Netanyahu Tegaskan Israel Tak Mundur dari Gaza dan Siap Serang Iran Tanpa AS

Suara Pecari – Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menegaskan pemerintahannya belum menyetujui rancangan kesepakatan yang didukung Amerika Serikat untuk mengakhiri konflik di Gaza. Netanyahu menegaskan Israel hanya akan menarik pasukan setelah Hamas benar-benar melucuti seluruh persenjataannya.

Pernyataan tersebut disampaikan melalui video di media sosial pada Selasa (4/8), merespons laporan mengenai dorongan Washington terhadap proposal perdamaian baru. Netanyahu mengonfirmasi tim Presiden AS Donald Trump telah menyerahkan draf proposal, namun Israel memilih mengembalikannya dengan sejumlah catatan kritis.

“Tim Presiden Trump meyakini mereka dapat mewujudkan pelucutan senjata Hamas dan demiliterisasi Gaza. Kami sedang menelaahnya. Mereka mengirimkan rancangan kepada kami, tetapi kami tidak menyetujuinya. Itu bukan rancangan kami,” tegas Netanyahu.

Penolakan Kesepakatan dan Tekanan Koalisi Sayap Kanan

Netanyahu juga mengungkapkan bahwa dirinya telah menerima jaminan militer yang menyatakan Israel hanya akan meninggalkan posisi pendudukan jika Hamas telah sepenuhnya melakukan demiliterisasi. Sikap keras ini muncul di tengah tekanan dari mitra koalisi sayap kanan Israel yang menolak kesepakatan yang memungkinkan Hamas bertahan di Gaza.

Kontras dengan rencana yang diusulkan AS yang mengatur pelucutan senjata secara bertahap dan penarikan pasukan Israel dari sekitar 60% wilayah Gaza, Netanyahu bersikukuh penarikan tidak akan dilakukan sebelum senjata Hamas sepenuhnya habis.

Ancaman Militer Israel terhadap Iran

Di sisi lain, Netanyahu mengisyaratkan Israel dapat melancarkan serangan militer sepihak terhadap Iran, meskipun upaya diplomatik antara Teheran dan Washington sedang berlangsung. Pernyataan ini menegaskan komitmen Israel untuk mencegah Iran memiliki senjata nuklir.

Netanyahu menyebut tindakan militer tetap menjadi opsi, terlepas dari kemajuan negosiasi diplomatik yang difasilitasi oleh mediator regional seperti Qatar. Ia menegaskan kesiapannya melakukan “apa pun yang diperlukan” demi keamanan Israel, walaupun Amerika Serikat tetap menjadi sekutu utama.

Evaluasi Strategi Terhadap Iran dalam Pertemuan Trump-Netanyahu

Pada pertemuan di Gedung Putih pada Juli 2026, Netanyahu dan Presiden Donald Trump membahas tiga skenario menghadapi Iran: kesepakatan diplomatik, peningkatan tekanan ekonomi, dan serangan militer baru. Netanyahu tidak memaksakan pilihan tertentu, melainkan mengevaluasi opsi terbaik untuk mencegah pengembangan senjata nuklir oleh Iran.

Diskusi tersebut juga mencakup kondisi ekonomi Iran, ancaman rudal, dan isu keamanan Israel di Suriah dan Lebanon. Pertemuan ini menegaskan hubungan strategis antara Israel dan Amerika Serikat dalam menghadapi ancaman regional.

Netanyahu dan ICC

Netanyahu juga menyatakan tidak takut terhadap ancaman penangkapan oleh Mahkamah Pidana Internasional (ICC). Dalam wawancara, ia menyebut Israel memiliki pasukan khusus yang siap bertugas jika dirinya ditahan. Netanyahu mengkritik ICC sebagai lembaga yang korup dan berpotensi melampaui kewenangannya.

Ia memastikan akan tetap menghadiri Sidang Majelis Umum PBB di New York pada September 2026 meskipun ada seruan dari Wali Kota New York agar pemerintah AS mengambil tindakan terhadapnya.

Situasi Kemanusiaan di Gaza

Sementara itu, situasi di Gaza tetap kritis dengan jutaan warga kehilangan tempat tinggal dan meningkatnya angka kematian akibat konflik berkepanjangan. Hingga kini, negosiasi antara Israel dan Hamas mengalami kebuntuan, dengan masing-masing pihak mengajukan syarat yang bertentangan terkait penarikan pasukan dan pelucutan senjata.

Ketegangan ini menunjukkan kompleksitas konflik yang belum menemukan solusi damai, meskipun terdapat tekanan internasional dan upaya diplomatik yang intensif.

Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial Suara Pecari.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *