Uji Coba Bus Listrik Kalista pada Rute Bekasi‑Yogyakarta Selesai, Sumber Alam Tunda Rencana Jalur Jakarta‑Yogyakarta

Dicky Mahardika
Uji Coba Bus Listrik Kalista pada Rute Bekasi‑Yogyakarta Selesai, Sumber Alam Tunda Rencana Jalur Jakarta‑Yogyakarta

Suara Pecari – 18 April 2026 | Uji coba bus listrik Kalista yang dipasangkan pada armada PT PO Sumber Alam Ekspres selesai pada 13 April 2026, menandai langkah signifikan dalam upaya elektrifikasi transportasi jarak jauh di Jawa.

Pengujian dilakukan antara Mei dan September 2025, melibatkan satu unit bus dengan baterai berkapasitas 303 kWh yang diisi penuh di garasi Sumber Alam Yogyakarta sebelum memulai perjalanan.

Rute yang ditempuh mencakup Pool Kutoarjo, Rest Area Ajibarang, Rest Area Cikamurang, hingga Pool Pondok Ungu di Bekasi, total jarak tercatat 543 kilometer.

Selama perjalanan, bus mencatat rata‑rata efisiensi energi 1,5 km per kWh, yang setara dengan penghematan energi sekitar 52 persen dibandingkan bus diesel konvensional.

Data tersebut menunjukkan bahwa bus listrik mampu menurunkan konsumsi listrik secara signifikan, sekaligus mengurangi emisi karbon yang biasanya dihasilkan kendaraan berbahan bakar fosil.

Anthony Steven Hambali, Direktur Utama PT PO Sumber Alam Ekspres, menegaskan bahwa uji coba dirancang untuk menguji performa di kondisi operasional nyata, bukan sekadar simulasi laboratorium.

“Kami ingin melihat bagaimana kendaraan berperilaku dalam layanan harian, termasuk faktor kenyamanan penumpang dan keandalan teknis,” ujarnya dalam wawancara dengan media pada Senin (13/4/2026).

Hasil sementara dinilai positif, namun Hambali menambahkan bahwa perusahaan belum memiliki rencana segera memperluas penggunaan bus listrik ke jalur Jogja‑Jakarta karena masih ada tantangan operasional.

Salah satu tantangan utama ialah kesiapan infrastruktur pengisian daya yang masih terbatas di sepanjang rute panjang, terutama di daerah perhentian antara Yogyakarta dan Bekasi.

Selain itu, biaya investasi awal untuk armada listrik masih lebih tinggi dibandingkan bus konvensional, meskipun penghematan biaya operasional dapat terakumulasi dalam jangka panjang.

Pemerintah daerah Jawa Tengah dan Jawa Barat telah menyatakan dukungan terhadap proyek percobaan ini, namun belum ada kebijakan insentif khusus yang dapat mempercepat adopsi massal.

Pakar transportasi, Dr. Rina Widyasari, mengingatkan bahwa skala adopsi bus listrik harus disertai perencanaan jaringan listrik yang stabil dan sumber energi terbarukan untuk mengoptimalkan manfaat lingkungan.

Ia menambahkan bahwa integrasi sistem manajemen energi pada depot dapat meningkatkan efisiensi pengisian dan memperpanjang umur baterai, sehingga total biaya kepemilikan menjadi lebih kompetitif.

Sejauh ini, Sumber Alam berencana mengembalikan unit bus ke produsen Kalista untuk evaluasi teknis lebih lanjut, termasuk analisis degradasi baterai setelah penempuh lebih dari 500 km.

Perusahaan juga akan menilai kemungkinan penerapan model hybrid atau bus listrik dengan kapasitas baterai lebih besar sebelum mempertimbangkan ekspansi ke rute Jakarta‑Yogyakarta yang lebih panjang.

Sektor transportasi publik di Indonesia masih mengandalkan bus diesel, namun percobaan seperti ini diharapkan menjadi contoh bagi operator lain dalam mengukur kelayakan transisi energi.

Menurut data Kementerian Perhubungan, target 30 % armada bus nasional beralih ke listrik pada 2030 memerlukan peningkatan infrastruktur pengisian setidaknya 2.500 titik charging.

Dengan hasil uji coba yang menunjukkan efisiensi energi dan penghematan biaya operasional, Sumber Alam menyimpulkan bahwa adopsi bus listrik tetap menjadi opsi strategis, asalkan dukungan infrastruktur dan kebijakan publik memadai.

Artikel menutup dengan catatan bahwa meskipun rute Jakarta‑Yogyakarta belum dijadwalkan, perusahaan tetap memantau perkembangan teknologi baterai dan regulasi untuk menentukan langkah selanjutnya.

Tinggalkan Balasan