | Proses mengikat tubuh sapi |
| Pengangkatan | 10.15-10.30 WIB | Sapi diangkat ke permukaan |
| Sapi dinyatakan mati | 10.30 WIB | Tim medis memeriksa |
Dampak dan Implikasi
Peristiwa ini meninggalkan duka mendalam bagi Katimin dan keluarganya. Sapi limosin tersebut merupakan investasi berharga yang diharapkan dapat menjadi sumber penghasilan di masa depan. Kerugian materiil diperkirakan mencapai puluhan juta rupiah, mengingat harga sapi limosin muda di pasaran berkisar antara Rp15-20 juta. Lebih dari itu, kejadian ini menyoroti bahaya sumur tua yang tidak terpakai di lingkungan pemukiman. Banyak sumur serupa yang dibiarkan terbuka tanpa penutup pengaman, berpotensi menimbulkan kecelakaan serupa, tidak hanya bagi hewan tetapi juga manusia, terutama anak-anak.
Menurut data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kediri, dalam lima tahun terakhir tercatat setidaknya 10 kasus hewan terjatuh ke sumur, dengan tingkat keberhasilan evakuasi sekitar 70%. Namun, kasus dengan kedalaman lebih dari 20 meter seringkali berakhir dengan kematian hewan karena hipoksia atau cedera saat jatuh. Oleh karena itu, pemerintah daerah diimbau untuk melakukan pendataan dan penutupan sumur-sumur tua yang tidak digunakan. Masyarakat juga perlu diedukasi tentang pentingnya keselamatan dan pencegahan.
Berikut adalah beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk mencegah kejadian serupa:
- Menutup sumur tua dengan penutup beton atau besi yang kuat.
- Memasang pagar pengaman di sekitar sumur yang masih digunakan.
- Melaporkan sumur terbuka kepada perangkat desa untuk ditindaklanjuti.
- Mengedukasi anak-anak untuk tidak bermain di dekat sumur.
Penutup
Kepergian sapi limosin milik Katimin bukan sekadar kehilangan hewan ternak, melainkan pengingat akan kerentanan hidup di tengah lingkungan yang belum sepenuhnya aman. Sumur tua yang menganga diam-diam menjadi jebakan maut, menanti korban berikutnya. Semoga peristiwa ini mendorong kesadaran kolektif untuk menutup celah-celah bahaya di sekitar kita, agar tak ada lagi nyawa—baik manusia maupun hewan—yang melayang sia-sia. Bagi Katimin, duka ini mungkin akan lama terasa, namun semoga ada hikmah dan kekuatan untuk bangkit kembali.
Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial Suara Pecari.
Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.






