Bentuk Syukur, Petani Gampong Paya Lumpat Gelar Khanduri Bungong Pade, Ritual Warisan Leluhur Jaga Tanaman Padi
Suara Pecari, Meulaboh – Ratusan petani dan warga Gampong Paya Lumpat, Kecamatan Samatiga, Kabupaten Aceh Barat, menggelar tradisi khanduri bungong pade (kenduri bunga padi) pada Minggu, 12 Juli 2026. Ritual tahunan yang diwariskan secara turun-temurun ini menjadi bentuk syukur kepada Allah SWT atas mulai berbunganya tanaman padi, sekaligus permohonan perlindungan dari hama. Acara yang berlangsung di balai tani desa ini tidak hanya sarat nilai spiritual, tetapi juga menjadi forum musyawarah petani untuk membahas persoalan pertanian dan strategi menghadapi ancaman hama.
Makna Spiritual dan Sosial Khanduri Bungong Pade
Khanduri bungong pade merupakan tradisi yang telah mengakar kuat di kalangan petani Aceh, khususnya di Gampong Paya Lumpat. Ritual ini dilaksanakan saat tanaman padi mulai memasuki fase berbunga, yang dianggap sebagai momen kritis dalam siklus pertumbuhan. Menurut kepercayaan setempat, bunga padi adalah simbol kesuburan dan harapan panen melimpah. Oleh karena itu, warga mengadakan kenduri sebagai ungkapan rasa syukur dan permohonan agar tanaman terhindar dari gangguan hama dan penyakit.
Dalam acara tersebut, setiap keluarga membawa makanan dari rumah masing-masing, seperti nasi yang dibungkus daun pisang. Makanan-makanan ini kemudian dikumpulkan di balai tani untuk disantap bersama setelah rangkaian zikir dan doa. Tidak hanya sebagai ritual keagamaan, kegiatan ini juga mempererat tali silaturahmi antarpetani dan warga desa. “Kami melakukan apa yang telah diwariskan. Tabur bubur nasi hambar dan sisa makanan ini dapat mengusir hama tikus dan hama lainnya,” ujar Irwan Adli, salah seorang petani Paya Lumpat.
Ritual Tabur Bubur Nasi: Cara Unik Mengusir Hama
Salah satu bagian paling khas dari khanduri bungong pade adalah ritual menaburkan bubur nasi putih hambar dan sisa makanan ke sela-sela tanaman padi di sawah. Praktik ini dilakukan setelah doa bersama selesai. Petani percaya bahwa dengan memberikan “makanan” kepada hama, khususnya tikus dan wereng, maka hama tersebut tidak akan merusak tanaman padi yang sedang berbunga. “Tikus adalah makhluk hidup, dia mencari makanan. Karena itu kita berikan sisa makanan kita agar tidak merusak tanaman padi yang sedang tumbuh dan berbunga,” jelas Irwan Adli yang juga seorang pensiunan ASN.
Meskipun terkesan sederhana, ritual ini memiliki filosofi yang dalam: hidup berdampingan secara harmonis dengan alam. Alih-alih membasmi hama secara kimiawi, petani Paya Lumpat memilih pendekatan preventif yang ramah lingkungan. Namun, mereka juga menyadari bahwa upaya mengusir hama tidak bisa hanya mengandalkan ritual. “Intinya adalah doa bersama, bermohon perlindungan Allah SWT agar tanaman padi tetap tumbuh subur dan selamat sampai panen,” tegas Irwan.
Forum Musyawarah Petani: Sinergi Tradisi dan Modernitas
Khanduri bungong pade tidak hanya berhenti pada ritual doa dan tabur bubur. Acara ini juga menjadi ajang musyawarah petani dari berbagai lintas usia. Mereka duduk bersama di balai tani membicarakan berbagai persoalan pertanian, mulai dari teknik budidaya, pengendalian hama, hingga jadwal tanam dan panen. Kehadiran penyuluh pertanian dan perwakilan Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Aceh Barat menambah bobot diskusi.
Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Aceh Barat, Rahmi Rukhyat, S.P, M.P, mengapresiasi kegiatan adat ini. “Menurut kami acara seperti ini sangat positif. Di mana para petani ada momen kebersamaan, bermusyawarah membicarakan berbagai hal tentang pertanian,” ujarnya. Musyawarah ini juga menjadi ruang bagi pemerintah untuk menyampaikan kebijakan, seperti jadwal tanam serentak, penggunaan pompanisasi, dan program peningkatan produktivitas.
