Xi Jinping Beri Restu Politik untuk Pemimpin Myanmar Min Aung Hlaing dalam Kunjungan ke Beijing
Suara Pecari | Presiden China, Xi Jinping, menerima kunjungan kenegaraan Presiden Myanmar, Min Aung Hlaing, di Beijing pada 16 Juni 2026. Dalam pertemuan tersebut, Xi Jinping menyambut tamunya dengan upacara kehormatan militer dan anak-anak yang melambaikan bendera, menandai pengakuan politik yang signifikan bagi pemerintahan Min Aung Hlaing yang kontroversial.
Xi Jinping menyebut hubungan kedua negara sebagai ‘persahabatan pauk-phaw yang mendalam’, istilah yang menggambarkan ikatan persaudaraan antara tetangga. Ia juga menyatakan dukungan China terhadap pemerintah baru Myanmar dalam ‘menemukan jalur pembangunan yang benar sesuai dengan kondisi nasional dan didukung oleh rakyat’. Pengakuan ini menjadi dorongan besar bagi administrasi Min Aung Hlaing, yang memimpin kudeta pada Februari 2021 dan baru bertransisi menjadi pemimpin sipil pada April 2026 setelah pemilu yang dianggap tidak bebas dan adil oleh banyak negara.
Berbeda dengan ASEAN yang belum memberikan pengakuan resmi, China secara konsisten mendukung Myanmar. China mengirim delegasi untuk mengamati pemilu dan memuji prosesnya sebagai ‘lancar dan tertib’. Kehadiran pejabat senior China, Jiang Xinzhi, sebagai utusan khusus Xi Jinping pada pelantikan Min Aung Hlaing di April lalu, serta pertemuan dengan Perdana Menteri Li Qiang dan Ketua Kongres Rakyat Nasional Zhao Leji, menegaskan tingginya level pengakuan ini.
Selain pengakuan politik, kunjungan ini juga menghasilkan 18 perjanjian dan nota kesepahaman yang mencakup kerja sama di bidang keamanan, pembangunan, perdagangan, kesehatan, ilmu pengetahuan, media, dan infrastruktur. Kedua pemimpin menyaksikan penandatanganan dokumen-dokumen tersebut, termasuk inisiatif bersama untuk Keamanan Global, Peradaban Global, dan Pembangunan Global, serta bantuan untuk rekonstruksi Stadion Aung San. Kesepakatan lain meliputi persyaratan fitosanitasi untuk ekspor tanaman obat dan pisang segar Myanmar ke China, serta kerja sama di bidang hak kekayaan intelektual dan kebijakan persaingan.
Bagi Min Aung Hlaing, pengakuan politik dari Xi Jinjing merupakan pencapaian utama yang melebihi hasil ekonomi. China, di sisi lain, mengharapkan perlindungan bagi proyek-proyek strategisnya, investasi, dan tindakan tegas terhadap kejahatan lintas batas. Kunjungan ini menegaskan kembali peran China sebagai mitra utama Myanmar, meskipun menuai kritik dari komunitas internasional karena dianggap melegitimasi pemerintahan yang lahir dari kudeta.
Kesimpulannya, kunjungan Min Aung Hlaing ke Beijing dan sambutan hangat dari Xi Jinping menandai babak baru dalam hubungan bilateral yang saling menguntungkan. China memperkuat pengaruhnya di Asia Tenggara, sementara Myanmar mendapatkan legitimasi internasional yang sangat dibutuhkan. Langkah ini menunjukkan bagaimana China memprioritaskan stabilitas perbatasan dan kepentingan ekonominya di atas pertimbangan demokrasi dan hak asasi manusia.
Artikel ini dipublikasikan oleh Suara Pecari.
Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.












