Menlu Iran ke Beijing, AS Tolak Dukungan Udara Arab Saudi Lawan Houthi
Suara Pecari – Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, dijadwalkan mengunjungi Beijing pada 16 September 2026 untuk bertemu dengan Menteri Luar Negeri China, Wang Yi. Pertemuan ini berlangsung di tengah upaya diplomasi China yang mendorong penyelesaian damai konflik di Timur Tengah.
Dalam waktu yang bersamaan, Amerika Serikat menolak memberikan dukungan udara kepada Arab Saudi dalam konflik melawan gerakan Houthi di Yaman. Penolakan ini berkaitan dengan fokus AS yang lebih mengutamakan perangnya dengan Iran.
Diplomasi Iran-China dan Peran Beijing di Timur Tengah
Kunjungan Araghchi ke Beijing menegaskan posisi China sebagai mediator penting dalam konflik Timur Tengah. China memiliki hubungan politik dan ekonomi yang erat dengan Iran serta berkepentingan menjaga stabilitas jalur perdagangan energi di kawasan tersebut. Beijing secara konsisten menyerukan penghentian pertempuran dan penyelesaian melalui dialog.
Kunjungan ini juga terjadi menjelang kemungkinan pertemuan antara Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping pada 24 September 2026. Di tengah hubungan yang kompleks antara China dan Iran, Washington menanggapi tudingan bantuan militer Beijing kepada Teheran dengan bantahan resmi.
Biaya Perang dan Tekanan pada Persediaan Militer AS
Laporan terbaru dari Kantor Inspektur Jenderal Departemen Pertahanan AS mengungkapkan tingginya biaya yang harus ditanggung Amerika Serikat dalam operasi militer melawan Iran. Operation Epic Fury, operasi yang berlangsung hingga 30 Juni 2026, diperkirakan menghabiskan dana sebesar 33,4 miliar dolar AS, dengan 22,3 miliar dolar AS di antaranya digunakan untuk amunisi.
Penggunaan amunisi yang besar menyebabkan kekurangan inventaris strategis dan menunjukkan keterbatasan kemampuan industri pertahanan AS dalam memasok kembali persediaan tersebut.
AS Tolak Dukungan Udara untuk Arab Saudi Melawan Houthi
Amerika Serikat menolak permintaan Arab Saudi untuk dukungan udara dalam melawan Houthi di Yaman. Washington mengutamakan fokus pada perang melawan Iran sehingga tidak bersedia melakukan intervensi udara di Yaman.
Meskipun AS menolak dukungan udara, hubungan antara Washington dan Riyadh tetap terjalin, termasuk pengiriman lebih dari 100 penasihat militer AS ke Arab Saudi untuk membantu kampanye melawan Houthi.
Konflik di Yaman meningkat setelah serangan terhadap Bandara Sana’a pada Juli 2026 yang menargetkan pesawat yang membawa delegasi Houthi dari Iran. Houthi menyatakan perang terhadap Arab Saudi dan memperkuat kontrol atas wilayah pesisir Laut Merah, termasuk pelabuhan penting Mokha serta wilayah di dekat Selat Bab el-Mandeb.
Konteks Geopolitik dan Dampak Regional
Konflik antara Arab Saudi dan Houthi merupakan bagian dari persaingan yang lebih luas di Timur Tengah, di mana Iran dan sekutunya mendukung Houthi, sementara Arab Saudi mendapat dukungan dari beberapa negara Barat. Penolakan AS terhadap dukungan udara untuk Arab Saudi menunjukkan pergeseran fokus kebijakan luar negeri AS di kawasan yang tengah menyoroti dinamika hubungan antara Washington, Teheran, dan Beijing.
Diplomasi aktif China dan laporan biaya besar yang dihadapi AS dalam konflik ini menandai kompleksitas dan ketegangan yang terus berlangsung di Timur Tengah, dengan dampak signifikan terhadap stabilitas regional dan jalur perdagangan energi global.
Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial Suara Pecari.










