Jajaki Proyek Amonia Bersih, Pupuk Indonesia Bidik Emisi Turun 96% hingga 2050

Jajaki Proyek Amonia Bersih, Pupuk Indonesia Bidik Emisi Turun 96% hingga 2050

Suara Pecari – PT Pupuk Indonesia (Persero) menetapkan target ambisius untuk menurunkan emisi gas rumah kaca hingga 96 persen pada tahun 2050. Langkah ini menjadi bagian dari peta jalan dekarbonisasi perusahaan dalam upaya mencapai Net Zero Emission 2050 melalui berbagai inisiatif berkelanjutan, termasuk pengembangan proyek amonia bersih.

Target Penurunan Emisi dan Inisiatif Dekarbonisasi

Senior Project Manager Sustainability and Clean Ammonia Pupuk Indonesia, Erlangga Rismantojo, menyatakan bahwa perusahaan berupaya menekan emisi hingga 24,9 juta ton CO2 ekuivalen dengan mengimplementasikan inisiatif berbasis teknologi dan alam. Inisiatif teknologi meliputi efisiensi energi, circular economy, pemanfaatan CO2 menjadi produk bernilai tambah, serta penggunaan energi hijau. Sementara inisiatif berbasis alam atau nature-based solutions ditujukan untuk mencapai penurunan emisi 100 persen.

Efisiensi Energi dan Modernisasi Fasilitas

Efisiensi energi menjadi langkah utama dalam mengurangi konsumsi gas bumi dan emisi dari proses produksi. Pupuk Indonesia juga fokus pada modernisasi dan optimasi fasilitas produksi agar lebih kompetitif sekaligus ramah lingkungan. Salah satu contohnya adalah pengembangan pabrik soda ash di Bontang, Kalimantan Timur, yang memanfaatkan emisi CO2 dari produksi untuk menghasilkan soda ash yang dibutuhkan berbagai industri, seperti kaca dan deterjen.

Manfaat Pemanfaatan CO2

Pemanfaatan CO2 membuka peluang terbentuknya rantai industri baru berbasis karbon. Produk kaca yang dihasilkan pun dapat digunakan untuk kebutuhan panel surya, sehingga mendukung pengembangan energi terbarukan secara lebih luas.

Pengembangan Proyek Amonia Bersih

Pupuk Indonesia tengah menjajaki pembangunan fasilitas green ammonia dengan memanfaatkan energi baru dan terbarukan di beberapa lokasi existing. Salah satu skema yang dikaji adalah penggunaan listrik berbasis energi terbarukan melalui Renewable Energy Certificate (REC). Selain itu, pengembangan blue ammonia juga dilakukan dengan memanfaatkan teknologi Carbon Capture and Storage (CCS) yang mampu menangkap dan menyimpan CO2 hasil produksi ke formasi geologi bawah permukaan.

Tantangan Implementasi CCS

Implementasi teknologi CCS memerlukan koordinasi dengan penyedia jasa, pembangunan infrastruktur pendukung, serta kajian kelayakan yang mendalam agar dapat berjalan efektif.

Diversifikasi Energi dan Bahan Baku

Perusahaan juga melakukan diversifikasi sumber energi untuk mengurangi ketergantungan pada satu sumber sekaligus memperkuat ketahanan energi. Inisiatif tersebut meliputi pengembangan instalasi solar photovoltaic, pemanfaatan biomassa, dan penggunaan Renewable Energy Certificate (REC).

Selain energi, Pupuk Indonesia juga mengupayakan diversifikasi bahan baku. Saat ini, perusahaan masih mengimpor sebagian bahan baku seperti fosfat, potash, dan sulfur dari beberapa negara. Untuk menjaga keamanan pasokan, kerja sama dengan pemasok dan integrasi vertikal untuk menguasai sumber bahan baku di berbagai lokasi menjadi strategi penting menghadapi dinamika rantai pasok global.

Signifikansi dan Dampak Proyek

Upaya dekarbonisasi dan pengembangan amonia bersih oleh Pupuk Indonesia tidak hanya berpotensi menurunkan emisi secara signifikan namun juga menciptakan peluang bagi pertumbuhan industri hijau dan rantai nilai baru berbasis karbon. Integrasi dengan pengembangan energi terbarukan memperkuat komitmen perusahaan dalam mendukung transisi energi dan ekonomi berkelanjutan di Indonesia.

Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial Suara Pecari.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *