Pendapatan Rp12 Triliun, Pajak Nol: Model Bisnis Adani di Tambang Australia Disorot Dunia

Pendapatan Rp12 Triliun, Pajak Nol: Model Bisnis Adani di Tambang Australia Disorot Dunia

Suara Pecari – Tambang batu bara Carmichael yang dimiliki oleh Adani di Queensland, Australia, mencatat pendapatan hampir 1 miliar dolar Australia (sekitar Rp12,18 triliun) dalam 12 bulan hingga Maret 2026, namun tidak membayar pajak perusahaan di Australia. Setelah memperhitungkan biaya produksi dan logistik, operasi tambang ini justru mengalami kerugian sebesar AUD 340,6 juta.

Fenomena ini menimbulkan perhatian luas karena bertentangan dengan janji awal Adani yang menyatakan proyek tersebut akan memberikan kontribusi besar berupa pajak dan royalti untuk perekonomian Queensland. Dalam periode yang sama, Adani Mining membayar royalti sebesar AUD 58 juta kepada pemerintah dan AUD 33,1 juta kepada pihak terkait lainnya.

Struktur Keuangan dan Isu Pajak

Analisis laporan keuangan mengungkapkan bahwa sejak mulai beroperasi pada 2021, Carmichael belum pernah membayar pajak perusahaan di Australia. Hal ini dikaitkan dengan struktur korporasi Adani yang memungkinkan perusahaan menghindari kewajiban pajak tersebut. Mantan bankir investasi dan direktur Climate Energy Finance, Tim Buckley, menilai bahwa struktur ini menunjukkan perlunya peraturan baru di Australia yang mengatur kepemilikan dan struktur modal entitas asing agar kewajiban pajak dapat ditegakkan secara adil.

Kontroversi dan Dampak Sosial-Ekonomi

Proyek Carmichael yang berlokasi di Galilee Basin, Queensland, sempat menghadapi penolakan dari berbagai kalangan karena kekhawatiran dampak lingkungan dan ekspansi pertambangan batu bara termal. Pendukung proyek menyatakan bahwa proyek ini akan mendanai pembangunan infrastruktur publik seperti sekolah dan rumah sakit selama hampir satu abad melalui pajak dan royalti. Namun kenyataannya, ketiadaan pembayaran pajak perusahaan menimbulkan pertanyaan serius tentang manfaat fiskal proyek ini bagi pemerintah dan masyarakat setempat.

Adani membantah adanya pelanggaran dalam pemenuhan kewajiban perpajakan dan menegaskan bahwa perusahaan mematuhi semua peraturan perpajakan dan royalti sesuai standar akuntansi Australia. Selain itu, operasi tambang ini menyediakan lebih dari 1.400 pekerjaan langsung bagi warga Queensland pada tahun keuangan terakhir.

Kondisi Pasar dan Peran Infrastruktur Ekspor

Harga batu bara yang menguntungkan sejak 2021, dipengaruhi oleh faktor geopolitik seperti invasi Rusia ke Ukraina dan konflik di Timur Tengah, memberikan konteks penting terhadap performa keuangan Carmichael. Meskipun demikian, kondisi keuangan perusahaan masih menunjukkan kerugian setelah memperhitungkan biaya operasional.

Selain tambang, North Queensland Export Terminal yang juga dikendalikan oleh Adani mencatat pendapatan AUD 356,6 juta namun tidak membayar pajak perusahaan karena biaya operasional yang tinggi menyebabkan kerugian AUD 6,8 juta. CEO terminal tersebut menyatakan bahwa karakter bisnis infrastruktur yang padat modal menjadi alasan utama kondisi keuangan tersebut, dan terminal tersebut berperan penting dalam mendukung perdagangan ekspor Queensland.

Kasus Adani ini menggambarkan tantangan dalam pengelolaan sumber daya alam dan penerimaan negara dari sektor tambang, serta menunjukkan perlunya regulasi yang lebih ketat untuk memastikan keadilan fiskal dan manfaat ekonomi yang optimal bagi masyarakat dan negara.

Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial Suara Pecari.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *