Arab Saudi Luncurkan 450 Serangan Udara ke Houthi, 7 Wilayah Yaman Hancur
Suara Pecari – Koalisi Arab Saudi melancarkan sekitar 450 serangan udara ke tujuh wilayah di Yaman dalam waktu satu pekan, menandai eskalasi signifikan dalam konflik yang melibatkan kelompok Houthi. Serangan tersebut menyasar berbagai provinsi termasuk Taiz, Lahj, al-Jawf, Hajjah, Marib, Sadah, dan al-Bayda, menyebabkan kerusakan parah dan korban sipil.
Milisi Houthi, yang dinilai semakin kuat setelah bertahun-tahun perang dan memiliki berbagai rudal balistik, mengklaim berhasil menjatuhkan satu pesawat tempur Arab Saudi serta mencegat dua jet F-15 yang tengah mencari puing-puing armada mereka. Juru bicara militer Houthi, Yahya Saree, menegaskan bahwa kelompoknya siap membalas setiap serangan dan berkomitmen menjaga kedaulatan wilayah udara mereka dengan segala sarana yang tersedia.
Konflik yang Makin Memanas
Dalam 24 jam terakhir, Houthi melaporkan 58 serangan udara dari Arab Saudi, khususnya di area Saada, basis pertahanan utama mereka. Selain itu, serangan juga terjadi di pasar dan distrik perbatasan, menimbulkan dampak pada penduduk sipil. Koalisi Saudi menyatakan serangan tersebut sebagai dukungan kepada pasukan pemerintah Yaman untuk merebut kembali wilayah yang dikuasai Houthi.
Perang ini memanas kembali setelah beberapa tahun ketenangan pasca gencatan senjata pada 2022. Pertempuran terbaru ini juga diwarnai oleh blokade laut yang diberlakukan Houthi terhadap Saudi dan penargetan kapal-kapal di Laut Merah. Kontrol Houthi atas wilayah pesisir Yaman di tepi Laut Merah memperkuat posisi mereka di Selat Bab al-Mandeb, jalur strategis penting bagi jalur ekspor minyak Saudi, terutama karena Selat Hormuz yang masih diblokade Iran.
Dampak dan Implikasi Regional
Eskalasi serangan udara ini tidak hanya memperburuk situasi kemanusiaan di Yaman tetapi juga memicu kekhawatiran di kawasan Teluk. Ekspansi Houthi di Laut Merah mendorong negara-negara Teluk untuk mempertimbangkan diplomasi langsung dengan Iran sebagai upaya menjaga stabilitas ekonomi dan keamanan regional.
Konflik yang berlarut-larut ini berpotensi mengganggu jalur perdagangan dan pasokan energi global, mengingat pentingnya Selat Bab al-Mandeb sebagai gerbang masuk Laut Merah.
Situasi di Yaman tetap sangat dinamis, dengan kedua belah pihak menunjukkan kesiapan untuk melanjutkan pertempuran udara dan darat. Perkembangan ini menjadi perhatian internasional terkait upaya penyelesaian konflik yang telah menimbulkan krisis kemanusiaan dan ketidakstabilan di kawasan.
Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial Suara Pecari.










