Perang Iran Telan Biaya Rp 671,8 Triliun, Menhan AS Pete Hegseth Desak Tambahan Anggaran USD 87 Miliar
Pertaruhan Anggaran di Tengah Konflik Berkepanjangan
Suara Pecari, Amerika Serikat (AS) telah menggelontorkan dana sebesar USD 37,5 miliar atau setara Rp 671,8 triliun (kurs Rp 17.915 per dolar) untuk menghadapi perang melawan Iran sejak konflik memanas pada 28 Februari 2026. Angka ini diungkapkan oleh Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth, dalam sidang bersama Komite Alokasi Anggaran Senat pada Selasa (21/7/2026). Hegseth mencatat biaya tersebut meningkat hampir USD 8 miliar (Rp 143,3 triliun) dibanding estimasi terakhir pada Mei lalu. Dalam sidang yang menjadi penampilan perdananya di Capitol Hill, Hegseth mendesak parlemen untuk segera menyetujui tambahan dana sebesar USD 87 miliar, dengan alokasi sekitar USD 67 miliar untuk operasi militer di Timur Tengah.
Kronologi Konflik: Dari Gencatan Senjata Gagal hingga Serangan Beruntun
Permusuhan AS dan Iran mencapai puncaknya pada awal 2026. Berikut kronologi singkatnya:
- 28 Februari 2026: AS mengumumkan dimulainya operasi militer terhadap Iran, dipicu oleh serangan terhadap kapal tanker minyak AS di Teluk.
- April 2026: Gencatan senjata sementara disepakati setelah negosiasi alot. Namun, kesepakatan itu runtuh akibat pelanggaran dari kedua pihak.
- Pekan ketiga Juli 2026: AS melancarkan serangan udara selama 11 hari berturut-turut terhadap target di Iran. Teheran membalas dengan serangan rudal ke pangkalan AS di Irak dan Yordania.
- 21 Juli 2026: Sidang anggaran di Senat memicu perdebatan sengit seputar biaya perang.
Saat ini, ketegangan masih berlanjut dengan korban jiwa yang terus bertambah. Presiden Donald Trump melalui akun Truth Social menyebut perang ini telah menewaskan 18 personel AS. Pentagon pada Selasa mengumumkan kematian Sersan Michael Emmanuel Swinton di Irak dan Sersan Angel Rampersad di Yordania, serta dua personel lain yang tewas sebelumnya: Prajurit Pertama Isabella Gonzales dan Letnan Satu Tyler Feehan. Trump dijadwalkan menyambut peti jenazah mereka di pangkalan udara Delaware.
Rincian Anggaran dan Permintaan Tambahan
Berikut perbandingan biaya yang telah dikeluarkan dan permintaan baru:
| Item | Nilai (USD) | Nilai (IDR) |
|---|---|---|
| Biaya perang hingga Juli 2026 | 37,5 miliar | Rp 671,8 triliun |
| Kenaikan dari estimasi Mei 2026 | 8 miliar | Rp 143,3 triliun |
| Permintaan tambahan dana baru | 87 miliar | Rp 1.558,6 triliun |
| Alokasi untuk Timur Tengah | 67 miliar | Rp 1.200,5 triliun |
Permintaan ini muncul setelah Gedung Putih pada April lalu mengajukan anggaran Pentagon sebesar USD 1,5 triliun untuk tahun fiskal berikutnya—yang jika disetujui akan menjadi rekor tertinggi pengeluaran militer AS sepanjang sejarah modern.
Dampak dan Implikasi: Krisis Anggaran vs Kebutuhan Operasi
Hegseth memperingatkan bahwa tanpa tambahan dana, Pentagon akan menghadapi kekurangan serius yang mengancam kemampuan membayar personel militer, mengisi kembali peralatan, dan menjaga operasi. “Pelatihan bagi anggota militer saat ini dan di masa mendatang harus dipangkas,” ujarnya. Namun, Partai Demokrat menolak keras permintaan tersebut. Senator Patty Murray menyebutnya “tidak masuk akal,” sementara Senator Dick Durbin meminta Hegseth menjelaskan total biaya perang yang sebenarnya. Sumber Demokrat mengungkapkan bahwa biaya riil kemungkinan jauh lebih tinggi karena belum mencakup pembangunan kembali pangkalan militer yang rusak akibat serangan balasan Iran.
Implikasi dari perang ini meluas ke berbagai sektor:
- Ekonomi: Beban anggaran meningkat tajam di tengah defisit fiskal AS yang sudah besar. Biaya perang per hari diperkirakan mencapai USD 300 juta.
- Geopolitik: Ketegangan di Timur Tengah memicu lonjakan harga minyak dunia hingga 15% dalam sebulan terakhir, mengancam pemulihan ekonomi global.
- Sosial: Publik AS mulai menunjukkan kelelahan perang. Jajak pendapat CNN menunjukkan 55% warga menentang keterlibatan militer di Iran, terutama setelah korban jiwa berjatuhan.
Perdebatan Politik: Pertarungan di Senat
Sidang anggaran menjadi ajang adu argumen antara partai. Hegseth, mantan penyiar Fox News yang baru dilantik sebagai Menhan pada Juni 2026, berusaha meyakinkan anggota parlemen bahwa setiap dolar tambahan akan digunakan untuk “memperkuat perdamaian melalui kekuatan.” Trump pun mendukung dengan menyebut perang ini “terkendali dan tepat sasaran.” Namun, Demokrat mempertanyakan strategi keluar. “Berapa banyak lagi nyawa dan dolar yang harus dikorbankan?” sindir Durbin. Sementara itu, beberapa senator Republik moderat mulai ragu, menekankan perlunya solusi diplomatik di samping kekuatan militer.
Di sisi lain, Iran terus menunjukkan kemampuan militernya. Serangan balasan mereka menghancurkan dua pangkalan AS di Irak dan satu di Yordania, memaksa AS meningkatkan pertahanan udara. Analis militer memperkirakan Iran telah mengerahkan sistem rudal hipersonik yang belum bisa diintersep sempurna oleh pertahanan AS.
Penutup Naratif: Harga dari Perang Tak Berujung
Di tengah gemerincing uang dan deru pesawat tempur, satu hal menjadi jelas: perang dengan Iran tidak hanya menghabiskan triliunan rupiah, tetapi juga menguras energi diplomasi dan menumpuk duka di pangkalan Delaware. Saat Trump menunduk di hadapan peti jenazah para prajurit, pertanyaan menggantung di udara—apakah pengorbanan ini sebanding dengan perdamaian yang tak kunjung tiba? Sidang anggaran berikutnya akan menjadi penentu: apakah AS akan menggandakan investasi perang, atau berbalik arah menuju meja perundingan? Sementara itu, rakyat AS dan dunia menanti dengan napas tertahan.
Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial Suara Pecari.










