Macet Panjang di Pelabuhan Ketapang Buat Pemudik Bawa Bayi dan Anak Kecil Terjebak Berjam-Jam
Suara Pecari – 15 April 2026 | Kemacetan yang melanda jalur balik menuju Pelabuhan Ketapang masih berlangsung pada Rabu, 1 April, menandai hari ke‑sepuluh sejak kemacetan pertama tercatat pada 28 Maret. Citra satelit pukul 19.20 WIB menunjukkan antrean kendaraan memanjang sekitar 14 kilometer.
Kendala ini menambah beban ribuan pemudik yang kembali menyeberang ke Bali setelah libur Lebaran, sehingga arus lalu lintas belum kembali normal. Selama lima hari pertama, antrean terus bertambah dan menimbulkan keluhan dari para pengendara.
Salah satu pengendara, Risky dari Madiun, mengemudi mobil pribadi bersama istri dan bayi berusia lima bulan. Ia terjebak di wilayah Wongsorejo sejak pukul 15.00 WIB dan baru dapat memasuki area pelabuhan sekitar pukul 18.00 WIB.
Risky mengingatkan bahwa ia harus menunggu hampir tiga jam sebelum dapat melanjutkan perjalanan, dan ia harus menggendong bayinya keluar mobil agar mendapatkan udara segar. “Anak saya tidak rewel, namun saya tetap khawatir karena lama menunggu,” ujarnya.
Pengemudi lain, Walid, mengemudikan kendaraan dengan anak berusia empat tahun di kursinya. Ia baru dapat masuk antrean pelabuhan pada pukul 17.30 WIB setelah terdiam sejak pukul 10.30 WIB, dan anaknya sempat menangis karena kelelahan.
Walid menilai situasi ini sebagai kemacetan terparah yang pernah ia alami selama musim mudik, menambahkan bahwa kondisi tersebut menguji kesabaran semua pihak. Ia berharap otoritas dapat mempercepat proses pembukaan jalur.
Data resmi ASDP Ketapang mencatat bahwa selama periode arus balik, sebanyak 404 ribu penumpang berjalan kaki atau dalam kendaraan telah berhasil menyeberang ke Bali, mencakup 78 persen total pemudik. Untuk kendaraan, tercatat 127 ribu unit atau 77 persen telah melintas.
Masih terdapat 113 ribu penumpang (22 persen) dan 37.365 kendaraan (23 persen) yang belum berhasil menyeberang, menandakan masih ada volume besar yang menunggu penyelesaian. Pihak pelabuhan mengaku sedang mengoptimalkan penataan lajur dan prosedur pemeriksaan.
Pemerintah daerah Banyuwangi bersama Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT) dan pihak kepolisian telah menambah petugas di titik‑titik rawan serta menyiapkan jalur alternatif untuk mengurangi kepadatan. Upaya tersebut diharapkan dapat memotong waktu tunggu secara signifikan.
Masyarakat yang terjebak juga melaporkan kurangnya fasilitas istirahat yang memadai, terutama bagi keluarga dengan balita dan bayi. Beberapa tempat istirahat sementara telah dibuka, namun kapasitasnya masih terbatas dibandingkan dengan jumlah pemudik.
Para pemudik mengingatkan bahwa keamanan dan kenyamanan selama perjalanan mudik menjadi prioritas, terutama bagi yang membawa anak kecil. Mereka menuntut transparansi dan komunikasi yang lebih baik dari otoritas pelabuhan terkait estimasi waktu antrean.
Dengan tekanan tinggi pada jaringan transportasi darat, para analis memprediksi bahwa kepadatan akan menurun setelah puncak arus balik pada akhir pekan ini, namun tetap diperlukan koordinasi lintas daerah untuk menghindari kemacetan serupa di masa mendatang.
Kondisi ini menegaskan pentingnya perencanaan infrastruktur yang responsif terhadap lonjakan penumpang musiman, serta perlunya peningkatan layanan bagi keluarga dengan anak kecil. Diharapkan langkah-langkah perbaikan dapat mempercepat alur lalu lintas dan mengurangi risiko.
Secara keseluruhan, situasi di Pelabuhan Ketapang menunjukkan tantangan logistik yang signifikan selama musim mudik, terutama bagi pemudik yang mengangkut bayi dan balita. Penanganan yang lebih cepat diharapkan dapat mengembalikan kondisi normal dalam beberapa hari ke depan.
Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.







