Kemenkes Perkuat Layanan dan Ekosistem Ramah Lansia menuju Indonesia Sehat
Suara Pecari | Jakarta – Kementerian Kesehatan (Kemenkes) terus memperkuat layanan kesehatan bagi lanjut usia (lansia) sebagai bagian dari upaya mewujudkan lansia yang sehat, mandiri, dan bermartabat. Wakil Menteri Kesehatan, Dante Saksono Harbuwono, menegaskan komitmen tersebut dalam sambutannya pada peringatan Hari Lanjut Usia Nasional Kesehatan 2026 di Jakarta, Sabtu, 13 Juni 2026. Menurut Dante, transformasi layanan kesehatan ramah lansia telah berjalan signifikan, dengan sekitar 87 persen puskesmas di Indonesia telah bertransformasi menjadi puskesmas santun lansia. Selain itu, penguatan layanan geriatri terpadu di rumah sakit terus dilakukan untuk menjawab kebutuhan kesehatan lansia yang semakin kompleks.
Transformasi Puskesmas Santun Lansia
Data Kemenkes menunjukkan bahwa dari total 10.374 puskesmas di Indonesia, sekitar 9.025 puskesmas (87%) telah memenuhi standar sebagai puskesmas santun lansia. Transformasi ini mencakup penyediaan fasilitas ramah lansia, seperti kursi tunggu yang nyaman, akses tanpa hambatan, serta pelayanan khusus lansia seperti posyandu lansia dan kunjungan rumah. Dante menekankan bahwa puskesmas santun lansia menjadi garda terdepan dalam memberikan pelayanan kesehatan primer bagi lansia.
| Indikator | Capaian |
|---|---|
| Puskesmas Santun Lansia | 87% (9.025 dari 10.374) |
| Rumah Sakit dengan Layanan Geriatri Terpadu | Terus diperkuat di seluruh provinsi |
| Posyandu Lansia Aktif | Lebih dari 80% desa/kelurahan |
Penguatan Layanan Geriatri di Rumah Sakit
Selain puskesmas, Kemenkes juga memperkuat layanan geriatri di rumah sakit, terutama rumah sakit rujukan tingkat provinsi dan kabupaten/kota. Layanan geriatri terpadu mencakup penanganan multidisiplin yang melibatkan dokter spesialis geriatri, perawat, ahli gizi, dan fisioterapis. Program ini bertujuan untuk menangani penyakit degeneratif yang umum pada lansia, seperti hipertensi, diabetes melitus, osteoporosis, dan demensia. Dante menyebutkan bahwa saat ini sudah ada 234 rumah sakit yang memiliki poliklinik geriatri, dan targetnya pada tahun 2027 seluruh rumah sakit kabupaten/kota memiliki layanan tersebut.
Ekosistem Pendukung: Pemberdayaan Lansia dan Caregiver
Kemenkes tidak hanya fokus pada aspek medis, tetapi juga mengembangkan program pemberdayaan lansia yang mencakup berbagai aspek kehidupan. Program tersebut meliputi:
- Kesehatan fisik dan mental: Senam lansia, pemeriksaan kesehatan rutin, dan konseling psikologis.
- Literasi finansial: Pelatihan pengelolaan keuangan untuk lansia agar dapat mandiri secara ekonomi.
- Pemanfaatan teknologi: Pengenalan aplikasi kesehatan dan komunikasi digital untuk mengurangi kesenjangan digital.
- Penguatan peran caregiver: Pelatihan bagi keluarga dan pendamping lansia dalam merawat lansia dengan baik.
Dante menekankan pentingnya dukungan keluarga dalam mewujudkan kesejahteraan lansia. “Kesehatan lansia bukan hanya urusan medis semata. Dukungan masyarakat diperlukan untuk mewujudkan lansia sehat dan sejahtera,” ujarnya dalam sambutan.
Dampak dan Implikasi
Penguatan layanan dan ekosistem ramah lansia diharapkan dapat meningkatkan kualitas hidup lansia Indonesia. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah lansia di Indonesia pada tahun 2025 mencapai 30,2 juta jiwa atau sekitar 11% dari total populasi. Dengan meningkatnya usia harapan hidup, tantangan kesehatan lansia semakin kompleks. Program ini berpotensi menurunkan beban penyakit degeneratif, mengurangi angka kematian akibat penyakit tidak menular, dan meningkatkan produktivitas lansia.
Dari sisi ekonomi, lansia yang sehat dapat terus berkontribusi dalam keluarga dan masyarakat. Dante menyebutkan bahwa lansia memiliki peran penting sebagai penjaga nilai-nilai budaya, pengasuh cucu, dan bahkan sebagai tenaga kerja informal. “Lansia sehat berarti keluarga bahagia. Lansia bermartabat berarti bangsa yang beradab,” tegasnya.
Namun, tantangan masih ada, terutama di daerah terpencil dan kepulauan. Akses terhadap layanan kesehatan yang ramah lansia belum merata. Kemenkes berencana memperluas program puskesmas santun lansia ke seluruh puskesmas pada tahun 2027, serta meningkatkan kapasitas tenaga kesehatan dalam menangani lansia.
Kronologi Peristiwa
Berikut adalah kronologi kebijakan Kemenkes terkait layanan ramah lansia:
- 2023: Kemenkes meluncurkan program transformasi puskesmas menjadi puskesmas santun lansia.
- 2024: Sebanyak 60% puskesmas telah bertransformasi. Layanan geriatri mulai diperkuat di rumah sakit provinsi.
- 2025: Capaian puskesmas santun lansia mencapai 80%. Program pemberdayaan lansia diperluas ke 200 kabupaten/kota.
- 2026: Capaian 87% puskesmas santun lansia diumumkan pada peringatan Hari Lanjut Usia Nasional Kesehatan 2026.
Penutup: Menuju Lansia Sehat dan Bermartabat
Peringatan Hari Lanjut Usia Nasional Kesehatan 2026 menjadi momentum penting bagi Kemenkes untuk menegaskan komitmennya dalam menciptakan ekosistem yang mendukung lansia. Dengan transformasi puskesmas, penguatan layanan geriatri, dan pemberdayaan lansia serta caregiver, Indonesia bergerak menuju masa depan di mana lansia tidak hanya panjang umur, tetapi juga sehat, mandiri, dan bermartabat. Dukungan semua pihak, mulai dari pemerintah, tenaga kesehatan, keluarga, hingga masyarakat, menjadi kunci keberhasilan program ini. Seperti pesan Dante, “Lansia adalah aset berharga bangsa. Mari kita rawat mereka dengan penuh kasih dan hormat.”
Artikel ini dipublikasikan oleh Suara Pecari.
Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.










