Kebakaran Adat Desa Sade, Manuskrip Lontar Berusia Ratusan Tahun Hangus Terbakar

Kebakaran Adat Desa Sade, Manuskrip Lontar Berusia Ratusan Tahun Hangus Terbakar

Kebakaran Melanda Kampung Adat Sade

Suara Pecari, Lombok Tengah – Kebakaran yang terjadi di Kampung Adat Sade, Desa Rembitan, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah, pada Senin (24/8/2026) telah menghanguskan sejumlah rumah dan fasilitas warga. Selain kerugian materi, kebakaran ini juga berdampak pada benda-benda bersejarah dan budaya masyarakat Sasak yang tersimpan di kampung tersebut.

Manuskrip Lontar Berusia Ratusan Tahun Hangus

Salah satu benda yang terdampak adalah manuskrip lontar berbahasa Sanskerta yang telah berusia ratusan tahun. Manuskrip kuno yang dikenal dengan sebutan “guntal” ini ditulis di atas daun lontar dan dibungkus dengan kain kafan. Meskipun manuskrip berhasil diamankan dari salah satu rumah yang terbakar, kondisinya ditemukan sudah hangus.

Nilai Budaya dan Filosofi Manuskrip Guntal

Tokoh adat Sasak di Lombok Tengah, Lalu Sungkul, menjelaskan bahwa manuskrip guntal memiliki nilai penting sebagai peninggalan budaya dan sumber pengetahuan masyarakat Sasak. Manuskrip ini memuat panduan hidup serta penjelasan mendalam tentang kehidupan dan kematian, yang menjadi pedoman bagi masyarakat Sasak dalam menjalani kehidupan sehari-hari.

“Artefak ini sebagai wisdom, sebagai panduan,” ujar Lalu Sungkul. Isi manuskrip tersebut menjawab pertanyaan mendasar mengenai alasan hidup dan tujuan kematian, sehingga memiliki kedudukan yang sangat berarti dalam tradisi dan filosofi masyarakat Sasak.

Peran Manuskrip dalam Kegiatan Adat

Manuskrip guntal tidak hanya disimpan sebagai pusaka, tetapi juga dibacakan secara rutin oleh para tetua adat dalam berbagai acara penting, seperti khitanan dan pernikahan. Tradisi pembacaan ini berlangsung selama beberapa hari, menandakan manuskrip terus dijaga dan diwariskan secara turun-temurun.

  • Pembacaan selama tujuh hari pada acara khitanan dan pernikahan.
  • Jika acara berlangsung sembilan hari, pembacaan dilakukan selama sembilan malam.

Tradisi ini memperlihatkan bahwa manuskrip guntal tetap menjadi bagian hidup masyarakat Sasak dan berfungsi sebagai pedoman spiritual dan sosial.

Upaya Pelestarian dan Pemulihan Pasca Kebakaran

Setelah kebakaran, benda-benda bersejarah yang masih dapat diselamatkan, termasuk manuskrip guntal, akan dirawat dan disimpan di museum. Menurut Lalu Sungkul, museum tersebut akan dibangun sebagai bagian dari pemulihan Kampung Adat Sade dan menjadi tempat untuk mengabadikan sejarah serta warisan budaya masyarakat Sasak.

“Nanti kalau Sade dibangun kembali, kita akan bangun museum kebakaran. Artefak ini akan kita simpan di museum Sade,” kata Sungkul. Museum ini juga akan menjadi sarana edukasi kepada generasi berikutnya mengenai sejarah, benda pusaka, dan peristiwa kebakaran yang melanda kampung adat tersebut.

Makna Museum bagi Warisan Budaya Sasak

Pendirian museum diharapkan dapat menghubungkan sejarah masa lalu dengan upaya pelestarian budaya saat ini. Museum akan menyimpan artefak-artefak penting dan menceritakan perjalanan masyarakat Sasak di Desa Sade, termasuk dampak kebakaran dan langkah pemulihan yang dilakukan.

Dengan demikian, museum bukan hanya menjadi ruang penyimpanan benda bersejarah, tetapi juga simbol kebangkitan dan komitmen masyarakat Sasak dalam menjaga identitas budaya mereka.

Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial Suara Pecari.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *