Khofifah Dampingi Wapres Gibran Tinjau Revitalisasi Pasar Induk Banyuwangi
Suara Pecari, Banyuwangi – Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa mendampingi Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka meninjau hasil revitalisasi Pasar Induk Banyuwangi di Jalan Susuit Tubun, Kecamatan Banyuwangi, Jumat 10 Juni 2026. Kunjungan ini menjadi momentum penting bagi pengembangan pasar tradisional di Indonesia, khususnya di Jawa Timur. Khofifah menilai konsep penataan pasar yang baru mampu menghadirkan lingkungan yang lebih bersih, rapi, dan nyaman bagi pedagang maupun pembeli.
Revitalisasi yang Menghormati Sejarah
Pasar Induk Banyuwangi dibangun di atas lahan seluas 10.600 meter persegi dengan luas bangunan mencapai 15.873 meter persegi. Pasar dua lantai ini memiliki kapasitas 798 unit yang terdiri atas 397 kios, 356 los, dan 45 kios existing, dengan pembagian zona pangan basah, pangan kering, nonpangan, pecah belah, hingga kuliner. Menurut Khofifah, revitalisasi difokuskan pada penataan ruang agar aktivitas perdagangan lebih tertib melalui pemisahan area pangan basah dan kering serta komoditas pangan dan nonpangan. Ia juga menyebut bangunan heritage tetap dipertahankan sehingga identitas pasar tidak hilang. “Pasar ini kan bangunan heritage, jadi tidak diubah total, masih dipertahankan beberapa sisinya. Sehingga revitalisasi difokuskan pada penataan agar lebih bersih, lebih rapi,” ujarnya.
Dampak Ekonomi dan Pariwisata
Khofifah menambahkan, kawasan kuliner yang dirancang beroperasi hingga 24 jam diharapkan mampu memperkuat Banyuwangi sebagai destinasi wisata kuliner sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi daerah. Dengan adanya zona kuliner yang buka 24 jam, pasar ini tidak hanya menjadi pusat perdagangan di siang hari, tetapi juga menjadi ikon wisata malam yang dapat menarik wisatawan domestik maupun mancanegara. Hal ini sejalan dengan program pemerintah daerah untuk meningkatkan kunjungan wisatawan ke Banyuwangi yang terkenal dengan keindahan alam dan budayanya.
Revitalisasi Pasar Induk Banyuwangi juga diharapkan dapat meningkatkan pendapatan asli daerah (PAD) melalui retribusi pasar dan pajak daerah. Dengan kondisi pasar yang lebih bersih dan tertib, diharapkan minat pedagang dan pembeli meningkat, sehingga transaksi ekonomi semakin bergairah. Selain itu, pasar ini juga diharapkan menjadi model bagi revitalisasi pasar tradisional di kota-kota lain di Indonesia.
Kronologi Revitalisasi
Proyek revitalisasi Pasar Induk Banyuwangi dimulai pada awal tahun 2025 dan berlangsung selama kurang lebih 18 bulan. Tahap awal meliputi perencanaan dan pembongkaran bangunan lama yang tidak layak, dilanjutkan dengan pembangunan struktur baru yang tetap mempertahankan fasad heritage. Proses ini melibatkan konsultan arsitektur yang ahli dalam konservasi bangunan cagar budaya. Setelah struktur selesai, dilakukan penataan interior dan pembagian zona sesuai dengan standar pasar modern. Proyek ini menelan anggaran sekitar Rp 150 miliar yang bersumber dari APBD Provinsi Jawa Timur dan APBD Kabupaten Banyuwangi.
Data Revitalisasi Pasar Induk Banyuwangi
| Aspek | Detail |
|---|---|
| Luas Lahan | 10.600 m² |
| Luas Bangunan | 15.873 m² |
| Jumlah Unit | 798 unit (397 kios, 356 los, 45 kios existing) |
| Zona | Pangan basah, pangan kering, nonpangan, pecah belah, kuliner |
| Fokus Revitalisasi | Penataan ruang, pemisahan zona, pertahankan heritage |
| Anggaran | Rp 150 miliar (APBD Provinsi Jatim & Kab. Banyuwangi) |
| Durasi | 18 bulan (2025-2026) |
Testimoni Pedagang
Salah seorang pedagang, Eva Alfiyanti (43), mengaku senang dengan perubahan wajah Pasar Induk Banyuwangi setelah direvitalisasi. Ia berharap pasar segera diresmikan agar pedagang dapat kembali menempati kios dan los yang telah disiapkan. “Alhamdulillah sudah bisa dibangun dengan bagus, perbedaannya jauh sekali. Mudah-mudahan perekonomian bisa kembali seperti semula karena terjadi penurunan sangat drastis semenjak pasar kita pindah,” katanya. Eva juga menambahkan bahwa selama proses revitalisasi, para pedagang ditempatkan di lokasi sementara yang kurang strategis, sehingga omzet mereka menurun drastis. Kini mereka berharap dengan pasar baru, pembeli akan kembali ramai.
Implikasi bagi Daerah Lain
Keberhasilan revitalisasi Pasar Induk Banyuwangi diharapkan menjadi model bagi pengembangan pasar tradisional di daerah lain di Indonesia. Konsep yang menggabungkan nilai sejarah dengan modernitas dapat menjadi solusi untuk meningkatkan daya saing pasar tradisional di tengah maraknya pusat perbelanjaan modern dan e-commerce. Selain itu, revitalisasi ini juga menunjukkan komitmen pemerintah daerah dalam melestarikan warisan budaya sambil mendorong pertumbuhan ekonomi.
Penutup
Di tengah sorotan nasional, Pasar Induk Banyuwangi kini berdiri megah sebagai simbol harmonisasi antara tradisi dan kemajuan. Dengan dukungan penuh dari pemerintah pusat dan daerah, pasar ini tidak hanya menjadi tempat bertemunya penjual dan pembeli, tetapi juga menjadi cermin bagaimana sebuah kota bisa menghargai sejarahnya sambil melangkah ke masa depan. Bagi Banyuwangi, revitalisasi ini adalah langkah nyata menuju kemandirian ekonomi yang berkelanjutan.
Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial Suara Pecari.










