KH Suyuti Toha Tegaskan Pesan Persatuan: Indonesia Tak Boleh Terpecah
Suara Pecari | Dalam sebuah pertemuan yang diabadikan lewat video call, Pesan ulama kharismatik KH Suyuti Toha untuk Indonesia: Jangan sampai terpecah, tetap satu dan utuh [titlebase] disampaikan secara tegas kepada putra bangsa, Putut Prabantoro, sekaligus kepada Romo Damianus Fadjar. Kedua tokoh tersebut berada dalam lingkaran silaturahmi yang menghubungkan dunia Islam dan Kristen, menegaskan pentingnya persatuan nasional di tengah dinamika sosial‑politik saat ini.
KH Suyuti Toha, yang akrab disapa Mbah Yai, merupakan pengasuh Pondok Pesantren Mansyaul Huda di Kabupaten Banyuwangi. Pada 14 Juni 2026, beliau menerima kunjungan Romo Fadjar, pastor paroki St. Paulus Kraksaan, Probolinggo, yang sekaligus mengantarkan AM Putut Prabantoro, alumni Lemhannas dan pendiri Paguyuban Wartawan Katolik Indonesia, ke dalam lingkungan pesantren. Pertemuan tersebut tidak sekadar bersifat sosial, melainkan menjadi wadah pertukaran pandangan tentang moderasi beragama dan persatuan bangsa.
Setelah pertemuan fisik, pada 16 Juni 2026, KH Suyuti Toha melanjutkan dialognya lewat video call dengan Putut Prabantoro. Pada kesempatan itu, ulama kharismatik tersebut menegaskan kembali Pesan ulama kharismatik KH Suyuti Toha untuk Indonesia: Jangan sampai terpecah, tetap satu dan utuh [titlebase]. Ia menekankan bahwa agama tidak boleh dijadikan alat perpecahan, melainkan menjadi jembatan yang memperkuat ukhuwah wathaniyah dan ukhuwah basyariyah di antara seluruh komponen bangsa.
Menurut Putut Prabantoro, pesan yang disampaikan Mbah Yai mencakup tiga poin utama:
- Menjaga persatuan Indonesia dari ancaman perpecahan sektarian.
- Menguatkan rasa kebangsaan melalui ukhuwah wathaniyah, yaitu persaudaraan antar warga negara tanpa memandang suku, agama, ras, atau golongan.
- Mengembangkan ukhuwah basyariyah, persaudaraan universal yang melampaui batas kepercayaan dan budaya.
KH Suyuti Toha menambahkan bahwa Indonesia harus menolak segala upaya “adu domba” yang berusaha memecah belah persatuan. Ia menegaskan, “Bangsa Indonesia harus selalu memegang erat persatuan, menjaga keutuhan wilayah, dan menolak segala bentuk penyalahgunaan agama untuk kepentingan politik.” Pesan ini selaras dengan nilai Pancasila, khususnya sila Ketiga yang menekankan persatuan Indonesia.
Dalam konteks regional, pertemuan di Ponpes Mansyaul Huda menjadi contoh konkret moderasi beragama yang dapat direplikasi di seluruh Nusantara. Tradisi gendong, santap bersama di dapur, dan dialog terbuka antara tokoh agama menunjukkan bahwa persaudaraan lintas iman dapat terjalin tanpa mengorbankan identitas masing‑masing. Hal ini memperkuat posisi Banyuwangi sebagai kota yang mengedepankan toleransi dan kerukunan.
Pesan ulama kharismatik KH Suyuti Toha untuk Indonesia: Jangan sampai terpecah, tetap satu dan utuh [titlebase] kini menjadi gema yang bergema di kalangan aktivis, akademisi, dan masyarakat luas. Banyak pihak menilai bahwa semangat persatuan yang diusung oleh Mbah Yai sangat relevan di tengah isu‑isu separatisme dan intoleransi yang kerap muncul di media sosial.
Kesimpulannya, pertemuan antara KH Suyuti Toha, Romo Fadjar, dan Putut Prabantoro tidak hanya mempererat hubungan antar‑umat, melainkan juga menyuntikkan semangat persatuan yang kuat bagi seluruh bangsa. Dengan mengedepankan nilai-nilai ukhuwah wathaniyah dan basyariyah, Indonesia diharapkan dapat tetap satu, utuh, dan maju dalam keragaman yang menjadi kekuatannya.
Artikel ini dipublikasikan oleh Suara Pecari.
Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.












