Kemenperin Perkuat Kerja Sama Industri Indonesia-Rusia: Peluang Baru di Era BRICS

Kemenperin Perkuat Kerja Sama Industri Indonesia-Rusia: Peluang Baru di Era BRICS

Suara Pecari | Jakarta – Kementerian Perindustrian (Kemenperin) terus memperkuat jejaring kerja sama internasional guna mendukung transformasi industri nasional. Langkah strategis ini diwujudkan melalui partisipasi aktif dalam BRICS PartNIR Forum 2026, yang menjadi momentum penting bagi Indonesia untuk memperluas kolaborasi dengan Rusia di bidang industri, perdagangan, investasi, dan pengembangan teknologi masa depan. Forum ini tidak hanya menjadi ajang diplomasi ekonomi, tetapi juga membuka peluang konkret bagi Indonesia untuk memperkuat ketahanan industri di tengah dinamika global yang semakin kompleks.

BRICS PartNIR Forum 2026: Pintu Masuk Kerja Sama Strategis

BRICS, yang kini terdiri dari Brasil, Rusia, India, China, Afrika Selatan, dan anggota baru seperti Indonesia, telah menjadi kekuatan ekonomi global yang signifikan. PartNIR (Partnership for New Industrial Revolution) adalah platform khusus di bawah BRICS yang fokus pada pengembangan industri berbasis inovasi dan teknologi. Forum ini diadakan untuk mendorong kolaborasi antarnegara anggota dalam menghadapi tantangan Revolusi Industri 4.0.

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menegaskan bahwa keanggotaan Indonesia di BRICS membuka peluang besar untuk memperkuat kerja sama industri dengan negara-negara mitra, termasuk Rusia. “Forum BRICS tentang PartNIR sangat penting bagi kami. Kami menghargai dukungan Rusia terhadap keanggotaan Indonesia di BRICS dan tertarik membahas arah kerja sama industri,” ujar Agus dalam keterangannya di Jakarta, Kamis, 11 Juni 2026.

Pertemuan bilateral Indonesia-Rusia dalam rangkaian forum tersebut dihadiri oleh Direktur Jenderal Ketahanan, Perwilayahan, dan Akses Industri Internasional (KPAII) Tri Supondy, didampingi Plt Direktur Akses Industri Internasional Kemenperin. Mereka bertemu dengan Counsellor from the Russian Trade Mission in China, Andrei Gorobets, untuk membahas peluang kerja sama yang lebih konkret.

Data Perdagangan Bilateral Indonesia-Rusia yang Meningkat

Hubungan ekonomi kedua negara menunjukkan tren positif. Berdasarkan data Kemenperin, nilai perdagangan bilateral nonmigas pada Triwulan I 2026 mencapai sekitar USD1 miliar, meningkat 1,13 persen secara tahunan. Sementara itu, ekspor Indonesia ke Rusia pada tahun 2024 tercatat mencapai USD3,3 miliar, meningkat 13,38 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

IndikatorNilaiPerubahan (YoY)
Perdagangan bilateral nonmigas (Q1 2026)USD1 miliar+1,13%
Ekspor Indonesia ke Rusia (2024)USD3,3 miliar+13,38%

Produk unggulan Indonesia yang diekspor ke Rusia meliputi:

  • Karet dan produk karet
  • Kopi, kakao, dan teh
  • Alas kaki
  • Elektronik
  • Kimia

Angka-angka ini menunjukkan bahwa potensi kerja sama ekonomi kedua negara masih sangat besar dan terus berkembang.

I-EAEU FTA dan Akses Pasar yang Lebih Luas

Indonesia menyambut baik perkembangan perjanjian perdagangan bebas antara Indonesia dan Eurasian Economic Union (I-EAEU FTA) yang ditandatangani pada Desember 2025 di Rusia. Perjanjian ini diharapkan mampu memperluas akses pasar bagi produk Indonesia di kawasan Eurasia, serta meningkatkan arus perdagangan dan investasi. Dengan adanya FTA, hambatan tarif dan non-tarif dapat dikurangi, sehingga produk Indonesia menjadi lebih kompetitif di pasar Rusia dan negara-negara anggota EAEU lainnya.

INNOPROM 2026: Panggung Promosi Industri Manufaktur Indonesia

Indonesia juga mengajak Rusia untuk meningkatkan partisipasi pelaku usaha dan investor pada pameran INNOPROM 2026. Indonesia akan menjadi Partner Country pada Pameran Industri Internasional INNOPROM 2026 yang diselenggarakan di Rusia. Keikutsertaan ini merupakan langkah strategis untuk mempromosikan industri manufaktur nasional di kawasan Eurasia. INNOPROM dikenal sebagai salah satu pameran industri terbesar di Rusia yang menjadi ajang pertemuan para pelaku industri global.

Tri Supondy optimistis bahwa penguatan hubungan bilateral melalui BRICS PartNIR Forum 2026 akan semakin mempererat kolaborasi kedua negara. “Sinergi Indonesia dan Rusia diharapkan mampu membuka peluang kerja sama yang lebih konkret, memberikan nilai tambah bagi pengembangan industri kedua negara,” ujarnya.

Dampak dan Implikasi bagi Indonesia

Penguatan kerja sama dengan Rusia melalui BRICS dan forum-forum terkait membawa sejumlah dampak positif bagi Indonesia:

1. Diversifikasi Pasar Ekspor

Dengan meningkatnya akses ke pasar Rusia dan kawasan Eurasia, Indonesia dapat mengurangi ketergantungan pada pasar tradisional seperti AS, Eropa, dan China. Diversifikasi ini penting untuk menjaga stabilitas ekspor di tengah ketidakpastian global.

2. Transfer Teknologi dan Inovasi

Rusia memiliki keunggulan di bidang teknologi, terutama di sektor energi, dirgantara, dan pertahanan. Melalui kerja sama ini, Indonesia berpeluang mendapatkan akses terhadap teknologi maju yang dapat mendukung hilirisasi dan modernisasi industri nasional.

3. Peningkatan Investasi

Dengan iklim investasi yang semakin kondusif, investor Rusia diharapkan tertarik menanamkan modal di Indonesia, khususnya di sektor manufaktur, infrastruktur, dan energi terbarukan. Hal ini akan menciptakan lapangan kerja dan mendorong pertumbuhan ekonomi.

4. Penguatan Hilirisasi

Kerja sama dengan Rusia dapat mempercepat program hilirisasi yang digalakkan pemerintah Indonesia, terutama di sektor sumber daya alam seperti nikel, bauksit, dan kelapa sawit. Dengan teknologi Rusia, proses pengolahan di dalam negeri dapat lebih efisien dan bernilai tambah tinggi.

Kronologi Peristiwa

Berikut adalah kronologi peristiwa penting dalam penguatan kerja sama Indonesia-Rusia:

  • Desember 2025: Penandatanganan I-EAEU FTA di Rusia.
  • 2024: Ekspor Indonesia ke Rusia mencapai USD3,3 miliar, naik 13,38%.
  • Triwulan I 2026: Perdagangan bilateral nonmigas mencapai USD1 miliar.
  • 11 Juni 2026: Pertemuan bilateral Indonesia-Rusia dalam BRICS PartNIR Forum 2026.
  • 2026 (rencana): Indonesia menjadi Partner Country di INNOPROM 2026.

Prospek ke Depan

Kerja sama Indonesia-Rusia di bidang industri memiliki prospek cerah. Dengan dukungan BRICS dan forum PartNIR, kedua negara dapat saling melengkapi kebutuhan masing-masing. Indonesia dengan sumber daya alam dan tenaga kerja yang melimpah, serta Rusia dengan teknologi dan pasar yang luas, dapat menciptakan sinergi yang saling menguntungkan.

Pemerintah Indonesia, melalui Kemenperin, berkomitmen untuk terus mendorong realisasi kerja sama ini agar tidak hanya berhenti pada wacana, tetapi menjadi aksi nyata yang membawa manfaat bagi industri nasional. Partisipasi aktif dalam forum-forum internasional seperti BRICS dan INNOPROM menjadi bukti keseriusan Indonesia dalam memperkuat posisi di kancah global.

Dengan langkah strategis ini, Indonesia optimistis dapat mewujudkan industri yang modern, berdaya saing, dan berorientasi global, sekaligus memperkuat ketahanan ekonomi nasional di tengah tantangan dunia yang terus berubah.

Artikel ini dipublikasikan oleh Suara Pecari.

Tinggalkan Balasan