DPR Dukung Hilirisasi Tembaga untuk Kemandirian Industri Pertahanan

DPR Dukung Hilirisasi Tembaga untuk Kemandirian Industri Pertahanan

Suara Pecari | RRI.CO.ID, Jakarta – Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) menekankan pentingnya percepatan hilirisasi tembaga untuk meningkatkan kemandirian industri pertahanan nasional dan mengurangi ketergantungan terhadap impor bahan baku amunisi. Hal ini disampaikan oleh Wakil Ketua Komisi I DPR RI, Dave Laksono, dalam sebuah pernyataan di Jakarta pada Kamis, 21 Mei 2026.

Dave mengungkapkan bahwa meskipun Indonesia memiliki sekitar 3 persen cadangan tembaga dunia, kebutuhan strategis untuk industri pertahanan, termasuk bahan baku selongsong amunisi, masih bergantung pada impor dari luar negeri. “Dengan adanya integrasi antara sektor pertambangan dan industri pertahanan, Indonesia tidak hanya mengurangi ketergantungan pada impor bahan baku, tetapi juga memperkuat posisi dalam menjaga kedaulatan dan keamanan nasional,” ujarnya.

Data dari Kementerian Investasi/BKPM menunjukkan bahwa Indonesia menduduki peringkat ketujuh di dunia dalam hal cadangan tembaga dan peringkat ke-11 dalam produksi tambang tembaga. Namun, dalam hal industri hilir tembaga, Indonesia masih berada di posisi ke-18 dunia.

Pengolahan tembaga secara terintegrasi dinilai dapat mendukung kebutuhan alat utama sistem persenjataan (alutsista), mulai dari amunisi hingga teknologi pertahanan strategis lainnya. Salah satu produk hilir yang kini mendapatkan perhatian adalah brass cup, yang merupakan bahan baku utama untuk selongsong amunisi dan masih harus diimpor.

Langkah konkret dalam industri telah dimulai oleh MIND ID melalui PT Freeport Indonesia, yang bekerja sama dengan DEFEND ID melalui PT Pindad untuk memproduksi brass cup di Gresik. Fasilitas produksi ini ditargetkan memiliki kapasitas hingga 10.000 ton per tahun untuk memenuhi kebutuhan komponen amunisi di dalam negeri.

Selain itu, MIND ID juga berencana mengembangkan fasilitas produksi batang tembaga dan kawat tembaga dengan kapasitas 300.000 ton per tahun, serta pabrik pipa tembaga dengan kapasitas 100.000 ton per tahun yang berbasis katoda tembaga hasil produksi Freeport Indonesia.

Dave menegaskan bahwa Komisi I DPR RI akan terus mendorong sinergi antara pemerintah, Badan Usaha Milik Negara (BUMN), dan sektor swasta. Dengan demikian, hilirisasi tembaga diharapkan dapat memberikan nilai tambah bagi industri pertahanan nasional dan memperkuat kemandirian strategis Indonesia.

Artikel ini dipublikasikan oleh Suara Pecari.

Tinggalkan Balasan