Budi Daya Tebu, Penggerak Ekonomi Baru Masyarakat Dompu

Budi Daya Tebu, Penggerak Ekonomi Baru Masyarakat Dompu

Suara Pecari, Dompu – Budi daya tebu kini menjadi penggerak utama perekonomian masyarakat di Kecamatan Pekat, Kabupaten Dompu, Nusa Tenggara Barat. Pada musim panen, perputaran pembayaran kepada petani diperkirakan mencapai Rp 4 hingga 5 miliar setiap pekan, menunjukkan dampak ekonomi yang signifikan di wilayah tersebut.

Peran Budi Daya Tebu dalam Ekonomi Lokal

<pMenurut Maheri, Ketua Kelompok Tani Tebu Kabupaten Dompu, komoditas tebu tidak hanya meningkatkan pendapatan petani, tetapi juga membuka lapangan kerja bagi ribuan pekerja yang terlibat dalam aktivitas tebang, muat, dan angkut (TMA), serta pekerjaan pendukung lainnya. Setiap musim panen, lebih dari 3.000 pekerja TMA ikut berkontribusi, dengan pembayaran yang dilakukan secara mingguan kepada petani dan dua kali seminggu bagi para pekerja TMA.

Baca juga:

Perputaran Uang yang Menjaga Dinamika Ekonomi

“Bayangkan uang sebanyak itu berputar di Pekat. Perputaran ekonominya luar biasa,” ujar Maheri. Aktivitas panen yang rutin dan sistem pembayaran yang cepat turut menjaga stabilitas perputaran uang di tingkat masyarakat, membantu meningkatkan kesejahteraan secara menyeluruh.

Sejarah Peralihan Komoditas dan Pengembangan Tebu

Perkembangan budi daya tebu bermula pada 2014 ketika petani mulai beralih dari tanaman jambu mete yang sebelumnya menjadi sumber utama pendapatan. Penurunan produktivitas jambu mete akibat serangan hama Helopeltis membuat petani mencari alternatif yang lebih menguntungkan, dan tebu menjadi pilihan utama.

Maheri sendiri mengelola sekitar 10 hektare lahan tebu dengan produktivitas rata-rata antara 70 hingga 80 ton per hektare. Pengembangan lahan tebu kini meluas ke beberapa desa seperti Sorinomo, Kadindi Barat, Karombo, Pekat, dan beberapa wilayah lainnya, dengan areal yang mencapai ratusan hektare.

Produktivitas dan Pendapatan Petani

Pengelolaan lahan seluas 10 hektare menghasilkan pendapatan rumah tangga rata-rata sekitar Rp 15 juta per bulan setelah panen. Perawatan tanaman menjadi lebih ringan setelah memasuki fase ratoon, dengan fokus pada pengendalian gulma dan pemupukan untuk menjaga produktivitas.

Tantangan dan Harapan Keberlanjutan

Meski budi daya tebu menunjukkan hasil positif, tantangan muncul dalam bentuk penyakit luka api dan hama penggerek batang yang mulai terdeteksi. Masyarakat petani khawatir jika hama dan penyakit ini berkembang pesat, dapat mengancam keberlanjutan tebu seperti yang pernah dialami pada tanaman jambu mete.

Maheri berharap pemerintah dan pihak terkait dapat memperkuat pemantauan tanaman, pengendalian hama, pengembangan teknologi budidaya, serta menyediakan dukungan penyuluhan untuk menjaga produktivitas dan keberlanjutan usaha petani tebu.

Baca juga:

Dukungan Pemerintah dan Investasi Industri

Kepala Bidang Prasarana, Sarana, dan Penyuluhan Pertanian Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Dompu, Edy Chaidir, menyatakan pengembangan tebu di Kecamatan Pekat mulai didukung oleh investasi industri pengolahan sejak awal dekade 2010-an. Investor mulai mencari lahan untuk pengembangan tebu sebagai bahan baku gula sejak 2010, diikuti dengan sosialisasi dan program penguatan tebu rakyat di 12 desa Kecamatan Pekat.

Pemerintah juga mengalokasikan bantuan pengembangan tebu rakyat dengan luas sekitar 1.000 hektare pada 2014, dan dilanjutkan hingga lebih dari 3.000 hektare pada tahun berikutnya melalui bantuan stimulan kepada kelompok tani. Kebun Bibit Induk dan Kebun Bibit Datar juga dibangun untuk mendukung penyediaan bibit berkualitas.

Keberadaan pabrik pengolahan yang dioperasikan PT Sukses Mantap Sejahtera sejak 2016 semakin memperkuat kepastian pengolahan hasil panen tebu, yang sekaligus mendorong petani beralih dari jambu mete ke tebu dengan varietas unggul seperti Bulu Lawang yang menghasilkan anakan lebih banyak dan batang yang lebih tinggi serta berat.

Perkembangan Lahan dan Produktivitas

  • Areal tebu di Kadindi Barat mencapai sekitar 150 hektare.
  • Karombo memiliki sekitar 100 hektare lahan tebu.
  • Kadindi memiliki sekitar 22 hektare yang mendukung aktivitas ekonomi perkebunan.

Pengembangan budi daya tebu di Dompu menjadi contoh keberhasilan diversifikasi komoditas pertanian yang tidak hanya meningkatkan pendapatan petani, tetapi juga memperkuat ekonomi lokal melalui penciptaan lapangan kerja dan dukungan industri pengolahan.

Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial Suara Pecari.

Baca juga:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *