Dampak Kenaikan Harga Pertamax: Penjualan di Pertashop Bengkulu Anjlok, Pengusaha Minta Pemerintah Bertindak
Suara Pecari, Bengkulu – Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi jenis Pertamax yang berlaku sejak awal Juli 2026 mulai menunjukkan dampak nyata terhadap penjualan di sejumlah Pertashop di Kota Bengkulu. Meski dampaknya belum merata, sejumlah pengusaha melaporkan penurunan drastis jumlah pembeli, sementara yang lain masih bertahan. Fenomena ini memicu kekhawatiran akan keberlangsungan usaha Pertashop, terutama di daerah yang bergantung pada penjualan Pertamax.
Kenaikan Harga Pertamax dan Respons Konsumen
Pada 1 Juli 2026, PT Pertamina (Persero) resmi menaikkan harga Pertamax dari Rp 12.500 per liter menjadi Rp 13.500 per liter atau naik sekitar 8 persen. Kenaikan ini merupakan bagian dari penyesuaian harga BBM nonsubsidi yang mengikuti fluktuasi harga minyak dunia. Namun, bagi konsumen di Bengkulu, kenaikan ini langsung terasa di kantong.
Setiaji (25), petugas Pertashop di Jalan Mahakam, Kelurahan Lingkar Barat, Kecamatan Gading Cempaka, mengungkapkan bahwa sejak kenaikan harga, jumlah pelanggan menurun signifikan. “Biasanya satu ton Pertamax habis dalam sehari. Sekarang stok itu tidak habis lagi. Bahkan, saat terjadi kelangkaan BBM di SPBU beberapa waktu lalu, penjualan kami justru melonjak hingga tiga ton per hari. Sekarang sangat kontras,” ujarnya, Rabu (8/7/2026). Pertashop tersebut melayani masyarakat setiap hari pukul 09.00–21.00 WIB, dengan mayoritas pembeli adalah pengendara yang memilih lokasi yang mudah dijangkau.
Kondisi Berbeda di Pertashop Lain
Namun, tidak semua Pertashop merasakan dampak yang sama. Alvin (35), petugas Pertashop di Jalan Gunung Bungkuk, Kelurahan Kebun Tebeng, Kecamatan Ratu Agung, mengaku penjualan masih stabil meski harga naik. “Jumlah pembeli tidak berubah signifikan. Mungkin karena lokasi kami strategis dan banyak pelanggan setia,” jelas Alvin. Pertashop ini menerima pasokan sekitar dua ton Pertamax setiap hari, dengan waktu tersibuk pada pukul 08.00–10.00 WIB dan 16.00–18.00 WIB. Kendaraan roda dua mendominasi pengisian BBM di sana.
Perbedaan dampak ini menunjukkan bahwa faktor lokasi dan loyalitas pelanggan memegang peranan penting. Pertashop di jalan utama atau dekat pemukiman padat cenderung lebih bertahan, sementara yang berada di pinggiran lebih rentan terhadap perubahan harga.
Penurunan Penjualan Hingga 70 Persen
Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Himpunan Pertashop Merah Putih Indonesia (HPMPI), Steven, memberikan gambaran yang lebih luas. Ia menyatakan bahwa penurunan penjualan Pertamax terjadi hampir di seluruh daerah, termasuk Pertashop di wilayah terpencil yang jauh dari SPBU. “Rata-rata penjualan turun 60–70 persen. Stok yang dulu habis dalam sehari, sekarang butuh hampir sepekan untuk menghabiskan kuota dua kiloliter. Ini sangat memberatkan pengusaha,” ujar Steven.
Steven juga menyoroti semakin lebarnya selisih harga antara Pertamax dan Pertalite. Saat ini, Pertalite dijual Rp 10.000 per liter, sementara Pertamax Rp 13.500 per liter. Selisih Rp 3.500 per liter mendorong konsumen beralih ke Pertalite yang lebih murah, meski kualitasnya lebih rendah. Akibatnya, Pertashop yang hanya menjual Pertamax (non-subsidi) kehilangan pangsa pasar.
