Butuh 16 Tahun, Ruas Jalan Bendungan – Rejosari Kini Mulus
Menanti 16 Tahun, Jalan Bendungan-Rejosari Akhirnya Diperbaiki
Suara Pecari | Pasuruan – Setelah melalui perjuangan panjang selama 16 tahun, ruas Jalan Bendungan-Rejosari di Kabupaten Pasuruan akhirnya mendapatkan perbaikan yang layak. Jalan yang selama ini dikenal dengan lubang dan gelombang yang menyusahkan warga kini mulai mulus. Pemerintah Kabupaten Pasuruan melalui Dinas Sumber Daya Air, Bina Marga, dan Bina Konstruksi (SDABMBK) bergerak cepat untuk mengembalikan fungsi jalan sebagai akses utama bagi warga desa dan jalur alternatif untuk menghindari kemacetan di jalan nasional.
Kronologi Perbaikan yang Tertunda
Ruas Jalan Bendungan-Rejosari terakhir kali mengalami perbaikan besar pada tahun 2010. Sejak saat itu, kondisi jalan terus memburuk tanpa penanganan yang berarti. Lubang-lubang besar dan permukaan bergelombang menjadi pemandangan sehari-hari, memaksa pengguna jalan untuk melambatkan kendaraan atau mencari jalur alternatif. Baru pada pertengahan tahun 2026, proyek perbaikan dimulai setelah melalui berbagai tahap perencanaan dan penganggaran.
| Tahun | Kejadian |
|---|---|
| 2010 | Perbaikan terakhir sebelum periode kerusakan panjang |
| 2010-2025 | Kerusakan progresif tanpa penanganan signifikan |
| 2026 | Proyek perbaikan dimulai, ditargetkan selesai tahun yang sama |
Dampak bagi Masyarakat dan Perekonomian
Perbaikan jalan ini membawa dampak langsung bagi warga Desa Rejosari dan sekitarnya. M. Yunus, seorang petani setempat, mengungkapkan rasa syukurnya. “Alhamdulillah, setelah sekitar 16 tahun akhirnya jalan ini diperbaiki. Sebagai petani, akses ke sawah dan pengangkutan hasil panen menjadi lebih mudah,” katanya. Jalan yang mulus tidak hanya mempercepat mobilitas, tetapi juga mengurangi biaya operasional kendaraan dan risiko kecelakaan.
Selain petani, pengguna jalan yang memanfaatkan ruas ini sebagai jalur alternatif juga merasakan manfaatnya. Kepala Dinas SDABMBK Kabupaten Pasuruan, Sarinah Rostief, menekankan pentingnya ruas ini. “Ruas Bendungan-Rejosari memiliki peran strategis. Selain akses warga, jalan ini digunakan sebagai jalur alternatif untuk menghindari kepadatan di jalan nasional. Peningkatan kualitas jalan sangat penting,” ujarnya.
Faktor Penyebab Keterlambatan Perbaikan
Lambatnya perbaikan jalan selama 16 tahun dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain keterbatasan anggaran daerah, prioritas pembangunan yang bergeser, serta prosedur birokrasi yang panjang. Namun, dengan komitmen pemerintah daerah dan desakan masyarakat, akhirnya proyek ini terealisasi. Ke depannya, diharapkan adanya sistem pemantauan dan perawatan berkala agar kondisi jalan tetap terjaga.
Harapan ke Depan
Sarinah Rostief berharap selesainya proyek ini memberikan manfaat luas. “Perbaikan ini diharapkan mampu meningkatkan konektivitas antarwilayah, memperlancar distribusi hasil pertanian, serta memberikan rasa aman dan nyaman bagi masyarakat yang selama belasan tahun beraktivitas di atas jalan rusak,” tutupnya. Dengan mulusnya jalan, aktivitas ekonomi warga diharapkan meningkat, membuka peluang baru bagi pengembangan desa dan kesejahteraan masyarakat.
Setelah 16 tahun penuh penantian, kini warga Desa Rejosari dan sekitarnya dapat bernapas lega. Jalan yang dulunya menjadi momok kini berubah menjadi arteri kehidupan yang menghubungkan mereka dengan dunia luar. Perbaikan ini bukan sekadar proyek infrastruktur, melainkan simbol harapan dan keadilan bagi masyarakat yang selama ini merasa terabaikan. Semoga perawatan dan pengawasan berkelanjutan dapat menjaga kualitas jalan ini, sehingga manfaatnya dapat dirasakan dalam jangka panjang.
Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial Suara Pecari.
Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.






