IRGC Siap Perang Lagi Jika AS‑Israel Kembali Menyerang Iran: Ancaman Baru di Tengah Upaya Damai

IRGC Siap Perang Lagi Jika AS‑Israel Kembali Menyerang Iran: Ancaman Baru di Tengah Upaya Damai

Suara Pecari | IRGC siap perang lagi jika AS-Israel kembali menyerang Iran [titlebase] menjadi sorotan utama setelah perjanjian gencatan senjata antara Washington dan Teheran ditandatangani secara digital pada 18 Juni 2026. Pernyataan tegas Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) menegaskan kesiapan mereka untuk terjun ke medan tempur bila Amerika Serikat, Israel, atau sekutu mereka melanjutkan agresi. Hal ini menambah ketegangan di kawasan Teluk Persia meski ada harapan diplomatik yang mengemuka.

Menurut laporan resmi IRNA, IRGC menegaskan bahwa pasukan mereka siap beraksi di darat, laut, udara, maupun ranah hybrid warfare. “Jika musuh kembali memaksakan tuntutan berlebihan dan melanggar hak rakyat Iran, para pejuang IRGC akan bertindak atas instruksi sekecil apa pun,” ujar juru bicara militer. Pernyataan ini muncul bersamaan dengan dokumen memorandum yang memberi waktu 60 hari bagi kedua belah pihak untuk menyelesaikan isu nuklir dan sanksi.

Di balik ancaman militer, analis geopolitik menyoroti bahwa IRGC juga berada pada posisi strategis untuk meraup keuntungan ekonomi dari pencabutan sanksi. Selama bertahun‑tahun, organisasi tersebut telah membangun jaringan bisnis meliputi minyak, energi, konstruksi, logistik, dan pengelolaan pelabuhan. Dengan potensi akses ke dana rekonstruksi senilai 300 miliar dolar AS, IRGC diprediksi menjadi penerima untung terbesar jika sanksi dilonggarkan.

Sejumlah sumber senior Iran menyatakan bahwa IRGC memiliki kemampuan lebih besar dibandingkan pelaku usaha lain untuk memanfaatkan peluang ekonomi pasca‑perang. Jaringan ini telah beroperasi di tengah pembatasan internasional, menjadikannya entitas yang sangat adaptif. Oleh karena itu, pencabutan sanksi tidak hanya akan menghidupkan kembali sektor energi, tetapi juga dapat memperkuat basis ekonomi militer IRGC.

Pada 19 Juni 2026, Iran menutup kembali Selat Hormuz, menuding bahwa Amerika Serikat belum memenuhi syarat dalam memorandum, termasuk penarikan pasukan AS dari kawasan dan pengakhiran blokade laut. Penutupan selat strategis ini menambah tekanan pada negosiasi dan memperkuat posisi tawar Iran. IRGC melalui siaran radio maritim menegaskan bahwa kapal yang melanggar perintah akan menjadi sasaran.

Sementara itu, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, mengonfirmasi bahwa konsultasi melalui mediator masih berlangsung untuk menentukan putaran perundingan berikutnya. Ia menekankan pentingnya pelaksanaan klausul memorandum, termasuk pencabutan blokade, pembukaan kembali jalur pelayaran, dan pengecualian ekspor minyak.

Ketegangan ini menimbulkan dilema bagi Amerika Serikat dan sekutu Barat. Di satu sisi, mereka menginginkan penyelesaian damai yang dapat meredakan konflik dan membuka kembali pasar energi global. Di sisi lain, keuntungan ekonomi yang mungkin dinikmati IRGC dapat memperkuat sebuah organisasi yang masih dianggap teroris oleh Washington.

Para pengamat menilai bahwa langkah Iran menutup Selat Hormuz dan ancaman IRGC siap perang lagi jika AS-Israel kembali menyerang Iran [titlebase] dapat menjadi alat tekanan dalam negosiasi. Namun, risiko eskalasi militer tetap tinggi, mengingat kemampuan IRGC dalam operasi hybrid dan dukungan logistiknya yang luas.

Kesimpulannya, meski terdapat harapan diplomatik, ancaman militer IRGC dan potensi keuntungan ekonomi yang signifikan menambah kompleksitas proses perdamaian. Semua pihak diharapkan tetap menjaga jalur komunikasi terbuka untuk menghindari konflik yang lebih luas.

Artikel ini dipublikasikan oleh Suara Pecari.

Tinggalkan Balasan