Data Dampak Kenaikan Harga Pertamax di Pertashop Bengkulu
| Lokasi Pertashop | Penjualan Sebelum Kenaikan | Penjualan Setelah Kenaikan | Perubahan |
|---|---|---|---|
| Jalan Mahakam (Setiaji) | 1 ton/hari | Tidak habis dalam sehari | Menurun drastis |
| Jalan Gunung Bungkuk (Alvin) | 2 ton/hari | Stabil (2 ton/hari) | Tidak berubah |
| Rata-rata nasional (HPMPI) | 2 kL/1-2 hari | 2 kL/7 hari | Turun 60-70% |
Kronologi Kenaikan Harga dan Dampaknya
- 1 Juli 2026: Pertamina menaikkan harga Pertamax menjadi Rp 13.500 per liter.
- Awal Juli 2026: Penjualan di Pertashop Bengkulu mulai menurun, terutama di lokasi yang tidak strategis.
- 8 Juli 2026: Setiaji dan Alvin melaporkan kondisi berbeda; HPMPI mengumumkan penurunan penjualan nasional 60-70%.
- 21 Juli 2026: Artikel ini diterbitkan, menggambarkan situasi terkini.
Dampak dan Implikasi bagi Berbagai Pihak
Bagi Masyarakat
Kenaikan harga Pertamax memaksa konsumen untuk memilih BBM yang lebih murah atau mengurangi konsumsi. Bagi pengendara yang biasa menggunakan Pertamax, peralihan ke Pertalite dapat berdampak pada performa mesin, terutama kendaraan dengan kompresi tinggi. Di sisi lain, ketersediaan Pertalite yang terbatas di Pertashop (karena Pertashop hanya menjual Pertamax) membuat konsumen harus mencari SPBU, yang mungkin lebih jauh.
Bagi Pengusaha Pertashop
Penurunan penjualan mengancam kelangsungan usaha Pertashop. Dengan margin keuntungan yang tipis, omset yang turun 60-70% membuat banyak pengusaha kesulitan membayar sewa, gaji karyawan, dan biaya operasional. Jika tidak ada intervensi, tidak menutup kemungkinan sejumlah Pertashop akan tutup.
Bagi Pemerintah
Pemerintah dihadapkan pada dilema: menjaga harga BBM nonsubsidi tetap kompetitif tanpa membebani APBN. Kenaikan harga Pertamax memang mengurangi subsidi, tetapi dampak ikutannya terhadap usaha mikro seperti Pertashop perlu diantisipasi. HPMPI mendesak pemerintah untuk memberikan insentif atau menstabilkan harga agar selisih dengan Pertalite tidak terlalu lebar.
Harapan Pengusaha: Pemerintah Harus Bertindak
Steven dari HPMPI menegaskan, “Kami berharap pemerintah segera mengambil langkah untuk menjaga keberlangsungan usaha Pertashop. Jika tidak, banyak pengusaha yang akan gulung tikar. Ini bukan hanya masalah bisnis, tetapi juga lapangan kerja dan pelayanan BBM di daerah terpencil.”
Ia mengusulkan agar pemerintah mempertimbangkan kebijakan seperti penurunan harga Pertamax atau memberikan subsidi silang. Namun, hingga saat ini belum ada respons resmi dari Kementerian ESDM maupun Pertamina.
Penutup
Kenaikan harga Pertamax telah mengguncang ekosistem Pertashop di Bengkulu dan Indonesia. Di satu sisi, penyesuaian harga adalah keniscayaan ekonomi; di sisi lain, dampak sosial dan usaha kecil harus dikelola dengan bijak. Pertashop, yang selama ini menjadi solusi pengisian BBM di daerah terpencil, kini terancam eksistensinya. Tanpa langkah konkret dari pemerintah, bukan tidak mungkin gelombang penutupan Pertashop akan terjadi, meninggalkan masyarakat tanpa akses BBM yang mudah dan terjangkau. Saatnya para pemangku kepentingan duduk bersama mencari solusi, sebelum dampaknya semakin meluas.
Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial Suara Pecari.