Dukungan Pemerintah terhadap Pertanian Aceh Barat
Pemerintah Kabupaten Aceh Barat menaruh perhatian besar pada sektor pertanian. Dengan luas lahan pertanian mencapai 9.890 hektar dan indeks pertanian (IP) dua kali setahun, produksi padi Aceh Barat mencapai rata-rata 6,3 ton per hektar. Capaian ini membuat Aceh Barat mengalami surplus beras sebesar 15,5 ribu ton per tahun. “Tahun ini kita sudah mengusulkan pompanisasi besar untuk Paya Lumpat menyesuaikan kondisi lahan. Kita dukung terus karena di sini produktivitas tanaman padinya sangat bagus,” kata Rahmi didampingi para penyuluh muda.
Berikut data pertanian Aceh Barat yang disampaikan dalam acara tersebut:
| Indikator | Nilai |
|---|---|
| Luas Lahan Pertanian | 9.890 hektar |
| Indeks Pertanian (IP) | 2 kali/tahun |
| Rata-rata Produksi per Hektar | 6,3 ton |
| Surplus Beras per Tahun | 15.500 ton |
Dukungan pemerintah tidak hanya berupa pompanisasi, tetapi juga penyuluhan dan pendampingan teknis. Dengan adanya forum seperti khanduri bungong pade, diharapkan komunikasi antara petani dan pemerintah semakin lancar, sehingga kebijakan yang diambil tepat sasaran.
Dampak dan Implikasi bagi Masyarakat dan Pertanian
Tradisi khanduri bungong pade memiliki dampak luas, tidak hanya bagi petani tetapi juga bagi ekosistem pertanian dan sosial budaya masyarakat Aceh Barat. Berikut beberapa implikasinya:
- Penguatan Solidaritas Sosial: Ritual ini menjadi ajang silaturahmi dan gotong royong antarpetani dan warga. Momen kebersamaan ini memperkuat ikatan sosial yang penting dalam menghadapi tantangan pertanian bersama.
- Pelestarian Budaya Lokal: Di tengah arus modernisasi, tradisi seperti khanduri bungong pade menjadi benteng identitas budaya. Generasi muda diajak untuk mengenal dan meneruskan warisan leluhur.
- Pendekatan Ramah Lingkungan: Ritual tabur bubur nasi sebagai pengusir hama merupakan alternatif alami yang mengurangi ketergantungan pada pestisida kimia. Hal ini sejalan dengan konsep pertanian berkelanjutan.
- Peningkatan Produktivitas: Forum musyawarah dalam acara ini memungkinkan petani bertukar informasi dan mendapat penyuluhan langsung, sehingga praktik pertanian menjadi lebih efektif dan produktif.
- Dukungan Kebijakan: Pemerintah daerah dapat menyerap aspirasi petani secara langsung, sehingga program seperti pompanisasi dan jadwal tanam serentak dapat diimplementasikan dengan baik.
Acara khanduri bungong pade di Gampong Paya Lumpat juga dihadiri oleh aparatur gampong, kejrun blang (pemimpin tradisional pertanian), dan penyuluh pertanian. Setelah doa dan zikir bersama, para petani meninjau masing-masing tanaman padi yang mulai berbunga, memastikan tidak ada serangan hama yang berarti.
Penutup
Di tengah derasnya arus modernisasi dan industrialisasi pertanian, tradisi khanduri bungong pade di Gampong Paya Lumpat menjadi pengingat akan pentingnya menjaga keseimbangan antara kearifan lokal dan kemajuan teknologi. Ritual syukur yang diiringi zikir, doa, dan musyawarah ini bukan sekadar seremonial belaka, melainkan wujud nyata bagaimana masyarakat petani Aceh Barat merawat alam dan memperkuat kebersamaan. Dengan dukungan pemerintah yang terus mengalir, tradisi ini diharapkan tidak hanya lestari, tetapi juga menjadi model pertanian berkelanjutan yang berbasis budaya. Seperti butir-butir padi yang mulai menguning, harapan panen melimpah selalu disertai doa dan kerja keras – itulah esensi dari khanduri bungong pade.
Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial Suara Pecari.










