Penumpang Kereta Jakarta-Bandung Tembus 44,05 Juta, Tumbuh 8,2%
Suara Pecari | PT Kereta Api Indonesia (KAI) mencatat lonjakan signifikan jumlah penumpang pada lintas Jakarta menuju Bandung. Hingga Mei 2026, total pelanggan mencapai 44.049.159 orang, tumbuh 8,20 persen dibandingkan periode sebelumnya yang tercatat 40.709.534 orang. Realisasi ini mencerminkan semakin tingginya mobilitas masyarakat di koridor strategis Jawa Barat, sekaligus menegaskan peran vital kereta api sebagai tulang punggung transportasi massal.
Ragam Layanan Dorong Pertumbuhan
Vice President Corporate Communication KAI, Anne Purba, mengonfirmasi bahwa pertumbuhan ini didorong oleh keberagaman layanan yang disediakan. Mulai dari kereta api jarak jauh, kereta lokal, Commuter Line Cikarang, hingga kereta cepat Whoosh. “Mobilitas Jakarta-Bandung terus berkembang. Karena itu, KAI menghadirkan berbagai pilihan layanan agar pelanggan dapat menyesuaikan perjalanan dengan kebutuhan, mulai dari perjalanan langsung ke Stasiun Bandung, akses menuju Stasiun Kiaracondong dan Cimahi, hingga perjalanan lanjutan ke Garut, Tasikmalaya, Ciamis, Banjar, dan Purwokerto,” ujar Anne.
Kinerja Masing-Masing Layanan
Berikut adalah rincian jumlah penumpang per layanan kereta api pada lintas Jakarta-Bandung periode Januari-Mei 2026:
| Layanan Kereta Api | Jumlah Penumpang | Pertumbuhan (%) |
|---|---|---|
| Commuter Line Cikarang | 36.294.605 | – |
| Kereta Cepat Whoosh | 2.415.736 | – |
| Kereta Api Walahar (Cikarang-Purwakarta) | 1.807.649 | – |
| Kereta Lokal Cibatuan & Garut Cibatuan | 1.317.737 | – |
| Kereta Api Serayu (Pasar Senen-Purwokerto) | 568.759 | – |
| Kereta Api Jatiluhur (Cikarang-Cikampek) | 575.808 | – |
| Kereta Api Parahyangan (Gambir-Bandung PP) | 475.072 | 38,57% |
| Kereta Api Cikuray (Pasar Senen-Garut PP) | 266.993 | 7,13% |
| Kereta Api Papandayan (Gambir-Garut PP) | 180.640 | 18,91% |
| Kereta Api Pangandaran (Gambir-Banjar via Bandung) | 146.160 | – |
Data di atas menunjukkan dominasi Commuter Line Cikarang yang melayani 36,3 juta penumpang, diikuti oleh Kereta Cepat Whoosh dengan 2,4 juta penumpang. Sementara itu, kereta jarak jauh seperti Parahyangan dan Papandayan mencatat pertumbuhan tinggi, masing-masing 38,57% dan 18,91%.
Dampak dan Implikasi
Peningkatan jumlah penumpang ini membawa dampak positif bagi berbagai pihak. Bagi masyarakat, tersedianya beragam pilihan moda kereta api memberikan fleksibilitas dan efisiensi waktu. Bagi KAI, pertumbuhan ini menjadi indikator keberhasilan strategi pengembangan layanan dan integrasi antarmoda. Dari sisi ekonomi, meningkatnya mobilitas penduduk di koridor Jakarta-Bandung dapat mendorong pertumbuhan sektor pariwisata, perdagangan, dan industri di Jawa Barat. Namun, lonjakan ini juga menuntut KAI untuk terus meningkatkan kapasitas, frekuensi, dan kualitas pelayanan guna mengantisipasi potensi kepadatan di masa mendatang.
Kronologi Perkembangan
- 2019: KAI mulai mengintegrasikan layanan kereta lokal dan Commuter Line di lintas Jakarta-Bandung.
- 2023: Kereta Cepat Whoosh resmi beroperasi, menghubungkan Jakarta dan Bandung dalam waktu sekitar 40 menit.
- 2024: KAI memperluas rute kereta jarak jauh hingga ke Garut, Tasikmalaya, dan Purwokerto.
- Januari-Mei 2026: Total penumpang mencapai 44,05 juta, tumbuh 8,2% dibanding periode sebelumnya.
Perspektif KAI
Executive Vice President Corporate Secretary KAI, Wisnu Pramudya, mengimbau para pelanggan untuk merencanakan perjalanan dengan baik dan memanfaatkan aplikasi Access untuk pemesanan tiket kereta jarak jauh. “KAI akan terus memperkuat layanan, konektivitas, dan kemudahan perjalanan agar kereta api semakin menjadi pilihan utama masyarakat dalam bepergian dari Jakarta menuju Bandung, Garut, Priangan Timur, Purwokerto, dan berbagai stasiun lain di Jawa Barat,” kata Wisnu.
Penutup
Dengan capaian 44,05 juta penumpang dalam lima bulan pertama 2026, KAI membuktikan diri sebagai tulang punggung mobilitas di koridor Jakarta-Bandung. Pertumbuhan 8,2% ini bukan sekadar angka, melainkan cerminan kepercayaan masyarakat terhadap layanan kereta api yang aman, nyaman, dan efisien. Ke depan, tantangan integrasi antarmoda dan peningkatan kapasitas menjadi pekerjaan rumah yang harus diselesaikan agar tren positif ini terus berlanjut.
Artikel ini dipublikasikan oleh Suara Pecari.
Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.












