Target Inflasi 2026 Diprediksi Masih Terjaga Meski Dibayangi El Nino
Suara Pecari – Target inflasi Indonesia pada tahun 2026 diperkirakan masih dapat dijaga meskipun menghadapi tantangan dari fenomena El Nino yang meningkatkan risiko kekeringan dan tekanan harga pangan. Pemerintah menetapkan target inflasi sebesar 2,5 persen plus minus 1 persen, yang dinilai masih realistis untuk dipertahankan dengan pengelolaan yang tepat.
Posisi Inflasi Saat Ini dan Proyeksi 2026
Ekonom Permata Bank, Josua Pardede, menjelaskan bahwa inflasi Agustus 2026 tercatat 3,19 persen secara tahunan, naik dari Juli yang sebesar 2,88 persen. Inflasi inti tetap stabil di sekitar 2,92 persen, sementara inflasi pangan bergejolak meningkat menjadi 4,06 persen dari 2,52 persen pada bulan sebelumnya.
Menurut Josua, skenario dasar sebelum dampak penuh El Nino memperkirakan inflasi akhir tahun 2026 berada di sekitar 3,13 persen, masih di bawah batas atas target 3,5 persen. Namun, ruang pengaman inflasi dianggap menyempit akibat meningkatnya risiko dari El Nino, harga energi yang tinggi, dan potensi gangguan pasokan pangan pada kuartal IV.
Risiko El Nino dan Dampaknya pada Produksi Pangan
Fenomena El Nino yang sudah mencapai kategori sangat kuat sejak Juli diperkirakan dapat menimbulkan musim kering berkepanjangan. Kondisi ini berpotensi mengganggu produksi pangan dan mendorong kenaikan harga, terutama pada komoditas yang berumur pendek dan kebutuhan pokok seperti beras, cabai, bawang, sayuran, telur, dan daging ayam.
Meski demikian, data produksi beras pada Juli-September diperkirakan mencapai 9,36 juta ton, hanya turun tipis 0,88 persen dibandingkan tahun sebelumnya, memberikan bantalan terhadap tekanan inflasi pangan. Produksi beras sepanjang Januari-September juga diperkirakan tidak jauh berbeda dari tahun lalu.
Untuk komoditas seperti kelapa sawit, dampak kekeringan diperkirakan baru akan terlihat lebih nyata pada produksi tahun 2027 dengan potensi penurunan sekitar 3 juta ton atau 5 persen.
Skenario Inflasi dan Strategi Kebijakan
Josua menekankan perlunya perhatian ekstra terhadap kenaikan harga pangan dan dampaknya yang dapat meluas, termasuk potensi kenaikan biaya transportasi dan energi yang dapat memperparah inflasi.
Sejalan dengan itu, ekonom INDEF Rizal Taufikurahman menyampaikan bahwa target inflasi 2,5 persen plus minus 1 persen masih dapat dipertahankan, tetapi ruang amannya semakin terbatas. Risiko terbesar inflasi hingga akhir tahun datang dari sisi pasokan pangan, sehingga respons kebijakan harus melibatkan pengelolaan stok, distribusi, cadangan pangan, serta opsi impor yang terukur.
Rizal juga mengingatkan adanya paradoks antara inflasi pangan yang tinggi dengan melemahnya daya beli masyarakat menengah bawah, yang memaksa alokasi pendapatan lebih besar untuk kebutuhan pokok dan mengurangi konsumsi nonpangan. Hal ini dapat menyebabkan inflasi inti dan konsumsi domestik tertekan meskipun inflasi headline tetap tinggi.
Peran Pemerintah dan Tantangan Ke Depan
Pemerintah diharapkan lebih agresif dalam menjaga ketahanan pasokan pangan dan mengantisipasi dampak El Nino yang bisa memperkuat tekanan inflasi. Pengelolaan yang baik terhadap distribusi dan ketersediaan pangan, serta pengendalian biaya energi dan transportasi, menjadi kunci untuk menjaga inflasi tetap dalam batas target.
Dengan demikian, meskipun tantangan dari El Nino dan faktor eksternal lainnya cukup besar, target inflasi 2026 masih realistis dapat dicapai dengan strategi yang tepat dan pengawasan ketat terhadap dinamika pasar pangan dan energi.
Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial Suara Pecari.










