Usai AFF 2026, Dave Laksono Dorong Kolaborasi Perikanan dengan Vietnam
Suara Pecari | Jakarta – Wakil Ketua Komisi I DPR RI Dave Akbarshah Fikarno Laksono mendorong penguatan kolaborasi sektor perikanan antara Indonesia dan Vietnam. Upaya tersebut dilakukan melalui serangkaian pertemuan dengan pelaku industri dan pemangku kepentingan strategis di Ho Chi Minh City, Vietnam, usai menghadiri ASEAN Future Forum (AFF) 2026 di Hanoi.
Kegiatan ini menjadi bagian dari diplomasi parlemen yang tidak hanya mempererat hubungan bilateral, tetapi juga menjajaki peluang kerja nyata yang memberikan manfaat ekonomi bagi kedua negara. Dave menekankan pentingnya transformasi potensi sumber daya kelautan Indonesia menjadi nilai ekonomi yang lebih tinggi melalui penguatan industri pengolahan, modernisasi rantai pasok, dan perluasan akses pasar internasional.
Latar Belakang dan Potensi Kerja Sama
Indonesia dan Vietnam memiliki potensi besar di sektor maritim. Vietnam dikenal sebagai salah satu eksportir perikanan terbesar di dunia, dengan pengalaman panjang dalam mengembangkan industri perikanan yang kompetitif. Sementara itu, Indonesia memiliki sumber daya kelautan yang melimpah, namun masih menghadapi tantangan dalam hal hilirisasi dan peningkatan daya saing produk.
Menurut data Kementerian Kelautan dan Perikanan, nilai ekspor perikanan Indonesia pada tahun 2025 mencapai USD 5,2 miliar, sementara Vietnam mencatat USD 8,8 miliar. Perbedaan ini menunjukkan adanya celah yang dapat dijembatani melalui kerja sama bilateral. Dave optimistis bahwa kolaborasi ini dapat mendorong peningkatan kapasitas produksi, transfer teknologi, dan perluasan pasar ekspor bagi produk perikanan Indonesia.
| Indikator | Indonesia | Vietnam |
|---|---|---|
| Nilai Ekspor Perikanan (2025) | USD 5,2 miliar | USD 8,8 miliar |
| Kontribusi terhadap PDB | 2,5% | 3,1% |
| Jumlah Nelayan | 2,7 juta | 1,2 juta |
Fokus Pembahasan: Hilirisasi dan Transfer Teknologi
Dalam pertemuan dengan sejumlah perusahaan perikanan Vietnam, Dave menyoroti pentingnya hilirisasi sebagai kunci peningkatan nilai tambah. Saat ini, sebagian besar produk perikanan Indonesia masih diekspor dalam bentuk bahan baku mentah. Dengan mengadopsi teknologi pengolahan yang lebih modern, Indonesia dapat menghasilkan produk bernilai tinggi seperti fillet beku, surimi, dan produk olahan lainnya.
“Kita ingin nelayan Indonesia tidak hanya menjadi pemasok bahan baku, tetapi juga menjadi bagian dari ekosistem industri yang menghasilkan produk bernilai tinggi. Karena itu, hilirisasi sektor perikanan harus terus diperkuat agar manfaat ekonominya dapat dirasakan lebih luas,” ujar Dave dalam keterangan tertulis, Kamis, 11 Juni 2026.
Transfer teknologi menjadi salah satu agenda utama. Vietnam telah berhasil mengembangkan teknologi budidaya perikanan yang efisien, sistem rantai dingin (cold chain) yang handal, serta teknik pengemasan yang memenuhi standar internasional. Indonesia dapat belajar dari pengalaman tersebut untuk meningkatkan kualitas dan daya saing produknya.
Perluasan Akses Pasar dan Investasi
Pertemuan tersebut juga membuka peluang perluasan akses produk perikanan Indonesia ke berbagai pasar internasional. Vietnam memiliki jaringan ekspor yang luas ke negara-negara seperti Jepang, Amerika Serikat, dan Uni Eropa. Melalui kolaborasi ini, produk perikanan Indonesia dapat memanfaatkan jalur distribusi yang sudah ada di Vietnam.
Selain itu, investasi dari perusahaan Vietnam ke Indonesia juga menjadi topik diskusi. Beberapa perusahaan perikanan Vietnam menyatakan minatnya untuk mendirikan pabrik pengolahan di Indonesia, terutama di kawasan timur yang kaya akan sumber daya kelautan. Hal ini diharapkan dapat menciptakan lapangan kerja baru dan meningkatkan perekonomian masyarakat pesisir.
Dampak dan Implikasi bagi Masyarakat dan Industri
Kolaborasi ini diharapkan membawa dampak positif yang signifikan. Bagi masyarakat pesisir, peningkatan nilai tambah produk perikanan berarti pendapatan yang lebih tinggi. Nelayan tidak lagi hanya menjual ikan segar dengan harga murah, tetapi dapat memasok bahan baku ke pabrik pengolahan yang memberikan harga lebih baik.
Bagi industri perikanan nasional, kerja sama ini mendorong modernisasi dan peningkatan daya saing. Dengan adopsi teknologi dan praktik terbaik dari Vietnam, industri pengolahan ikan Indonesia dapat memenuhi standar internasional, sehingga membuka peluang ekspor yang lebih luas.
Dari sisi pemerintah, diplomasi parlemen yang dilakukan Dave Laksono menunjukkan peran aktif legislatif dalam mendukung agenda ekonomi nasional. Hal ini sejalan dengan visi Indonesia sebagai poros maritim dunia.
Kronologi Kegiatan
- 25-27 Mei 2026: Dave Laksono bersama delegasi parlemen Indonesia menghadiri ASEAN Future Forum (AFF) 2026 di Hanoi, Vietnam.
- 28 Mei 2026: Delegasi bertolak ke Ho Chi Minh City untuk melakukan serangkaian pertemuan dengan pelaku industri perikanan.
- 29 Mei 2026: Pertemuan dengan perusahaan perikanan Vietnam, membahas peningkatan kapasitas produksi, transfer teknologi, dan investasi.
- 30 Mei 2026: Kunjungan ke pabrik pengolahan ikan modern di kawasan industri Tan Thuan, Ho Chi Minh City.
- 11 Juni 2026: Dave Laksono menyampaikan hasil pertemuan dalam keterangan pers di Jakarta.
Prospek ke Depan
Dave menegaskan bahwa diplomasi parlemen harus mampu menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat. Kolaborasi antara pemerintah, parlemen, dan dunia usaha kedua negara diyakini mampu menghadirkan manfaat berkelanjutan bagi pembangunan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat.
Ke depannya, akan dibentuk kelompok kerja bersama (joint working group) yang terdiri dari perwakilan pemerintah dan pelaku usaha untuk memonitor realisasi kerja sama. Langkah konkret seperti program pelatihan bagi nelayan Indonesia, pendirian pusat riset perikanan bersama, serta pameran dagang produk perikanan juga akan digelar.
Dengan semangat kemitraan yang setara, Indonesia dan Vietnam dapat saling melengkapi. Indonesia dengan sumber daya alamnya, Vietnam dengan pengalaman industrinya. Kolaborasi ini bukan hanya tentang angka ekspor, tetapi tentang masa depan masyarakat pesisir yang lebih sejahtera dan industri perikanan yang berdaya saing global.
Di tengah persaingan global yang semakin ketat, langkah Dave Laksono ini menjadi angin segar bagi sektor perikanan nasional. Bukan sekadar wacana, tetapi aksi nyata yang diharapkan segera membuahkan hasil.
Artikel ini dipublikasikan oleh Suara Pecari.
Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.












