AS yang Memulai Perang, Iran yang ‘Diakali’ Agar Bayar Kompensasi Kerusakan di Negara Arab
Suara Pecari | Dalam perkembangan terbaru konflik Timur Tengah, terungkap bahwa AS yang memulai perang, Iran yang ‘diakali’ agar bayar kompensasi kerusakan di negara Arab. Rencana kontroversial ini muncul setelah 100 hari sejak koalisi AS-Israel menyerang Iran pada 28 Februari 2026. Serangan mendadak itu memicu balasan Iran yang melumpuhkan Selat Hormuz dan menyerang pangkalan militer AS di kawasan Teluk.
Menurut laporan yang beredar, pemerintah AS berencana menggunakan aset Iran yang dibekukan untuk membiayai rekonstruksi negara-negara Teluk seperti Arab Saudi, UEA, Bahrain, Qatar, dan Kuwait yang mengalami kerusakan akibat serangan balasan Iran. Kementerian Keuangan AS telah membentuk tim khusus untuk menghitung kerugian yang diderita sekutu-sekutu tersebut. Langkah ini menuai kecaman keras dari Teheran, yang menegaskan bahwa aset mereka bukanlah rampasan perang atau dana kompensasi bagi sekutu AS. Wakil Menteri Luar Negeri Iran, Kazem Gharibabadi, menyatakan bahwa setiap penyitaan aset tanpa persetujuan Iran melanggar hukum internasional.
Konteks ini tidak lepas dari fakta bahwa AS yang memulai perang, Iran yang ‘diakali’ agar bayar kompensasi kerusakan di negara Arab. Iran sendiri bersikeras bahwa aset beku mereka harus dicairkan setelah nota kesepahaman perdamaian ditandatangani. Teheran menuntut setidaknya 50 persen dari dana tersebut segera tersedia, dan sisanya dalam waktu satu hingga dua bulan. Sementara itu, serangan masih berlangsung. Israel kembali melancarkan serangan ke Beirut, memicu balasan rudal Iran ke pangkalan udara Ramat David. Militer Iran memperingatkan bahwa setiap agresi baru akan direspons dengan pukulan yang lebih dahsyat.
Diplomasi pun berlangsung alot. Presiden AS Donald Trump menolak mencairkan aset Iran sebelum kesepakatan final, sementara Iran menuntut penghentian perang secara permanen di semua front, termasuk Lebanon, serta pencabutan blokade maritim. Qatar disebut-sebut dapat menjadi mediator dalam mekanisme alternatif pencairan dana. Namun, hingga kini belum ada titik terang. Rencana AS untuk menggunakan aset Iran sebagai kompensasi bagi negara Arab dinilai sebagai upaya mengalihkan tanggung jawab atas perang yang mereka mulai. Publik internasional pun menyoroti ironi di balik skema ini: AS yang memulai perang, Iran yang ‘diakali’ agar bayar kompensasi kerusakan di negara Arab.
Kesimpulannya, konflik ini menunjukkan kompleksitas geopolitik Timur Tengah di mana aktor-aktor saling tuding dan menggunakan aset sebagai alat negosiasi. Iran tetap pada pendiriannya bahwa mereka tidak akan membayar kompensasi atas kerusakan yang disebabkan oleh agresi AS dan Israel. Sementara itu, negara-negara Teluk terjebak di tengah pertempuran, menderita kerugian infrastruktur dan jiwa. Perdamaian masih jauh panggang dari api, dan nasib aset Iran menjadi salah satu kunci penyelesaian konflik.
Artikel ini dipublikasikan oleh Suara Pecari.
Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.












