Kisah Remaja Peduli Lingkungan, Berawal dari Resah, Berujung Kalpataru
Suara Pecari | Jakarta – Di usia 18 tahun, Marshela Wahyu Muntia telah membuktikan bahwa kepedulian terhadap lingkungan tidak mengenal batas usia. Remaja asal Kabupaten Sragen, Jawa Tengah ini menjadi salah satu penerima Kalpataru Youth Award 2026, penghargaan tertinggi di bidang lingkungan hidup yang diberikan kepada generasi muda inspiratif. Penghargaan ini diinisiasi langsung oleh Kementerian Lingkungan Hidup. Perjalanan Marshela dimulai dari kegelisahannya melihat kondisi lingkungan di daerah tempat tinggalnya. Sejak usia 15 tahun, ia aktif mengikuti berbagai kegiatan lingkungan. Namun, kepedulian itu tidak berhenti pada aktivitas seremonial semata.
Awal Mula Kepedulian: Dari Resah Menjadi Aksi Nyata
Tiga tahun lalu, saat berusia 16 tahun, Marshela mendirikan Warsa Kelana (Wadah Aksi Remaja Peduli Kelestarian Alam Nusantara). Komunitas ini menghimpun anak-anak muda di Sragen untuk terlibat langsung dalam upaya restorasi lahan kritis. “Awalnya dari kesadaran sendiri ikut kegiatan lingkungan dan saya berpikir anak muda juga bisa berperan dalam menjaga alam,” ujar Marshela kepada rri.co.id, ditulis Sabtu, 13 Juni 2026. Fokus utama Warsa Kelana adalah pemulihan lahan kritis yang banyak ditemukan di wilayah utara Bengawan Solo, khususnya Kabupaten Sragen. Bersama 25 hingga 50 sukarelawan, Marshela rutin melakukan penanaman pohon dan berbagai kegiatan pemulihan lahan.
Inovasi Pupuk Saphio: Solusi dari Limbah Peternakan
Tak hanya menggerakkan komunitas, Marshela juga menghadirkan inovasi yang lahir dari persoalan di sekitarnya. Melihat banyaknya limbah peternakan sapi yang belum termanfaatkan, ia mengembangkan Pupuk Saphio, pupuk organik berbahan dasar limbah ternak yang digunakan untuk membantu meningkatkan kesuburan tanah. Menurutnya, persoalan lingkungan sering kali dapat diselesaikan dengan pendekatan sederhana apabila masyarakat mampu melihat potensi yang ada. Inovasi ini tidak hanya membantu restorasi lahan, tetapi juga memberikan nilai tambah bagi peternak setempat.
Dukungan dan Pembelajaran dari Berbagai Pihak
Dalam membangun kapasitasnya, Marshela tidak berjalan sendiri. Ia banyak belajar dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Sragen, mulai dari teknik pembibitan, penanaman, hingga pengolahan pupuk organik. Selain itu, ia juga memanfaatkan berbagai sumber pengetahuan digital untuk memperluas wawasan terkait konservasi lingkungan. Dedikasinya di bidang lingkungan bahkan telah mendapat pengakuan sebelumnya. Pada 2024, Marshela meraih penghargaan Green Ambassador Nasional yang diselenggarakan Institut Hijau Indonesia bersama Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.
Tantangan: Membangkitkan Kesadaran Bergerak Nyata
Mengajak anak muda untuk terlibat dalam gerakan lingkungan bukan perkara mudah. Marshela mengakui tantangan terbesar bukanlah mengunggah pesan-pesan kampanye di media sosial, melainkan membangkitkan kesadaran bergerak secara nyata. “Tantangannya bukan membuat konten saja. Melainkan bagaimana membuat orang mau terlibat dan bergerak,” katanya. Untuk itu, ia aktif melakukan sosialisasi ke sekolah-sekolah di Sragen. Setelah memperkenalkan isu lingkungan dan berbagai program yang dijalankan, Warsa Kelana membuka rekrutmen sukarelawan bagi para pelajar yang tertarik berkontribusi. Marshela juga memanfaatkan teknologi digital sebagai sarana edukasi. Melalui situs pribadinya, ia menyediakan berbagai artikel dan materi kampanye lingkungan yang dapat diakses secara gratis oleh masyarakat.
Hambatan Alam dan Upaya Restorasi
Selain tantangan sumber daya manusia, faktor alam juga menjadi hambatan dalam program restorasi lahan. Musim kemarau yang panjang di Sragen sering kali menyulitkan proses penanaman karena keterbatasan air. Tim Warsa Kelana terlebih dahulu melakukan pemulihan kualitas tanah melalui pembuatan biopori dan pemupukan sebelum memasuki masa tanam. Upaya yang dilakukan secara konsisten mulai menunjukkan hasil. Hingga saat ini, sekitar satu hektare lahan kritis berhasil direstorasi dan ditanami berbagai tanaman produktif seperti alpukat dan nangka. Sebagian tanaman alpukat yang ditanam di wilayah Gesi, Sragen, bahkan telah memasuki masa panen.
Dampak dan Implikasi: Inspirasi bagi Generasi Muda
Keberhasilan Marshela dan Warsa Kelana memberikan dampak positif yang luas. Selain memulihkan lahan kritis, kegiatan ini juga meningkatkan kesadaran lingkungan di kalangan remaja Sragen. Program restorasi lahan juga memberikan manfaat ekonomi melalui panen tanaman produktif. Implikasi dari kisah Marshela adalah bahwa generasi muda dapat menjadi agen perubahan yang efektif dalam menjaga lingkungan. Penghargaan Kalpataru yang diterimanya diharapkan dapat menginspirasi lebih banyak remaja untuk terlibat dalam aksi nyata.
Kronologi Perjalanan Marshela
- 2021 (usia 15 tahun): Mulai aktif mengikuti kegiatan lingkungan.
- 2023 (usia 16 tahun): Mendirikan Warsa Kelana.
- 2024: Meraih Green Ambassador Nasional.
- 2026: Menerima Kalpataru Youth Award.
Data Program Restorasi Lahan Warsa Kelana
| Indikator | Capaian |
|---|---|
| Luas lahan direstorasi | 1 hektare |
| Jenis tanaman | Alpukat, nangka |
| Jumlah sukarelawan | 25-50 orang |
| Inovasi pupuk | Pupuk Saphio (limbah ternak) |
Bagi Marshela, penghargaan Kalpataru bukanlah akhir perjalanan. Justru penghargaan tersebut menjadi pengingat bahwa generasi muda memiliki tanggung jawab besar dalam menjaga keberlanjutan lingkungan. “Karena itu, generasi muda harus ikut menjaga lingkungan. Sebab kitalah yang akan menjadi penerus sekaligus penyelamat lingkungan di masa mendatang,” ucapnya. Kisah Marshela adalah bukti bahwa dari kegelisahan, lahir aksi nyata yang menginspirasi banyak orang.
Artikel ini dipublikasikan oleh Suara Pecari.
Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.












