Inggris Tegaskan Dukungan pada Konsensus ASEAN untuk Krisis Myanmar Berkelanjutan LPP RRI
Suara Pecari | Jakarta – Inggris kembali menegaskan dukungannya terhadap Konsensus Lima Poin ASEAN sebagai kerangka utama penyelesaian krisis Myanmar. Pernyataan ini disampaikan Duta Besar Inggris untuk ASEAN, Helen Fazey, dalam perayaan ulang tahun Raja Charles III di Jakarta, Rabu (10/6/2026) malam. Dalam sambutannya, Helen menekankan bahwa Inggris Dukung Konsensus ASEAN untuk Krisis Myanmar Berkelanjutan LPP RRI sebagai langkah strategis mendorong perdamaian di negara yang dilanda konflik tersebut.
Helen Fazey menilai Konsensus Lima Poin yang disepakati pada April 2021 tetap relevan hingga saat ini. Kerangka tersebut, menurutnya, menjadi pijakan penting untuk memastikan kemajuan di berbagai aspek, termasuk kemanusiaan, politik, dan rekonsiliasi. “Inggris terus mendukung Konsensus Lima Poin dan peran ASEAN di dalamnya. Kami masih berpikir sangat penting untuk melihat kemajuan pada semua hal dalam lima poin tersebut,” ujar Helen. Ia menambahkan bahwa komitmen Inggris Dukung Konsensus ASEAN untuk Krisis Myanmar Berkelanjutan LPP RRI tidak hanya sebatas retorika, melainkan diwujudkan melalui komunikasi diplomatik yang konsisten dengan otoritas militer Myanmar.
Duta Besar Helen menyoroti sejumlah prioritas yang harus segera diimplementasikan. Pertama, akses kemanusiaan bagi masyarakat terdampak konflik harus dibuka seluas-luasnya. Kedua, pembebasan tahanan politik menjadi syarat mutlak untuk membangun kepercayaan. Ketiga, proses politik yang inklusif harus didorong agar semua pihak, termasuk kelompok etnis dan oposisi, dapat berpartisipasi. “Kami terus mengingatkan rezim di Myanmar secara bilateral tentang hal itu,” tegas Helen. Dengan demikian, Inggris Dukung Konsensus ASEAN untuk Krisis Myanmar Berkelanjutan LPP RRI menjadi pesan berulang yang disampaikan Inggris melalui berbagai jalur.
Dukungan Inggris ini sejalan dengan sikap Indonesia yang sebelumnya telah menyatakan kesiapan bekerja sama dengan seluruh pemangku kepentingan Myanmar. Menteri Luar Negeri RI, Sugiono, dalam pertemuan dengan Presiden Myanmar Min Aung Hlaing di Naypyidaw pada 8 Juni 2026, menegaskan bahwa proses perdamaian harus dipimpin dan dimiliki rakyat Myanmar. “Solusi berkelanjutan tidak boleh dipaksakan pihak asing,” ujar Sugiono. Ia juga menyampaikan pesan Presiden Prabowo Subianto yang menekankan komitmen Indonesia mendukung perdamaian inklusif dan berkelanjutan.
Konsensus Lima Poin ASEAN mencakup penghentian kekerasan, dialog konstruktif, penunjukan utusan khusus, bantuan kemanusiaan, dan akses bagi utusan ASEAN. Sayangnya, implementasi kelima poin tersebut masih berjalan lambat akibat resistensi dari junta militer Myanmar. Meski demikian, Inggris dan ASEAN terus mendorong agar Myanmar segera memenuhi komitmennya. Inggris Dukung Konsensus ASEAN untuk Krisis Myanmar Berkelanjutan LPP RRI juga diartikan sebagai bentuk solidaritas internasional terhadap upaya ASEAN yang selama ini menjadi garda depan penyelesaian krisis.
Dalam perayaan ulang tahun Raja Charles III, Helen Fazey juga mengapresiasi peran ASEAN sebagai organisasi regional yang inklusif. Ia berharap seluruh negara anggota ASEAN tetap bersatu dalam menyikapi situasi Myanmar. “Kami sangat menghargai kepemimpinan ASEAN dan akan terus mendukung setiap langkah yang diambil,” pungkasnya.
Krisis Myanmar yang berkepanjangan telah menimbulkan dampak kemanusiaan yang parah. Lebih dari 2 juta orang mengungsi, dan ribuan warga sipil tewas sejak kudeta militer pada 2021. Oleh karena itu, dukungan internasional seperti yang disuarakan Inggris sangat diperlukan untuk memastikan tekanan terus diberikan kepada junta militer. Dengan konsistensi sikap Inggris dan ASEAN, diharapkan Myanmar dapat segera kembali ke jalur demokrasi dan stabilitas.
Sebagai kesimpulan, Inggris Dukung Konsensus ASEAN untuk Krisis Myanmar Berkelanjutan LPP RRI merupakan sinyal kuat bahwa komunitas internasional tidak akan meninggalkan rakyat Myanmar. Melalui kerjasama bilateral dan multilateral, tekanan terhadap rezim militer terus ditingkatkan. Namun, keberhasilan penyelesaian krisis ini tetap bergantung pada kemauan politik Myanmar sendiri. Inggris dan ASEAN berkomitmen untuk terus mendampingi, namun tanpa intervensi yang memaksakan kehendak. Semoga langkah-langkah konkret segera terwujud demi masa depan Myanmar yang lebih damai.
Artikel ini dipublikasikan oleh Suara Pecari.
Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.












