Skuad Prancis Kena Serangan Rasis Lagi, Kali Ini dari Eks Perdana Menteri Spanyol
Suara Pecari, Piala Dunia 2026 kembali diwarnai insiden rasis yang menargetkan tim nasional Prancis. Setelah sebelumnya senator Paraguay Celeste Amarilla melontarkan hinaan kepada Kylian Mbappe, kini mantan Perdana Menteri Spanyol Mariano Rajoy menyebut skuad Les Bleus tidak memiliki pemain asli Prancis. Pernyataan kontroversial itu dimuat di media El Debate menjelang laga semifinal Spanyol vs Prancis, memicu ketegangan diplomatik dan olahraga antara kedua negara.
Kronologi Serangan Rasisme terhadap Timnas Prancis
Serangan verbal terhadap anak asuh Didier Deschamps dimulai sejak fase gugur babak 32 besar. Senator Paraguay Celeste Amarilla melontarkan hinaan setelah Prancis mengalahkan Paraguay, menyebut Mbappe sebagai warga Kamerun terjajah palsu. Federasi Sepak Bola Prancis (FFF) segera melaporkan komentar tersebut ke jaksa penuntut Prancis, dan Kantor Hak Asasi Manusia PBB mengecam tindakan rasis tersebut.
Kemudian, pada 12 Juli 2026, Mariano Rajoy menulis opini di El Debate yang menyatakan bahwa Prancis, meski peringkat 1 FIFA, tidak memiliki pemain asli Prancis. Komentar ini langsung memicu kemarahan FFF dan pemerintah Prancis.
Pernyataan Kontroversial Mariano Rajoy
Dalam tulisannya, Rajoy meragukan keaslian kewarganegaraan para pemain Prancis yang memiliki latar belakang beragam. Padahal, Prancis dikenal sebagai negara multikultural dengan sistem kewarganegaraan yang jelas. Kritik tajam dilontarkan Presiden FFF Philippe Diallo melalui media sosial, menyebut pernyataan Rajoy mengandung relents de racisme intolérables (bau rasisme yang tidak tertahankan). Diallo menegaskan, pemain Prancis tidak memerlukan sertifikat kewarganegaraan dari mantan perdana menteri Spanyol.
Reaksi Pemerintah dan Federasi Prancis
Menteri Dalam Negeri Prancis Laurent Nunez ikut mengecam diskriminasi tersebut. Pemerintah Prancis menegaskan legitimasi kewarganegaraan pemain timnas bersifat mutlak berdasarkan hukum Prancis. FFF mengambil langkah hukum untuk melindungi integritas pemain, seperti yang dilakukan pada kasus pertama. Ketegangan bilateral meningkat menjelang laga semifinal yang sangat dinantikan.
Dampak Diplomatik dan Olahraga
Insiden ini bukan sekadar urusan sepak bola, melainkan juga merusak hubungan diplomatik Prancis-Spanyol. Spanyol sebagai tuan rumah bersama Piala Dunia 2026 (bersama Portugal, Maroko, dan lainnya) mendapat sorotan negatif. Dukungan dari lembaga internasional menunjukkan bahwa rasisme dalam olahraga tidak bisa ditoleransi. Psikologis pemain Prancis juga terpengaruh, meski mereka tetap fokus menuju semifinal.
Data dan Fakta Kasus Rasisme terhadap Prancis di Piala Dunia 2026
| No. | Pelaku | Pernyataan | Tanggal | Tindakan |
|---|---|---|---|---|
| 1 | Celeste Amarilla (Senator Paraguay) | Menyebut Kylian Mbappe sebagai warga Kamerun terjajah palsu | Juni 2026 | FFF melapor ke jaksa Prancis; UN Human Rights mengecam |
| 2 | Mariano Rajoy (Mantan PM Spanyol) | Mengatakan Prancis tidak memiliki pemain asli Prancis | 12 Juli 2026 | FFF protes keras; Menteri Dalam Negeri Prancis mengecam |
Daftar Reaksi Penting
- Presiden FFF Philippe Diallo: pernyataan Rajoy berbau rasisme tidak toleran.
- Menteri Dalam Negeri Laurent Nunez: menegaskan kewarganegaraan pemain Prancis mutlak.
- Kantor HAM PBB: mengecam ujaran rasis dari kasus pertama dan mendukung tindakan hukum.
- Timnas Prancis: tetap fokus pada laga semifinal meski mendapat tekanan.
Penutup
Rentetan serangan rasis terhadap timnas Prancis di Piala Dunia 2026 menunjukkan bahwa masalah rasisme masih mengakar dalam sepak bola global. Namun, respons tegas dari FFF, pemerintah Prancis, dan lembaga internasional memberikan harapan bahwa olahraga bisa menjadi arena untuk melawan diskriminasi. Saat Prancis dan Spanyol bertemu di semifinal, sepak bola tetap menjadi panggung persatuan, bukan perpecahan. Semoga kejadian serupa tidak terulang di masa mendatang.
Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial Suara Pecari.










