Rupiah Menguat Tipis 13 Poin di Akhir Pekan, Tertekan Geopolitik dan Data AS

Rupiah Menguat Tipis 13 Poin di Akhir Pekan, Tertekan Geopolitik dan Data AS

Suara Pecari | Jakarta – Nilai tukar rupiah berhasil menguat tipis 13 poin di akhir pekan, ditutup pada level Rp18.036 per dolar AS berdasarkan data Bloomberg. Penguatan tipis ini terjadi di tengah tekanan eksternal yang masih kuat, terutama dari ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan antisipasi pasar terhadap data ketenagakerjaan Amerika Serikat. Rupiah berhasil menguat tipis 13 poin di akhir pekan meskipun sentimen global cenderung negatif, menunjukkan ketahanan relatif mata uang Garuda di tengah gejolak global.

Analis Pasar Uang, Ibrahim Assuaibi, mengungkapkan bahwa salah satu faktor yang mempengaruhi pergerakan rupiah adalah konflik di Timur Tengah. Hizbullah secara tegas menolak kesepakatan dengan Israel yang dimediasi oleh AS dan pemerintah Lebanon. “Zionis Israel terus melakukan serangan ke Lebanon di tengah kesepakatan senjata. Tentara zionis juga menolak mundur dari wilayah Lebanon yang didudukinya,” ujar Ibrahim dalam analisisnya, Jumat (5/6/2026). Ketegangan ini turut memicu kekhawatiran investor akan eskalasi konflik yang lebih luas, sehingga mendorong permintaan terhadap aset safe haven seperti dolar AS. Namun, rupiah berhasil menguat tipis 13 poin di akhir pekan menunjukkan bahwa ada faktor domestik yang turut menopang.

Di sisi lain, Iran juga mengajukan syarat penghentian serangan Israel ke Lebanon untuk melanjutkan negosiasi dengan AS. Hal ini menambah ketidakpastian di pasar keuangan global. Sementara itu, perhatian investor tertuju pada rilis data Non-Farm Payrolls (NFP) AS yang diprakirakan meningkat 85 ribu pekerjaan di bulan Mei, dengan tingkat pengangguran stabil di 4,3 persen. “Tanda-tanda pelemahan di pasar tenaga kerja AS dapat mendorong pelemahan dolar AS,” imbuh Ibrahim. Jika data NFP lebih rendah dari ekspektasi, dolar AS berpotensi melemah, yang bisa menjadi katalis positif bagi rupiah. Namun, rupiah berhasil menguat tipis 13 poin di akhir pekan sudah mencerminkan optimisme pelaku pasar terhadap prospek ekonomi Indonesia.

Ibrahim juga menambahkan bahwa pelemahan dolar AS dapat mendorong investor kembali melirik emas sebagai aset safe haven. Hal ini bisa berdampak pada harga komoditas, termasuk komoditas ekspor Indonesia. Di dalam negeri, pelaku pasar mencermati revisi ke bawah pertumbuhan ekonomi Indonesia oleh Organisasi Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan (OECD). OECD semula memprakirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2026 sebesar 4,8 persen, namun direvisi menjadi 4,7 persen. OECD memproyeksikan tekanan global terhadap Indonesia akan mereda di tahun 2027, dengan pertumbuhan diperkirakan kembali naik ke 5 persen. “Meski melambat, ekonomi Indonesia dinilai lebih resilien dibandingkan banyak negara berkembang lainnya,” ujar Ibrahim.

Pasar tenaga kerja Indonesia tahun ini juga diperkirakan menjadi penekan perekonomian, namun secara keseluruhan ekonomi Indonesia dinilai masih cukup kuat. Faktor domestik seperti kebijakan moneter yang akomodatif dan cadangan devisa yang memadai turut mendukung stabilitas rupiah. Dengan demikian, rupiah berhasil menguat tipis 13 poin di akhir pekan menjadi sinyal positif di tengah ketidakpastian global. Investor diharapkan tetap waspada terhadap perkembangan geopolitik dan data ekonomi global yang dapat mempengaruhi pergerakan rupiah ke depan.

Kesimpulannya, penguatan tipis rupiah di akhir pekan ini mencerminkan keseimbangan antara tekanan eksternal dan fundamental domestik yang relatif kuat. Meskipun masih dibayangi ketegangan geopolitik dan potensi perlambatan ekonomi global, rupiah menunjukkan ketahanan yang patut diapresiasi. Pergerakan rupiah ke depan akan sangat bergantung pada data ketenagakerjaan AS, perkembangan konflik Timur Tengah, serta implementasi kebijakan ekonomi dalam negeri. Pelaku pasar disarankan untuk terus memonitor faktor-faktor tersebut guna mengambil keputusan investasi yang tepat.

Artikel ini dipublikasikan oleh Suara Pecari.

Tinggalkan Balasan