Iran Sebut ‘Bagian Utama’ Kesepahaman dengan AS Telah Diselesaikan, Tapi Washington Merusaknya: Perjanjian Damai Kembali Terhambat
Suara Pecari | Iran sebut ‘bagian utama’ kesepahaman dengan AS telah diselesaikan, tapi Washington merusaknya – pernyataan ini kembali mencuat di tengah proses negosiasi yang telah berlangsung berbulan-bulan. Meskipun kedua pihak mengklaim kemajuan signifikan, ketidakpercayaan dan perbedaan pandangan masih menjadi batu sandungan.
Dalam perkembangan terbaru, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyatakan bahwa kesepakatan untuk mengakhiri perang secara permanen belum pernah sedekat ini. Ia mengungkapkan bahwa nota kesepahaman (MoU) yang tengah dibahas terdiri dari dua tahap. Tahap pertama akan menghentikan pertempuran di semua front, termasuk Lebanon, dengan komitmen untuk tidak melancarkan serangan kembali. Tahap kedua akan membahas masa depan program nuklir Iran, pencabutan sanksi, dan pencairan aset Iran. Selat Hormuz akan tetap berada di bawah kedaulatan Iran dan Oman, dengan pengelolaan yang berbeda dari sebelumnya.
Namun, di sisi lain, Ketua Parlemen Iran Mohammad-Baqer Qalibaf memperingatkan AS agar tidak mengingkari komitmen. “Komitmen yang dibuat harus ditepati. Tidak ada jika, tidak ada tetapi, tidak ada alasan. Anda menuai apa yang Anda tabur,” tegasnya. Pernyataan ini mencerminkan kekhawatiran Iran bahwa Washington mungkin kembali menarik diri dari kesepakatan, seperti yang terjadi pada masa lalu.
Iran sebut ‘bagian utama’ kesepahaman dengan AS telah diselesaikan, tapi Washington merusaknya – klaim ini diperkuat oleh pernyataan Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baghaei yang menyebut proses saat ini memasuki tahap akhir peninjauan internal. Namun, di Washington, Presiden Donald Trump berulang kali menyatakan bahwa kesepakatan sudah dekat, namun pernyataan tersebut sering kali dibantah oleh Teheran. CNN mencatat Trump telah menggunakan frasa seperti “sangat dekat dengan kesepakatan” sebanyak 39 kali, namun realitas di lapangan menunjukkan sebaliknya.
Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif, yang bertindak sebagai mediator, mengonfirmasi bahwa teks akhir kesepakatan damai telah tercapai. “Perdamaian tidak pernah sedekat sekarang,” tulisnya di media sosial. Namun, ia juga mengakui bahwa masih ada langkah-langkah yang perlu diselesaikan.
Isi draf kesepakatan yang beredar mencakup pembukaan aset miliaran dolar Iran yang dibekukan, pelonggaran sanksi minyak, dan pembukaan Selat Hormuz. Sebagai imbalannya, Iran akan membuka kembali Selat Hormuz yang ditutup setelah serangan AS dan Israel pada Februari lalu. Program nuklir Iran akan dibahas dalam masa negosiasi 60 hari, dengan AS menginginkan pembongkaran total, sementara Iran ingin mempertahankan uranium yang telah diperkaya dalam bentuk diencerkan.
Iran sebut ‘bagian utama’ kesepahaman dengan AS telah diselesaikan, tapi Washington merusaknya – pola ini terus berulang. Para analis menilai bahwa ketidakpercayaan historis dan tekanan politik internal di kedua negara menjadi faktor utama yang menghambat realisasi perdamaian. Meskipun ada optimisme dari mediator, implementasi di lapangan masih jauh dari harapan.
Kesimpulannya, meskipun Iran dan AS mengklaim telah mencapai kesepakatan di atas kertas, implementasi dan komitmen jangka panjang masih menjadi tanda tanya besar. Dunia menanti apakah kedua negara dapat mengatasi perbedaan dan mewujudkan perdamaian yang telah lama dinantikan.
Artikel ini dipublikasikan oleh Suara Pecari.
Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.












