Iran Transfer Rp 133 Triliun Pendapatan Minyak ke Bank Sentral di Tengah Blokade AS

Iran Transfer Rp 133 Triliun Pendapatan Minyak ke Bank Sentral di Tengah Blokade AS

Suara Pecari – Iran telah mentransfer pendapatan sebesar 7,5 miliar dolar AS atau sekitar Rp 133 triliun dari penjualan minyak selama empat bulan pertama tahun kalender Iran ke bank sentral. Dana ini diperkirakan cukup untuk menutupi kebutuhan pengeluaran pemerintah dalam valuta asing pada periode Juli hingga Desember 2026.

Transfer dana tersebut dilaporkan oleh kantor berita semi-resmi Fars mengutip Kementerian Perminyakan Iran. Pendapatan minyak pada periode 21 Maret hingga 22 Juli 2026 mencapai 99 persen dari target yang diproyeksikan dalam anggaran negara untuk periode 21 Maret 2026 hingga 20 Maret 2027.

Penjualan Minyak Iran di Tengah Blokade

Penjualan minyak Iran terus berlanjut meskipun menghadapi blokade angkatan laut oleh Amerika Serikat. Menteri Perminyakan Iran, Mohsen Paknejad, menyatakan bahwa negara tersebut tetap dapat menjual minyak kepada pelanggan di luar perairan teritorialnya, meski volume penjualan menurun setelah blokade kembali diberlakukan.

Blokade ini telah mengganggu ekspor minyak dan perdagangan maritim Iran, khususnya di jalur strategis Selat Hormuz yang menjadi titik penting dalam konflik antara AS dan Iran. Selat ini merupakan jalur pengiriman energi global yang vital, dan saat ini menjadi fokus negosiasi antara Iran, Oman, dan Amerika Serikat.

Kesepakatan Iran dan Oman Mengenai Selat Hormuz

Baru-baru ini, Iran mengumumkan telah mencapai kesepakatan dengan Oman untuk berbagi pendapatan dari pengelolaan Selat Hormuz. Kesepakatan ini menunjukkan kemungkinan penerapan biaya transit bagi kapal yang melintasi selat tersebut, meskipun tarif resmi belum diumumkan.

Wakil Menteri Luar Negeri Iran, Kazem Gharibabadi, menyebutkan kapal akan memasuki Teluk Persia melalui perairan Iran dan keluar melalui koridor bersama yang melintasi perairan teritorial Oman dan Iran. Namun, masih belum jelas apakah Amerika Serikat akan menyetujui pengelolaan bersama Selat Hormuz ini, mengingat ketegangan geopolitik yang ada.

Konteks dan Dampak Ekonomi

Pendapatan minyak yang berhasil dikumpulkan Iran meski diblokade menunjukkan ketahanan ekonomi negara tersebut dalam menghadapi tekanan luar. Dana yang masuk ke bank sentral diharapkan dapat membantu pemerintah Iran memenuhi kebutuhan pengeluaran valuta asing selama paruh kedua tahun anggaran.

Namun, ketegangan di Selat Hormuz dan kebijakan blokade oleh AS masih menjadi tantangan utama bagi stabilitas ekspor minyak Iran. Kesepakatan dengan Oman merupakan salah satu langkah diplomasi untuk mengelola jalur strategis ini secara lebih efektif.

Harga minyak global pun mengalami fluktuasi terbatas terkait perkembangan ini, di mana harga minyak mentah Brent turun tipis ke level US$ 87,84 per barel dan West Texas Intermediate (WTI) turun ke US$ 82,23 per barel pada penutupan perdagangan terakhir.

Dengan situasi geopolitik yang dinamis dan negosiasi yang masih berlangsung, masa depan ekspor minyak Iran dan pengelolaan Selat Hormuz akan terus menjadi perhatian utama dalam perekonomian dan keamanan regional.

Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial Suara Pecari.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *